2
Poor Old Man
Posted by Desi
on
1:45 PM
Laki-laki tua lebih menakutkan dibandingkan dengan orang muda. Itu kesimpulanku setelah melihat berbagai karakter selama perjalanan pulang pergi ke kampus dengan kendaraan umum.
Kejadian pagi kemaren ketika berangkat ke kampus. Aku naik bis kota yg isinya masih kosong. Ketika bis datang, beberapa calon penumpang, termasuk aku, yg sedang menunggu bis langsung naik. Waktu itu yg naik berbarengan seingatku ada 4 orang, semuanya laki-laki kecuali aku. Karena kondisi bis masih kosong, kami bebas memilih tempat duduk. Yang naik di depanku adalah seorang laki-laki tua, badannya kurus ceking, kulitnya hitam dan rambut putih keriting. Saat itu dia seperti ragu-ragu hendak duduk di barisan kedua di belakang sopir, sebelum akhirnya memilih barisan dibelakangnya. Karena si bapak tdk jadi duduk di barisan kedua, aku langsung ambil tempat itu. Aku duduk di pinggir sebelah kiri (kalau teman-teman bisa bayangkan kondisi dalam bis, berarti di dekat lorong di tengah antar bagian kiri dan kanan, bukan dekat jendela). Berarti sebelah kananku kosong. Jika ada yg ingin duduk di sampingku, aku hrs geser ke kanan.
Setelah bis jalan beberapa saat, aku geser duduk ke kanan, sehingga kursi di kiriku (tepat di sebelahku) kosong. Tiba-tiba si bapak tadi pindah dan duduk di sampingku. Awalnya aku pikir dia pindah ke sana spy bisa cepat turun, sebab barisan itu sejajar dengan pintu. Tidak ada pikiran lain. Namun selang beberapa saat, ketika aku mengatur posisi duduk, dan agak geser ke kanan, si bapak malah ikut geser duduknya ke kanan, rapat dengan diriku. Tiba-tiba saja sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling bis terpikir olehku, ini bis kota masih kosong, belum banyak penumpang dan masih banyak kursi kosong, biasanya orang akan memilih untuk duduk sendiri-sendiri, tapi kenapa si bapak ini milih untuk duduk di sampingku. Aku coba lagi geser duduk ke kanan, dan lagi-lagi si bapak itu geser ke kanan.
Belum jauh melaju, sekitar dekat jalan Kartini, bis nya mogok. Setelah si sopir mencoba menghidupkan mesin, ternyata masih tidak bisa jalan. Untung ada bis lain datang dan semua penumpang dipindahkan ke bis tersebut. Saat hendak naik ke bis yg satu lagi, aku sengaja memilih untuk naik terakhir. Sebenarnya si bapak tadi bermaksud membiarkan aku yg naik duluan, tapi aku pura-pura seolah ingin memberikan kesempatan padanya untuk naik duluan. Akhirnya dia naik duluan. Saat sdh di dalam, aku biarkan si bpk itu memilih tempat duduk duluan. Saat memilih tempat duduk, dia melihat ke arahku, sptnya ingin tau aku akan duduk di mana.
Si bapak mengambil tempat duduk di barisan ketiga di belakang sopir. Kebetulan di barisan kedua sebelah kiri sopir masih kosong, aku langsung ambil barisan kedua dan duduk di pinggir sebelah kanan, tidak di samping jendela. Tiba-tiba si bapak itu pindah dan spt mau duduk di sebelahku. Aku diam saja duduk di pinggir itu dan tidak memberi dia peluang untuk duduk di sampingku. Akhirnya karena bis sdh jalan, dan tubuhnya tidak kuat menahan goncangan bis, terpaksa dia duduk di depanku di samping sopir. Ternyata pikiranku ttg dia benar.
Lalu ada penumpang yg mau naik, seorang gadis muda. Melihat itu, si bapak langsung pindah ke belakang. Aku hanya membatin melihat tingkah bapak tua itu. Posisi dudukku tetap di pinggir kanan, hingga akhirnya ada seorang ibu-ibu yg baru naik menyuruhku geser ke dalam sehingga dia bisa duduk. Lega karena ada yg duduk disebelahku, sehingga menutup kemungkinan bagi si bapak tadi untuk duduk di sampingku. Dalam hati hendak bertanya pada ibu yg ada di sebelah, dia akan turun dimana. Jangan-jangan dia turun lebih cepat sehingga tempat duduk itu akan kosong dan memberikan peluang bagi bapak yg aneh tadi untuk duduk. Jika aku geser lagi ke pinggir, akan keliatan sptnya aku pelit ngasih tempat duduk untuk orang lain.
Dan ternyata firasatku benar kalau si ibu disebelahku turun lebih cepat. Ketika si ibu ini turun, aku mulai cemas, bgmn caranya spy si bapak tadi tdk pindah dan duduk di sebelahku. Aku letakkan tangan di kursi kosong itu seolah-olah menghalangi orang lain untuk duduk disana.
Syukur Alhamdulillah, saat si ibu turun, ada penumpang lain rombongan ibu-ibu yg naik. Dan saat penumpang baru ini naik, aku melihat si bapak tadi sdh berdiri dan hendak maju untuk duduk di kursi sebelahku. Untung saja dari rombongan ibu-ibu yg baru naik ini ada yg berseru untuk memberikan tempat duduk di sebelahku kepada seorang ibu tua. Sepertinya tempat duduk lain yg kosong ada di belakang, sehingga kalau harus berjalan ke belakang dalam kondisi bis sdh jalan, tubuhnya tidak akan kuat menahan goncangan bis.
Dan aku dengan segera menyambut tangan si ibu yg mau duduk ini, membantu beliau untuk duduk, walaupun sebenarnya tidak perlu karena beliau masih kuat untuk duduk sendiri. Sebenarnya gerakan itu aku lakukan juga dengan tujuan spy si ibu cepat duduk sebelum kursi diambil orang lain. Dalam hati aku tertawa menang karena si bpk yg aneh itu berhasil aku kerjai. Dan semakin lega saat sampai di pasar pagi Arengka, akhirnya dia turun.
Aku pernah dengar kalau laki-laki itu memiliki beberapa kali masa pubertas. Dan sepertinya si bapak ini sedang berada dalam masa pubertasnya yg kesekian. Harusnya dia bisa mengatasinya, apalagi dia tdk muda lagi. Mungkin karena kekuatan rohaninya lemah sehingga menjadi spt itu. Pengalaman tentang laki-laki tua yg bertingkah aneh bukan kali ini saja aku alami karena kalau bepergian aku menggunakan kendaraan umum, sehingga banyak yg dilihat dan dialami.
Selama ini kita berpikir kalau orang muda lebih berbahaya karena mereka masih dalam masa transisi, pengendalian diri masih rendah. Tapi ternyata tidak selamanya hal itu benar. Karena ternyata orang tua lebih menakutkan dibanding dengan orang muda, harus lebih waspada.
Kejadian pagi kemaren ketika berangkat ke kampus. Aku naik bis kota yg isinya masih kosong. Ketika bis datang, beberapa calon penumpang, termasuk aku, yg sedang menunggu bis langsung naik. Waktu itu yg naik berbarengan seingatku ada 4 orang, semuanya laki-laki kecuali aku. Karena kondisi bis masih kosong, kami bebas memilih tempat duduk. Yang naik di depanku adalah seorang laki-laki tua, badannya kurus ceking, kulitnya hitam dan rambut putih keriting. Saat itu dia seperti ragu-ragu hendak duduk di barisan kedua di belakang sopir, sebelum akhirnya memilih barisan dibelakangnya. Karena si bapak tdk jadi duduk di barisan kedua, aku langsung ambil tempat itu. Aku duduk di pinggir sebelah kiri (kalau teman-teman bisa bayangkan kondisi dalam bis, berarti di dekat lorong di tengah antar bagian kiri dan kanan, bukan dekat jendela). Berarti sebelah kananku kosong. Jika ada yg ingin duduk di sampingku, aku hrs geser ke kanan.
Setelah bis jalan beberapa saat, aku geser duduk ke kanan, sehingga kursi di kiriku (tepat di sebelahku) kosong. Tiba-tiba si bapak tadi pindah dan duduk di sampingku. Awalnya aku pikir dia pindah ke sana spy bisa cepat turun, sebab barisan itu sejajar dengan pintu. Tidak ada pikiran lain. Namun selang beberapa saat, ketika aku mengatur posisi duduk, dan agak geser ke kanan, si bapak malah ikut geser duduknya ke kanan, rapat dengan diriku. Tiba-tiba saja sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling bis terpikir olehku, ini bis kota masih kosong, belum banyak penumpang dan masih banyak kursi kosong, biasanya orang akan memilih untuk duduk sendiri-sendiri, tapi kenapa si bapak ini milih untuk duduk di sampingku. Aku coba lagi geser duduk ke kanan, dan lagi-lagi si bapak itu geser ke kanan.
Belum jauh melaju, sekitar dekat jalan Kartini, bis nya mogok. Setelah si sopir mencoba menghidupkan mesin, ternyata masih tidak bisa jalan. Untung ada bis lain datang dan semua penumpang dipindahkan ke bis tersebut. Saat hendak naik ke bis yg satu lagi, aku sengaja memilih untuk naik terakhir. Sebenarnya si bapak tadi bermaksud membiarkan aku yg naik duluan, tapi aku pura-pura seolah ingin memberikan kesempatan padanya untuk naik duluan. Akhirnya dia naik duluan. Saat sdh di dalam, aku biarkan si bpk itu memilih tempat duduk duluan. Saat memilih tempat duduk, dia melihat ke arahku, sptnya ingin tau aku akan duduk di mana.
Si bapak mengambil tempat duduk di barisan ketiga di belakang sopir. Kebetulan di barisan kedua sebelah kiri sopir masih kosong, aku langsung ambil barisan kedua dan duduk di pinggir sebelah kanan, tidak di samping jendela. Tiba-tiba si bapak itu pindah dan spt mau duduk di sebelahku. Aku diam saja duduk di pinggir itu dan tidak memberi dia peluang untuk duduk di sampingku. Akhirnya karena bis sdh jalan, dan tubuhnya tidak kuat menahan goncangan bis, terpaksa dia duduk di depanku di samping sopir. Ternyata pikiranku ttg dia benar.
Lalu ada penumpang yg mau naik, seorang gadis muda. Melihat itu, si bapak langsung pindah ke belakang. Aku hanya membatin melihat tingkah bapak tua itu. Posisi dudukku tetap di pinggir kanan, hingga akhirnya ada seorang ibu-ibu yg baru naik menyuruhku geser ke dalam sehingga dia bisa duduk. Lega karena ada yg duduk disebelahku, sehingga menutup kemungkinan bagi si bapak tadi untuk duduk di sampingku. Dalam hati hendak bertanya pada ibu yg ada di sebelah, dia akan turun dimana. Jangan-jangan dia turun lebih cepat sehingga tempat duduk itu akan kosong dan memberikan peluang bagi bapak yg aneh tadi untuk duduk. Jika aku geser lagi ke pinggir, akan keliatan sptnya aku pelit ngasih tempat duduk untuk orang lain.
Dan ternyata firasatku benar kalau si ibu disebelahku turun lebih cepat. Ketika si ibu ini turun, aku mulai cemas, bgmn caranya spy si bapak tadi tdk pindah dan duduk di sebelahku. Aku letakkan tangan di kursi kosong itu seolah-olah menghalangi orang lain untuk duduk disana.
Syukur Alhamdulillah, saat si ibu turun, ada penumpang lain rombongan ibu-ibu yg naik. Dan saat penumpang baru ini naik, aku melihat si bapak tadi sdh berdiri dan hendak maju untuk duduk di kursi sebelahku. Untung saja dari rombongan ibu-ibu yg baru naik ini ada yg berseru untuk memberikan tempat duduk di sebelahku kepada seorang ibu tua. Sepertinya tempat duduk lain yg kosong ada di belakang, sehingga kalau harus berjalan ke belakang dalam kondisi bis sdh jalan, tubuhnya tidak akan kuat menahan goncangan bis.
Dan aku dengan segera menyambut tangan si ibu yg mau duduk ini, membantu beliau untuk duduk, walaupun sebenarnya tidak perlu karena beliau masih kuat untuk duduk sendiri. Sebenarnya gerakan itu aku lakukan juga dengan tujuan spy si ibu cepat duduk sebelum kursi diambil orang lain. Dalam hati aku tertawa menang karena si bpk yg aneh itu berhasil aku kerjai. Dan semakin lega saat sampai di pasar pagi Arengka, akhirnya dia turun.
Aku pernah dengar kalau laki-laki itu memiliki beberapa kali masa pubertas. Dan sepertinya si bapak ini sedang berada dalam masa pubertasnya yg kesekian. Harusnya dia bisa mengatasinya, apalagi dia tdk muda lagi. Mungkin karena kekuatan rohaninya lemah sehingga menjadi spt itu. Pengalaman tentang laki-laki tua yg bertingkah aneh bukan kali ini saja aku alami karena kalau bepergian aku menggunakan kendaraan umum, sehingga banyak yg dilihat dan dialami.
Selama ini kita berpikir kalau orang muda lebih berbahaya karena mereka masih dalam masa transisi, pengendalian diri masih rendah. Tapi ternyata tidak selamanya hal itu benar. Karena ternyata orang tua lebih menakutkan dibanding dengan orang muda, harus lebih waspada.

