0

Makan Tanpa Pantangan

Posted by Desi on 8:27 AM
Betapa ingin seperti orang lain, tidak masalah jika harus terlambat makan. Perut tidak berontak perih atau kembung ketika makan yg sedikit asam, pedas atau keras. Tidak apa-apa ketika tidak harus makan malam. Tidak apa-apa ketika makan malam bukan nasi, tapi diganti dg makanan lain dan tidak harus menanggung sesak nafas atau asam lambung sampai ke kerongkongan. Tidak harus memilih sayur atau buah yg sekiranya dapat menaikkan asam lambung. Tidak apa-apa makan makanan jenis apapun.

Betapa ingin fleksibel spt orang lain masalah makanan tanpa harus khawatir dg masalah mag...

0

Terbaik Menurut Allah

Posted by Desi on 11:44 AM
Allah lah yang tau yg terbaik untuk setiap ciptaan Nya. Ketika kita berkata, ini lah yg terbaik untuk kita, terlepas dari apapun hal nya, belum tentu itu yg terbaik. Sehingga Allah akan mementahkan lagi kata-kata kita, karena Dia lah yg berhak menentukan dan mengatakan mana yg terbaik dan mana yg tidak untuk setiap ciptaan Nya. Sehingga kita kembali tersadar bahwa penguasa diri ini hanyalah Allah, bukan kita. Dan apapun yg kita alami saat ini, itulah yg terbaik menurut Allah untuk saat ini. Dan setiap detik kehidupan yg kita jalani, ada hikmah dan pelajaran yg tersirat.

Apapun yg aku jalani saat ini, adalah bekal untuk kehidupanku esok hari, esok harinya lagi, esok harinya lagi, lagi dan terus yg ujungnya berakhir di kehidupan akhirat.

6

A Gift

Posted by Desi on 9:34 AM
Dulu ketika teman-teman dekatku menikah, aku dan teman2 yg lainnya sepakat untuk memberikan kado cincin dengan mengukirkan inisial setiap nama kami dibaliknya. Ketika yang single semakin berkurang, akhirnya kebiasan memberi cincin ini mulai hilang, karena yg iuran semakin berkurang. Akhirnya karena sendiri tidak sanggup lagi membelikan cincin. Namun kado cincin ini masih aku usahakan untuk teman2 terdekat meskipun bukan sebagai kado pernikahan. Aku memberikan kado berupa cincin untuk sahabat2 yg sdh kuanggap sebagai saudara sendiri ketika mereka pergi pindah ke tempat lain. Pemilihan kado cincin ini bukan karena melihat nilainya, kadang cincin yg diberikan itu cuma 1 atau 2 gram, tergantung kesanggupan. Namun arti keberadaan cincin itu, semoga lebih awet dibanding memberikan kado berupa barang yg lain.

Kalau kuingat-ingat, selama ini aku memberikan cincin untuk orang lain.  Aku sendiri belum pernah menerima kado cincin dari seseorang. Namun hari jum'at kemaren aku begitu surprise ketika menerima kado dari mahasiswa2 bimbinganku. Mereka berempat iuran memberiku kado. Awal kulihat kotak kadonya tidak besar dan juga sangat ringan. Awalnya aku menebak isinya jilbab atau bros. Namun ketika aku membuka kotak itu, di dalamnya ada kotak kecil berwarna merah berbentuk hati dari beludru, apalagi kalau bukan kotak cincin. Benar-benar surprise. Tak pernah ada mahasiswa yg terpikir memberikan cincin sebagai ucapan terimakasih mereka ke dosen selama ini. Meskipun teman-teman dosen lain ada yg menerima kado yg jauh lebih mahal dari cincin itu harganya dari bimbingan mereka, namun menurutku cincin ini sangat special.

Saat mereka memberikan kado itu mereka selalu mengatakan "bu jangan dilihat dari harganya ya, ini memang tidak seberapa". Ketika isinya sdh ku ketahui kalau itu cincin, mereka kembali mengulang perkataan yg sama dengan menambahkan "kami berharap ibu selalu ingat kami dengan selalu memakai cincin ini, lagi ngajar ibu mengangkat tangan dan melihat cincin ini, ibu ingat kami. Terimakasih kami karena ibu sdh menemani kami berjuang dan memperjuangkan kami". Aku benar2 spechless, sebelumnya belum ada mhsw yg berkata seperti itu. Aku cuma bisa bilang terimakasih dan tak bisa lagi kutahan, aku menangis di depan mereka.

Kebahagiaan menjadi seorang dosen ketika melihat anak-anak didiknya sukses dalam hal apapun. Ada perasaan bahagia ketika mereka datang berkunjung meskipun mereka tidak bekerja di perusahaan besar. Tapi kunjungan mereka menunjukkan betapa kita masih dalam ingatan mereka.

9

Keberanian

Posted by Desi on 4:17 PM
Setiap kali ada seorang teman yang  berkata kepadaku untuk tidak meningkatkan kualifikasi diriku lagi, dengan alasan nanti laki-laki takut denganku. Aku selalu menjawab, berarti orang yg takut denganku bukanlah jodohku.

Sebaliknya, ketika aku juga tidak berani untuk mencoba, ketika ada seseorang yg menurutku baik, tapi aku tidak punya keberanian untuk mencoba mencari tau apakah dia jodohku atau bukan, maka itu tandanya aku bukanlah jodohnya dia.


0

1%

Posted by Desi on 4:12 PM
Pernah membaca sebuah kalimat bijak, "hidup itu adalah kesempatan, maka ambilah kesempatan itu". Ketika aku tidak mencoba untuk mengambil kesempatan itu, berarti aku tidak akan pernah mendapatkannya. Namun seandainya aku mengambil kesempatan itu, terserah apapun hasilnya nanti, setidaknya aku mempunyai peluang meskipun 1% untuk mendapatkannya.

Ya Rabb, saat ini aku mencoba mengambil kesempatan yg meskipun cuma 1%, apapun hasilnya, mohon sabarkan, ikhlaskan dan berikan kemampuan bersyukur pada diri ini.

0

Lalai

Posted by Desi on 9:28 AM
Ya Allah, ampuni hamba Ya Rabb.. Hamba telah lalai.

Pagi ini anak kunci di lobang kunci pintu kost tdk bisa dicabut, pintu dalam kondisi terkunci dan tdk bisa dibuka. Panik harus diapakan dg pintunya. padahal sdh harus buru2 berangkat ke kampus. Akhirnya kutinggal anak kunci itu di pintu, kunci2 lain yg berada dalam satu gantungan dengan anak kunci itu aku lepas supaya tdk mencolok. Berdoa semoga Allah menjaganya untuk kami. Biarlah diakali saat pulang kerja nanti, apa harus dibongkar atau diapakan.

Lalu ketika buka laptop di kampus, file tesis tdk bisa dibuka. Respon setiap perintah sangat lambat. Copy file pun tdk bisa. Ternyata laptopku kena virus. Padahal file2 tesis tdk ada back up nya. Mau nangis tapi air mata tdk keluar, karena sadar itu kelalaianku tdk buat back up. Sekarang laptop sedang di instal ulang, semoga masih bisa diselamatkan. Jika tdk, kandas harapan bisa selesai semester ini.

Ya Allah, jika ini salah satu teguran Mu, hamba mohon ampuni hamba karena telah berbuat salah. Tanpa pertolongan Mu, apapun yg hamba lakukan tidak akan berjalan dengan baik. Mohon kemudahan bagi hamba dalam menjalani semuanya Ya Rabb, amiin.

0

Allah Menjawab

Posted by Desi on 1:00 PM
Aku percaya dan sangat yakin bahwa Allah selalu menjawab setiap pertanyaan dan setiap permintaan hamba-hamba Nya. Namun cara Allah menjawab berbeda-beda dan unik. Kadang sangat jelas, kadang tersirat, kadang langsung, dan kadang tidak langsung. Seperti ketika kita bertanya pada orang tua, beliau kadang menjawab dengan ya, kadang tidak, kadang dengan penjelasan dan kita sendiri yang menafsirkannya. Seperti itu juga Allah, menjawab dengan cara yang mengajak kita untuk berpikir. Karena oOrang-orang yang berpikir yang dapat membaca tanda-tanda dan meyakini kebesaran Allah.

2

Best Ending

Posted by Desi on 3:11 PM
Ya Allah, jiwa baik itu telah Engkau panggil untuk kembali pulang. Begitu bahagianya jiwa itu pulang. Ratusan orang menangisi kepergiannya. Sedangkan jiwa itu sendiri pulang dengan tenang, bahagia, terbang menuju Mu, ke dalam pelukan Mu. Engkau menerima jiwa itu bersatu dengan Mu dengan penuh suka cita. Ya Allah begitu harapnya hamba untuk mendapatkan akhir seperti itu. Orang-orang menangisi kepergian hamba dan Engkau menyambut hamba dengan penuh kegembiraan. Namun diri ini masih jauh dari kebaikan yang melayakkan hamba untuk  mendapatkan anugerah seperti itu. Ya Allah...

0

Careless

Posted by Desi on 12:08 PM
Entah apa yg terjadi pada diriku. Sejak kemaren, aku menjadi orang yang ceroboh. Pulang dari kerja kemaren, sdh sampai setengah jalan, aku terpaksa harus balik lagi karena lauk yg ku beli untuk makan malam tinggal di ruangan. Lalu di rumah saat mau mengambil hp, terasa licin dan hp itu jatuh dengan terbanting sangat keras hingga baterainya lepas. Lalu madi tadi pagi, dua kali aku menjadtuhkan sabun yg terletak di pinggir bak mandi karena tersenggol gayung. Lalu tadi pagi lagi-lagi aku menjatuhkan dompet hp yg membuat casing belakangnya lepas lagi. Dan berkali-kali menjatuhkan kunci.

Aku bukan orang yg ceroboh. Aku selalu berhati-hati dengan setiap gerakanku. Kalau dalam istilah orang minang "indak pa macah". Artinya bukan orang yg ceroboh. Kadang ada orang yg sedikit saja lepas dari tangannya, barang itu langsung rusak atau pecah, biasanya kejadian ini terlihat waktu mencuci piring. Kalau aku malah tidak pernah memecahkan piring atau gelas waktu mencucinya. Walaupun jatuh dari tangan, piring atau gelas itu tetap tidak apa2. Tapi entah kenapa sejak kemaren aku spt blank. Aku tidak tau apa yg terjadi pada diri ini. Bukan aku parno, tapi biasanya ketika aku ceroboh, ada saja kejadian buruk yg terjadi. Bukan pada diriku, tapi pada orang-orang terdekatku. Bukan pula bermaksud menghubungkan dengan hal-hal yg bersifat mistis. Semoga ini hanya kecerobohan biasa yg tidak berarti.

Tambahan, hari ini ketika menuju ruangan kelas, aku baru menyadari kalau jilbab yg aku pakai terbalik. Meskipun dari segi motif tidak masalah, sama saja depan dan belakang, tapi dari lipatan jahit di pinggirnya menunjukkan kalau jilbabku terbalik.

0

Anak Jaman Sekarang?

Posted by Desi on 4:10 PM
Ketika tidak setuju dengan tingkah laku anak-anak atau pun mahasiswa yang kita lihat atau kita dengar, kita spontan mengeluarkan kata-kata "dasar anak-anak jaman sekarang". Memangnya kita anak jaman kapan ya? hehe.. Aku sendiri juga kadang mengeluarkan kata-kata itu, namun belakang sdh mulai berkurang. Aku mulai mengontrol kata-kata ku sendiri, termasuk salah satunya kalimat tersebut.

Terhadap mahasiswaku sendiri juga aku masih sering geleng-geleng kepala melihat tingkah mereka yang tidak memperhatikan lagi sopan santun, etika dan akhlak yang baik. gemes melihat mereka begitu.  Kadang ketika masuk ke kelas, aku masih suka mengingatkan mereka. Namun kan tidak akan setiap waktu kita melakukan hal itu. Mereka juga harus belajar mengerti kondisi dan bersikap. Kalau diingatkan terus mereka akan merasa dianggap spt anak2. Tapi kenyataannya memang begitu, mereka masih bertingkah seperti anak-anak. Kadang aku tidak habis pikir, apa di rumah mereka tidak dididik oleh orang tuanya? Kalau pertanyaan itu terus aku pikirkan, berarti aku berprasangka negatif pada orang tua mereka.

Ketika kita tidak menyukai perilaku orang-orang muda tersebut, maka kita harus berusaha agar anak kita tidak spt itu. Agar anak kita berakhlak baik, berarti kita sebagai orang tua harus bisa menjadi contoh bagi mereka. Untuk bisa menjadi contoh bagi mereka, berarti kita juga harus berakhlak baik. Aku sampai saat ini selalu memegang suatu kalimat bijak yang pernah aku baca di FB teman yg intinya spt ini "selama ini kita selalu berpikir untuk meninggalkan bumi yang lebih baik untuk anak cucu kita, tapi kenapa kita tidak berusaha untuk meninggalkan anak cucu atau generasi yang lebih baik untuk bumi atau kehidupan yang lebih baik".

Untuk bisa mengimplementasikan kalimat bijak tersebut, tentu harus mulai dari diri sendiri, terutama sebagai orang tua, pendidik, dan pemimpin. Memang aku belum menjadi orang tua yg sesungguhnya, sehingga belum merasakan bagaimana sulit dan beratnya mendidik seorang anak dan  merasa idealis dengan kalimat tersebut. Entah bagaimana nanti kalau aku dihadapkan pada kehidupan sebagai orang tua yg riil. Semoga Allah menuntun hati, lisan, tangan, kaki dan seluruh inderaku untuk menjadi orang tua yg berakhlak baik dan menurunkan generasi2 yg berakhlak baik juga. Amin Ya Allah...

2

Cita-cita Baru

Posted by Desi on 11:23 AM
Semalam aku terpikir dengan  ide2 baru, aku ingin punya toko bunga. Sepertinya menyenangkan dikelilingi dengan bunga-bunga segar nan cantik, merangkainya dengan sepenuh hati sehingga terlihat indah, dan orang-orang yang membelinya menerima dengan bahagia.

Aku juga pengen banget bisa masak, main course, desert, maupun appetise nya. Dua hari ini rajin nyari2 resep berbakai masakan, cake, dan pudding. Keahlian masak bisa digunakan untuk diri sendiri, keluarga, juga bisa jadi sumber uang masuk, apalgi aku suka makan, hehe..

Satu lagi, aku pengen bisa menjahit, ingin bikin baju sendiri. Selama ini yg jahit bajuku adalah sang mama. Pernah coba jahit baju di luaran, tapi belum ada yg cocok. Kalau beli baju jadi sering ga cocok, karena harus dipermak lagi. Lagian harga baju sekarang mahal2, padahal modelnya simple, mama ku sendiri bisa bikin yg spt itu. Tapi kan tidak mungkin selamanya aku mengandalkan mama. Kepikiran ingin belajar dari mama, tapi tdk ada waktu luang. Kl pulang ke padang cuma sebentar, satu atau dua hari. Dan itu pun sdh penuh dengan kegiatan pekerjaan rumah.

Seandainya aku tidak bekerja di kantoran, tp di rumah saja, mungkin hal2 ini bisa aku sempatkan. Tapi itu kan perkiraanku saja. Kl ga kerja, uangnya dari mana untuk ngerjain semuanya itu :(. Dan jika di rumah saja, blm tentu juga aku dalam kondisi yg bisa mengerjakan semuanya itu.

Berharap semoga Allah mewujudkan mimpi-mimpiku untuk punya toko bunga, pintar masak dan menjahit. Amiin Ya Allah...

1

Waktu Terus Berjalan

Posted by Desi on 10:39 AM
Sudah 6,5 tahun aku mengabdikan diri di institusi ini. Mahasiswa silih berganti, yang lama tamat dan yang baru masuk. Begitu juga dengan rekan kerja, semua datang silih berganti. Semakin lama aku disini, semakin jauh jarak usia antara aku dan mahasiswaku. Berbeda sekali dengan waktu baru masuk dulu, jarak usia kami tidak terlalu terpaut jauh.Semakin jauhnya perbedaan, semakin tidak bisa lagi menggunakan pendekatan yang sama. Sebab cara pandang dan kedewasaan semakin bertambah, sementara mereka masih begitu muda.

Begitu juga dengan rekan kerja dan lingkungan kerja. Butuh penyesuaian dengan kondisi yg ada saat ini. Mereka yg masuk juga usianya jauh lebih muda. Kalau dulu aku taunya orang baru yang menyesuaikan diri dengan lingkungan yg ada. Namun sepertinya sekarang tidak berlaku hal seperti itu. Kita yg orang lama harus menyesuaikan diri dg orang baru.

Seiring dengan berjalannya waktu, institusi ini juga mengalami perkembangan menuju ke arah perbaikan. Perbaikan terutama terkait sistem yang berlaku. Namun kondisi yang lebih baik ini tidak diikuti dengan lingkungan yang membaik. Hal ini membuatku merindukan orang-orang lama yang berkualitas. Aku merindukan mereka berada di sini untuk mencetak generasi-generasi yang berkualitas. Bukan aku meremehkan rekan2 kerja baru, namun dalam segi perekrutan, sepertinya saat ini asal dapat orang yang mau bekerja, sementara kualitas tidak lagi terlalu dipentingkan. Sedangkan yang keluar selalu orang-orang dengan kualitas baik. Mungkin karena kualitas yang mereka miliki harusnya dimanfaatkan ditempat lain yang lebih baik dan lebih membutuhkan mereka, tdk lagi cocok dengan institusi sekecil ini.

Seorang teman berkata, kamu yg harus menyesuaikan diri dengan lingkungan sekarang. Nanti akan terlihat siapa yang tangguh dan bisa bertahan.

1

99 Cahaya di Langit Eropa

Posted by Desi on 8:59 AM
Saat ini aku sedang menuntaskan membaca buku ini, 99 Cahaya di Langit Eropa. Pengarangnya Hanum Salsabiela Rais dan suaminya. Hanum adalah puteri dari Bapak Amien Rais. Mungkin aku termasuk yg terlambat membaca buku ini. Tapi tidak ada salahnya berbagi hal yg aku dapatkan dari buku ini sekarang. Baca buku ini spt membaca DaVinci Code nya Islam. Membuatku ingin menjelajah Eropa untuk menapaki setiap jengkal sejarah islam yang tersimpan di sana. Aku merasa telah menelantarkan sejarah agamaku. Selama ini kita terlalu sibuk dengan kemajuan yg ada, tak pernah terpikir bahwa kemajuan dunia saat ini merupakan sumbangsih dan hasil perjuangan, pemikiran, pengorbanan para pahlawan islam.

Setuju dengan Hanum, perjalanannya ke Eropa dan menjelajahi sejarah islam di sana membuat dia jatuh cinta lagi dengan islam. Bagiku, meskipun hanya dengan membaca buku ini, tapi dengan gaya penulisan Hanum, membuatku spt berada di sana dan merasakan hal yg sama, aku jatuh cinta dengan islam.  Haru membaca buku ini, dan berdoa semoga Allah mengembalikan kejayaan islam, tidak hanya di Eropa tapi juga di belahan dunia lain.Amiin Ya Allah...

3

The Power of Insya Allah

Posted by Desi on 8:12 AM
Akhir-akhir ini aku sering berjanji pada orang lain terutama mahasiswa dan aku sering tidak tepat waktu untuk memenuhinya. Aku ingat-ingat lagi apa yg salah. Ternyata belakangan aku sering tidak mengiringi janjiku dengan kata-kata Insya Allah.

Lalu aku coba menguji, apakah benar karena aku tidak mengucapkan kata-kata itu aku sering tidak tepat waktu dalam memenuhi janji. Pengujian aku lakukan dengan ketika aku hendak membuat janji, aku ragu-ragu untuk mengucapkan Insya Allah, lalu aku putuskan untuk tidak mengucapkannya. Akhirnya atas janji itu aku lupa, kalaupun ingat terasa berat sekali untuk memenuhinya, rasanya masih ada kerjaan lain yg lebih penting untuk dikerjakan daripada janji tersebut. Dalam pikiran toh yg aku janjikan itu cuma hal yg gampang yg bisa diselesaikan dalam waktu cepat, sehingga tidak apa-apalah di tunda dulu, masih ada waktu. Namun akhirnya, hal yg mudah yg aku janjikan tersebut jadi terasa berat, menjadi sesuatu yg rumit dan berlarut-larut. Sehingga ketika memenuhi hal  yg aku anggap mudah tadi, pekerjaanku yg penting lainnya jadi terbengkalai.

Aku runut lagi, kenapa sampai-sampai aku sekarang jadi sering meninggalkan kebiasaan baik ini. Dan aku ingat, ini semua bermula dari ketika aku menjanjikan sesuatu ke mahasiswa yg non muslim. Setiap kali menjanjikan sesuatu ke mahasiswa yg non muslim, aku memang sering ragu apakah sebaiknya mengiringinya dengan insya Allah atau tidak. Sebab jika aku ucapkan insya Allah, toh dia tidak akan mengerti juga dan menurutku tidak perlu membawa-bawa perangkat agama ketika berbicara dg nya, aku tidak mau dianggap "sara". Aku memang berusaha berbicara secara umum kepada mhsw yg beranekaragam agamanya sehingga tidak menyinggung atau mengucilkan yg non muslim.

Dan hal yang membuat aku juga ragu untuk mengucapkan insya Allah ketika berbicara dg teman non muslim, aku tidak mau mereka menganggap insya Allah itu sebagai ucapan main-main. Karena kebanyakan orang ketika kita ucapkan insya Allah, mereka akan langsung mengkonotasikannya dg tidak. Sehingga makna suci insya Allah itu ternodai. Padahal kata insya Allah itu maknanya begitu dalam. Jika seandainya kita berjanji dan tidak mengucapkan insya Allah, lalu kita meninggal, berarti kita meninggal dengan keadaan meninggalkan utang.

Sayangnya tindakanku itu berdampak lebih lanjut, jadi terbawa-bawa saat bicara dengan saudara sesama muslim, tidak ucapkan insya Allah. Jadi malu sendiri karena jadi lalai begini. Sekarang aku sadari dengan siapapun aku bicara, tidak perlu khawatir akan dianggap "sara" jika menggunakan kata-kata baik yang diajarkan oleh Rasulullah. Seperti bismillah ketika akan memulai sesuatu, alhamdulillah, insya Allah, kalimat istighfar, bahkan menjawab azan. Justru secara tidak langsung kita menunjukkan kepada saudara non muslim kita bahwa islam itu indah, ramah, baik, lembut, sopan, dan mengajarkan nilai-nilai pekerti yg tinggi.

Ingat kisah Rasulullah yang pernah berjanji kepada salah seorang sahabat yang minta petunjuk atau jawaban untuk suatu permasalahan. Rasulullah menjawab akan memberi jawabannya besok tanpa mengucapkan insya Allah. Keesokannya sahabat kembali menemui Rasulullah untuk  menagih jawaban, namun karena wahyu belum turun, beliau kembali menjawab besok. Keesokan harinya juga begitu, wahyu belum turun sehingga Rasulullah menjawab besok. Lalu Rasul diingatkan oleh jibril karena tidak mengiringi janji beliau untuk menjawab permasalahan tersebut dengan kata-kata Insya Allah. Setelah beliau mengucapkan insya Allah, akhirnya wahyu turun dan beliau bisa menjawab permasalahan sahabat tersebut. (kurang lebih ceritanya begitu, mohon koreksian kalau ternyata kurang tepat).

Ini pelajaran berharga, dan aku semakin takjub dengan cara Allah mengajari kita, sehingga beragama tidak hanya sekedar ikut-ikutan atau karena keturunan. Semoga ceritaku ini juga bermanfaat untuk teman-teman semua. Insya Allah...

2

Miss Moody

Posted by Desi on 3:56 PM
Aku masih sulit untuk mengontrol emosiku terutama dalam masa pms. Aku begitu moody dan kondisi tersebut butuh waktu agak lama untuk menormalkannya kembali. Aku menyadari jeleknya sikapku saat aku tidak bisa mengendalikan emosi ini. Dampaknya akhirnya kediriku juga, aku justru akan jadi orang yang dikucilkan. Dan yang paling aku sesali adalah kadang mahasiswa ikut-ikutan kena imbas emosiku yang tidak terkontrol.

Masih harus banyak belajar untuk mengendalikan emosi ini. Harus lebih sadar saat kondisi itu datang. Sehingga nanti tidak kecewa sendiri.

3

Pantulan

Posted by Desi on 8:37 AM
Apapun yang keluar dari diri kita, semuanya akan kembali lagi kepada kita. Setiap ucapan dan pikiran kita, juga akan kembali kepada kita. Doa untuk orang lain yang tidak diketahui, akan kembali juga ke kita karena ada malaikat yang mambalaskan doa tersebut untuk kita. Kata-kata yang kita ucapkan, juga akan berbalik kepada kita. Perbuatan yang kita lakukan, juga akan memantul kembali kepada kita.

Jadi ucapkanlah kata-kata yang baik, berpikir yang baik, lakukan perbuatan yang baik, doakan hal yang baik karena semuanya akan berbalik kepada kita. Semuanya itu adalah cerminan siapa diri kita dan menunjukkan kualitas kita. Dalam hidup berlaku hukum sebab akibat, karena Allah Maha Mendengar dan Maha Melihat.

3

I'm Single And I'm Happy

Posted by Desi on 11:33 AM
Setuju dengan postingan Wanda beberapa waktu yang lalu tentang pernikahan. Kadang ketika kita melihat orang lain yang menurut kita belum pantas untuk  menikah, ternyata justru dia yang lebih dulu menikah. Sedangkan kita yang menurut sangkaan diri sudah siap dan pantas menikah, ternyata belum juga ditetapkan Allah untuk menikah. Allah lah yang lebih tau dari kita dan Allah lah yang memutuskannya. Jadi salah jika kita menilai atau men-judge orang lain dengan berbagai penilaian apalagi jika penilaian itu tidak baik. Karena belum tentu penilaian Allah begitu. Ternyata orang lain itu yang lebih baik nilainya di sisi Allah.

Aku saat ini berada pada kondisi tidak lagi mengkhawatirkan keadaan yang masih single. Aku sudah melewati tahap dimana ketika melihat orang menikah, aku juga begitu ingin menikah sehingga dalam hati selalu bertanya-tanya kapan ya aku menikah. Tidak, aku sudah melewati semua itu. Saat ini justru ketika melihat orang lain melangkah ke tahap hidup berikutnya dengan pasangan mereka, aku justru berpikir kalau masih banyak yang ingin aku lakukan sendiri tanpa ada pembatasan dari orang lain.

Banyak suara-suara yang mengganggu yang selalu bertanya dan berkomentar tentang kapan aku akan menikah? apalagi  yang ditunggu? dan sebagainya. Bagiku itu bukan pertanyaan yang menakutkan lagi. Aku menganggap itu sebagai bentuk perhatian orang lain padaku. Yang ada setiap muncul pertanyaan itu, aku justru merasa bahagia dengan kesendirianku dan menjawabnya dengan wajah yang bahagia :).

Pernikahan bukan tujuanku saat ini. Bagiku itu adalah pemberian Allah yang akan aku terima kapanpun Allah menetapkannya. Pernyataan ini bukan berarti aku tidak berusaha untuk mencari. Dalam pandanganku, istilah mencari bukan berarti kita sebagai wanita menyodor-nyodorkan diri atau sengaja mendekat dengan pria yang kita inginkan jadi suami melalui cara-cara yang tidak disukai Allah sehingga kehilangan respek dari orang lain dan merenahkan diri sendiri. Tapi dalam artian tidak menutup diri dan tentu tetap ada proses seleksi. Wanita kan menang menolak sedangkan laki-laki menang memilih :).


0

Rumah Idaman

Posted by Desi on 11:29 AM
Saat ini lagi semangat-semangatnya mengumpulkan dan corat-coret gambar rumah. Sudah saatnya menetapkan akan berada dimana untuk beberapa tahun ke depan, meskipun hal itu tetap Allah yang tau. Saking semangatnya hingga tiap malam coba menggambar, tidak terasa sdh jam 11 lewat. Seru membayangkan akan punya rumah sendiri dan mendesign nya sesuai dengan keinginan. Namun tidak tau apakah yang aku bayangkan ini akan terealisasi karena keterbatasan dana. Jangan-jangan jadinya nanti model biasa saja karena faktor keuangan.

Rumah yang akuidamkan adalah rumah yang sejuk dengan ruang yang lapang, banyak pintu dan jendela sehingga tidak perlu ada AC. Aku ingin dapur yang luas sehingga tidak terasa pengap. Aku ingin punya halaman yang luas untuk ditanami berbagai tanaman, menjaga bumi tetap hijau dan sejuk.

Tapi yang terpenting, aku ingin rumahku seperti surga Allah.

0

Tontonan Hidup

Posted by Desi on 11:23 AM
Setiap kali aku menonton sebuah film ataupun serial drama yg ceritanya begitu menarik, indah, manis dan menyegarkan, membuatku ingin berada dalam kejadian di film tersebut, ingin merasakan dan menjalani langsung kisah yang ada dalam film itu. Lalu berfikir betapa hebatnya si pembuat cerita dan sutradara yang telah menggarap kisah itu.

Namun aku juga langsung berfikir karena aku sudah punya kisah sendiri, jalan drama kehidupan sendiri, dimana aku sebagai pemeran utamanya dan Allah sebagai penulis dan sutradaranya. Setiap orang akan punya kisah yang berbeda-beda. Kadang ada yang saling terhubung, dan ada juga yang tidak terkait sama sekali. Dan aku bayangkan bahwa hidupku ditonton oleh orang lain, entah itu malaikat, jin, iblis, atau makhluk ciptaan Allah lainnya yg kita tidak tau mungkin saja kita ini adalah tontonan bagi mereka. Atau bisa jadi kita saat ini berada dalam tv yang sedang ditonton oleh manusia yang berada pada masa atau zaman atau planet lain. Tentu akan ada juga mereka yg berkomentar betapa menarik, indah, jelek, atau membosankan kisah atau drama kehidupanku, tergantung selera dan kesukaan mereka masing-masing.

Dan sungguh Allah adalah sutradara terbaik. Kisahku adalah salah satu dari miliaran kisah yang telah dituliskan Allah. Dan Allah tidak bermaksud menciptakan kisah-kisah itu demi kesenangan Nya belaka sehingga menciptakan kisah yang menyiksa hambanya. Semua kisah yang diciptakan Allah dengan suatu maksud dan semuanya baik untuk hambanya. Jadi harusnya aku bersyukur dengan kisah yg aku jalani saat ini. Kisah yg aku tonton adalah salah satu bentuk transfer ilmu dari Allah kpd makhluknya, sehingga harusnya pelajaran yg diambil dari kisah itu untuk memaknai kisahku sendiri.

0

Kampung Halaman

Posted by Desi on 12:07 PM
Aku meyakini bahwa sejauh-jauh kita melangkah, suatu saat akan kembali ke pijakan pertama. Sejauh-jauh kita merantau, suatu saat akan kembali ke kampung halaman. Pada akhirnya setiap orang akan kembali ke kampung halamannya. Ada yang mengalaminya dua kali dan setidak-tidaknya setiap orang akan mengalaminya satu kali, yaitu kembali ke asal kehidupan ini dimulai, yaitu Sang Pencipta. Itulah kampung halaman terakhir yang kepulangan itu tidak akan pernah bisa ditolak atau ditahan, kita semua harus kembali kepada-Nya.

0

Bahagiaku Untukmu

Posted by Desi on 1:08 PM
Alhamdulillah, satu sunnah sudah dilaksanakan. Satu tanggungjawab orang tuaku telah ditunaikan, yaitu melepas anak gadisnya untuk menyempurnakan setengah din, melaksanakan sunnah rasul. Aku bahagia untuk kakakku, semoga keberkahan Allah untuknya dan keluarganya hingga akhir hayat. Semoga kebahagiaan menyertai di dunia dan akhirat. Semoga langgeng dunia dan akhirat. Semoga sakinah, mawaddah, dan rahmah.


0

Asa

Posted by Desi on 1:26 PM
Sedih karena belum bisa membantu orang tua dalam hal financial. Sebagai anak sudah seusia ini  masih saja bergantung pada orang tua padahal beliau berdua tidak lagi punya penghasilan. Sedih karena belum bisa membahagiakan beliau berdua. Kadang masih sering menunjukkan kesedihan pada beliau berdua. Padahal itu semua hanya akan menambah beban pikiran beliau berdua. Sedih karena belum bisa mewujudkan keinginan beliau berdua. Padahal ketika dulu kita punya keinginan, beliau memenuhinya. Sedih belum bisa berbakti kepada beliau berdua, padahal tidak tau umur ini akan sampai kapan.

Ya Allah, mohon bahagiakan kedua orang tua hamba di dunia dan akhirat. Aamiin Ya Allah.

0

Rambut Dibelah 7

Posted by Desi on 3:11 PM
Kemaren waktu nyisir rambut, aku menemukan sehelai rambutku yang bercabang tiga. Coba kutarik dan lihat dengan seksama. Ternyata ada satu cabang yg bakal bercabang lagi, tapi masih kecil, hampir tidak keliatan. Berarti rambut itu bercabang 4. Aku tarik setiap cabangnya satu-satu. Cabang yang sudah terlepas begitu halus.

Tiba-tiba terbayang shirathal mustaqim, yang lebarnya seukuran rambut dibelah tujuh, begitu halus dan tipis. Bagaimanalah caranya berjalan di atas jempatan yang sehalus itu tanpa terjatuh. Sedang berjalan di bandul yang seluas kaki saja masih tidak seimbang. 

Apakah aku bisa melewati jembatan itu tanpa terjatuh ke lembah api yang menyala-nyala di bawahnya? Hanya kepada Allah kita minta pertolongan.

3

I Fell in Love

Posted by Desi on 8:42 AM
Aku telah jatuh cinta pada saat pertama melihatnya. Meskipun aku belum pernah bertemu langsung dengannya, belum pernah menyentuhnya, belum pernah memeluknya, belum pernah mendengar suaranya dan belum pernah menyapanya. Aku hanya melihatnya dari foto dan memang hanya akan bisa melihatnya lewat foto. Tapi saat pertama melihat wajahnya itu, aku telah jatuh cinta. Wajahnya yang indah, rambutnya yg ikal, dan semua yang ada pada dirinya telah menawan hatiku. Tak bosan2 melihat wajahnya meskipun hanya lewat foto.

Ingin memeluk dan mendekapnya, ingin mendengar suaranya yg merdu, ingin mendapatkan perhatian darinya, ingin memilikinya. Tapi sepertinya itu tidak akan pernah terjadi, karena dia tidak akan pernah dikenalkan kepadaku, aku tidak akan pernah bertemu dengannya. Orang tuanya tentu tidak akan membiarkan aku mengenalnya.

Aku tidak tau apakah perasaan ini hanya sesaat, entah karena wajahnya mengingatkanku pada wajah yg pernah aku sayangi, atau karena dia dibentuk dari pemilik sperma yang pernah aku sayangi. Tapi jika seandainya dia diserahkan padaku, aku akan menyayanginya dan memperlakukannya seperti dia berasal dari rahimku sendiri. Love you little cute and pretty baby, even thought we've never known and maybe will never know each other. Semoga Allah selalu menjaga dan membimbingmu. Semoga engkau menjadi seorang bidadari yang akan menghiasi dunia dan surganya Allah kelak. Aamiin...

2

Pemberontakanku

Posted by Desi on 2:05 PM
Dulu waktu aku mulai bekerja di institusi ini, aku masih seorang karyawan kontrak yang berlaku baik, idealis dan patuh pada aturan. Walaupun satu setengah tahun sebelumnya aku pernah punya pengalaman di industri, tapi karena aku yg dasar orang nya teratur, sistematis dan nurut, tetap saja aku masih menjadi seorang yang idealis dan teratur. Aku bebas dari kontaminasi ketidakdisiplinan orang-orang di industri tersebut. Mungkin salah satu penyebabnya juga karena didikan keluargaku.

Namun belum genap 2 tahun bekerja di institusi ini, belum genap habis masa kontrakku, aku dipaksa untuk menduduki sebuah posisi yang mengharuskanku untuk menjadi seorang contoh, seorang yg wise, seorang bertugas untuk mengkoordinir orang lain. Orang-orang yang aku koordinir itu tidak hanya orang yang lebih kecil usianya dariku, tapi orang yang lebih senior dariku juga harus aku kelola dengan baik. Berarti sejak itulah hingga akhir tahun lalu, aku harus menjadi seseorang yg mengarahkan orang lain untuk ikut aturan yg telah ditetapkan oleh atasan yg lebih tinggi lagi.

Banyak hal yang aku alami selama memegang posisi tersebut. Aku tidak sempat menikmati bagaimana menjadi seorang pegawai yang undisiplin, sebab aku harus bisa jadi role model. Posisi itu sangat tidak enak, karena atas dan bawah menekan sehingga kalau aku bilang, posisi itu merenggut kebebasanku. Kalimat tersebut harusnya tidak aku ucapkan, tapi ini mungkin suara hatiku yang paling jahat. Selama itu pula aku melihat dan mendapatkan perlakuan (tepatnya menghadapi) berbagai sikap atau perlakuan positif dan negatif, ada yang suka dan ada yg tidak suka, bentuk persetujuan dan protes. Dan banyak dari semua hal itu yg aku tahan sendiri, menyimpannya sendiri, menanggungnya sendiri, dan menyelesaikannya sendiri agar kondisi dan situasi tetap tenang.

Sekarang aku tidak lagi di posisi itu dan mungkin kenakalanku serta bentuk protesku akan keluar sekarang. Disaat aku tidak lagi harus menjadi seorang role model, aku mengeluarkan semua rasa ingin bebasku yang telah terikat lama itu. Aku spt sedang menunjukkan pemberontakanku dan spt membuat orang lain juga bisa merasakan apa yg aku rasakan pada posisi itu dulunya. Betapa tidak inginnya aku menduduki posisi itu lagi. Namun aku juga sadar, jika aku melakukan hal yg dilakukan org lain dahulunya kepadaku yg aku tidak suka, maka aku sama buruknya dengan mereka. Namun pada saat protes dan kesalku memuncak, saat sabarku kalah oleh nafsuku, akhirnya ikatan itu terlepas juga, dan jadilah aku spt burung yg lepas dari sangkarnya.

Mungkin salah satu pemicu kenapa aku berani melepas ikatan ini adalah karena aku telah merasakan bahwa tidak ada gunanya lagi aku terlalu patuh, toh yg ada akhirnya begitu juga. Perubahannya tidak akan signifikan juga. Inilah yg mungkin juga dirasakan dan yg ada dalam pikiran teman2 yg lain. Yang penting saat ini hanyalah bagaimana memberikan yg terbaik untuk mahasiswa, sedang untuk yg lain tidak peduli lagi. Penilaian pimpinan itu sdh tidak penting lagi.

Kalau aku pikir2, hal ini merupakan sebuah kemunduran dan aku menyadarinya. Namun aku tidak bermaksud untuk menghancurkan intitusi ini, ini hanya bentuk protes, rasa kesal, ketidakpuasan, pemberontakan, dan kenakalanku yg tersembunyi selama ini. Entah sampai kapan bentuk pemberontakan ini akan bertahan, kita lihat saja. Suatu saat aku akan lelah karena proses pendewasaan diriku masih terus berlangsung. Hati dan pikiranku sering berdialog, dan ujung-ujungnya pembicaraan antara hati dan pikiran itu akan bertanya pada Allah ketika perdebatan mereka tidak mendapatkan titik temu, itulah kontrolku dalam bertindak selama ini. Aku bersyukur karena itu tanda Allah masih membimbingku. Wallahu'alam

3

Merindukan Blog Update Seseorang

Posted by Desi on 2:53 PM
Tiba-tiba saja aku merindukan seorang teman yang sudah lama tidak terdengar kabarnya. Dulu dia aktif sekali di dunia maya ini, aktif posting dan blog walking. Bahkan pengisi komentar paling aktif di postinganku dulunya adalah dia. Namun sekarang blog nya tidak aktif lagi, komentarnya juga tidak pernah ada lagi. Ketika dia jarang posting, aku pernah mesej dia untuk posting lagi. Akhirnya dia kirim smile dan ngasih kabar kalau dia sudah posting lagi. Walaupun postingannya rada-rada berat, panjang dan berfilsafat ria, tapi tetap menyenangkan ketika membacanya, karena menambah pengetahuan dan mengajak kita berpikir.

Tapi sekarang blog nya sdh tidak aktif lagi, aku tidak tau juga mau mesej kemana, entah dia masih aktif di dunia maya. Tapi aku yakin bagi teman-teman yg mengenalnya akan tau siapa yg aku maksud dalam postingan ini. Dan aku juga yakin kalau dia baca postingan ini, dia akan tau kalau dirinya yg aku maksud :).

2

Treatment Berbeda

Posted by Desi on 2:25 PM
Ternyata orang dari daerah dan lingkungan yang berbeda membutuhkan treatment yang berbeda. Itulah yang aku alami saat ini dalam menghadapi mahasiswa dan anak2 binaanku yang baru. Mahasiswaku yang kuliah di PCR, mereka sudah terbiasa dengan kehidupan yang lebih modern, dimana dalam kehidupan modern semuanya lebih individual, tingkat kecuekan tinggi, telinga, muka dan hati sudah pada tebal, sehingga apapun perkataan dan sikap orang bagi mereka cuek aja, selama tidak menyinggung dan mengganggu secara langsung.

Sementara mahasiswa binaanku yang ikut training memasak ini, yang semuanya berasal dari daerah, tidak terlalu dekat dengan kehidupan modern (bukan berarti primitif atau kuno), mereka terbiasa dengan suasana di daerahnya yang mungkin kekeluargaan masih sangat kental. Sehingga tingkat kecuekan tidak sama dengan yang tinggal di kota. Apapun sikap dan perkataan orang lain akan sangat mengganggu hati dan perasaan, terlalu dipikirkan, akhirnya memutuskan pulang dan tidak lanjut training, sayang banget kan...

Ternyata ketika menghadapi mereka dengan lingkungan yang berbeda ini, perlakuan terhadap mereka juga berbeda. Ketika berhadapan dengan mahasiswaku di kampus ini, berlaku keras sedikit demi mendisiplinkan mereka tidak terlalu masalah, toh mereka juga sudah terbiasa dengan hal itu. Sedangkan ketika berhadapan dengan anak2 training memasak ini, aku tidak bisa keras dengan mereka. Kita harus memperlakukan mereka seperti memperlakukan anak kecil yang begitu sensitif. Mereka ibarat butiran air yang mudah pecah, mereka rapuh, kalau tidak hati-hati justru akan membuat kondisi jadi tidak lebih baik. Harus lebih banyak sabar.

Alhamdulillah, dapat bekal lagi untuk menghadapi hal yang lebih besar lagi.

0

Nikmat Tuhan yang Mana Lagi...

Posted by Desi on 9:41 AM
Betapa pelitnya aku ini, karena begitu sedikit rasa syukur yang ku ucapkan dari mulutku. Sedangkan cinta, sayang dan karunia Allah begitu tak berhingga padaku. Oh ci-e, nikmat Tuhan mu yang mana lagi yang kamu dustakan.

Kemaren ketika aku melunasi mesin jahit untuk training menjahit yang akan diadakan bulan Mei nanti, aku beli habbatusauda yg kebetulan si Bapak penjual mesin jahit juga menjual obat2 herba. Tapi ketika aku mengeluarkan uang, Bapak penjual itu berkata, "saya kasih ajalah untuk ibu obat ini dan juga untuk ibu yang satu lagi, yang waktu itu aku berdua dg kak Uq kesana. Tidak hanya itu, "gini aja" kata Si Bapak, "saya kasih ibu berdua sepaket". Aku tidak tau isi sepaketnya apa, rupanya 1 botol habbat, 1 botol virgin olive oil, 1 botol madu hutan murni, dan 1 botol madu hitam yaitu madu yang telah dicampur dengan bubuk habbat. Semuanya itu gratis untuk kami berdua masing-masing dapat 1 paket. Dan ditambah dengan doa dari Si Bapak, "semoga menjadi berkah untuk ibu berdua".

Bapak itu menjelaskan bahwa obat yang mereka jual ini sebenarnya bukan untuk dijual tapi dikonsumsi sendiri oleh Bapak itu sekeluarga beserta pegawai2nya. Jadi untuk stok aja baginya. Namun ternyata ketika ada konsumennya atau teman2 tetangga tokonya yang datang dan mereka ingin membelinya, akhirnya Bapak itu menjual tapi dengan harga yang sangat murah. Dan kemaren waktu kami datang katanya karena kami tidak minta kuitansi kosong, Bapak itu menghadiahi kami obat2 tersebut dan semoga jadi berkah. Memang di awal Bapak itu pernah bilang bahwa beliau tidak terima permintaan kuitansi kosong, sebab ada beberapa konsumen yang meminta hal itu kepadanya. Kami juga sdh menegaskan bahwa ini projectnya jujur, jadi untuk apa pakai kuitansi kosong, Bapak itu senang. Semoga usaha Bapak tersebut makin berkembang dan sukses.

Ya Allah, nikmat Mu yang mana lagi yg kami dustakan. Alhamdulillah, sejak mengurus training memasak dan menjahit ini, tiap pergi keluar, ada saja nikmat Allah untuk kami. Kalau datang ke SMK 3, selalu disuguhi bakeri dan makan siang beraneka menu hasil buatan anak2 didik disana. Sampai-sampai kami merasa sungkan kalau kesana, karena selalu disuguhi hasil karya anak2 SMK. Ditolakpun, tidak ada doa untuk menolak rejeki. Semoga Allah memberikan berkah untuk bapak2 dan ibu2 yang baik tersebut semuanya, amiin Ya Allah.

4

Jalan Kaki yang Menyenangkan

Posted by Desi on 9:15 AM
Telah sebulan ini aku pulang kuliah sendiri tanpa minta di antar oleh sepupuku. Karena hari sabtu kuliahnya selesai maghrib, alhasil nyampe di Rumbai juga sdh kemalaman, dan angkot dari simpang jalan sekolah ke umban sari (daerah kontrakanku) tidak ada lagi, maka aku putuskan untuk jalan. Meskipun kadang ada satu atau dua ojek, aku tidak prefer merekalah, karena tukang ojek di sini ugal-ugalan.

Meski capek tapi menyenangkan. Sudah lama aku tidak jalan kaki pulang kuliah. Dulu sejak SD hingga SMU, untuk pergi dan pulang sekolah dengan jalan kaki, karena jarak sekolah cuma 10 - 15 mnt. Waktu itu aku iri dengan teman2 yg naik kendaraan pergi dan pulang sekolah. Hingga dalam hati berkata kapan aku naik kendaraan pergi dan pulang sekolah. Aku juga ingin bisa naik angkot atau bus spt teman2ku, keliatan lebih mandiri dan berani.

Waktu kuliah S1 akhirnya aku bisa naik kendaraan ke kampus, naik bus atau angkot. Namun karena kampusku berlokasi di bukit dengan struktur tanah yg tidak rata, alhasil aku juga lebih banyak jalan ketika berada di kampus. Sebab antar gedung kuliah dan gedung fakultas letaknya jauhan. Dan pada saat pulang kuliah bus kampus kalau sudah sore juga tinggal satu dua, sehingga harus jalan ke gerbang berharap ada bus yang lewat dan mau berhenti. Biasanya kalau sdh sore bus nya sering penuh, setidaknya dapat tempat untuk menginjakkan kaki di lantai bus sudah syukur banget.

Waktu berada di tanah suci, para jamaah juga jalan kaki pergi dan pulang dari masjid. Rata-rata 8 km per hari. Itu baru jalan pergi dan pulang dari measjid. Kalau melaksanakan thawaf dan sa'i, akan banyak lagi langkah kaki. Jadi nya sehat, meskipun aku gemuk selama berada di sana, tapi karena banyak jalan, jadinya aliran darah tetap lancar :).

Pernah baca artikel, orang yang jalan kaki sejauh 19 km/minggu, bisa membakar lemak perut dalam jumlah banyak. Bagi yang jalan kaki sejauh 32 km/minggu, akan membakar kalori hingga perut bagian dalam dan lebih banyak kalori yg dibakar. Wah pasti perutnya jadi flat :). Jalan kaki menyehatkan dan akan terasa menyenangkan kalau cuaca tidak panas terik, setuju kan teman2 :)


2

Anak Binaanku yang Baru

Posted by Desi on 9:03 AM
Dua minggu ini aku mulai mengkoordinatori sebuah training berdua dengan kak Uq. Training yang kami koordinatori ini bukan training terkait keilmuan kami saat ini, training nya adalah training memasak. Peserta training ini direkrut dari anak2 putus sekolah di daerah2 Bengkalis. Mereka ada yang tamat kuliah, sedang kuliah, tamat SMA, tamat SMP, bahkan ternyata ada yang hanya tamat SD. Jumlah mereka yang ikut training memasak ini ada 17 orang, 1 orang diantaranya laki-laki.

Penampilan mereka sangat daerah sekali, maksudnya benar2 sederhana. Pakaian mereka sangat biasa. Malah banyak yang hanya datang dengan sandal jepit. Tas mereka juga banyak yg pakai tas dengan bahan dari plastik (bukan kantong asoy-red). Waktu kami bawa mereka survey tempat training di SMK 3 Pekanbaru, aku memperhatikan anak2 SMK tersebut memperhatikan mereka lekat2 dari atas sampai bawah. Dan aku juga bisa merasakan perasaan anak-anak binaanku yang baru ini, mereka merasa minder di antara siswa sekolah tersebut.

Akhirnya pulang dari survey tempat, kami ajak mereka makan steak, dan kami belikan tas, serta sepatu baru untuk mereka. Berharap setidaknya mereka tidak akan merasa minder saat mengikuti training nanti. Namun sayang waktu kami ajak makan steak, dan salahnya kami tidak bertanya dulu, ternyata banyak mereka yang tidak menyukai daging. Banyak mereka yang sejak kecil tidak dibiasakan makan daging.

Ketika melihat mereka, dan membandingkan dengan anak2ku yang ada di kampus ini, rasanya begitu terbalik. Mahasiswaku sudah terbiasa dengan fasilitas yang cukup yang mereka dapat dari orang tua mereka. Kuliah di tempat yang juga dilengkapi dengan berbagai fasilitas. Namun semangat untuk belajar mereka justru rendah karena sudah terbiasa dalam keadaan cukup sehingga jadi malas.

Sedangkan anak binaan ku di training memasak ini, mereka dari daerah yang aku tidak tau apakah mereka sebenarnya berasal dari keluarga yg berada atau tidak. Namun yang jelas mereka dari daerah dan menurutku fasilitas di sana tidak akan selengkap di kota. Mereka datang untuk bisa mendapatkan ilmu dan berharap setelah selesai training ini mereka bisa mandiri, buka usaha sendiri dan sukses sebagai seorang wirausahawan. Semoga saja, aamiin Yaa Rabb...

5

Home Alone, Again...Soon..

Posted by Desi on 8:58 AM
Untuk kedua kalinya, aku akan sendiri lagi di kontrakan. Teman kost sebentar lagi akan menikah, sediiih... Tak tau lagi apa namanya yg dirasakan oleh hati ini karena sdh bercampur aduk. Tak tau juga apakah harus menangis, tetap tersenyum dan tegar, cemberut, kesal, marah, berusaha ikhlas, sabar dan segala macam. Namun diantara semua campur aduk ini, hanya satu yg aku tau apa namanya yg kurasakan, yaitu lelah.

0

Salah Satu Kebahagiaanku

Posted by Desi on 4:32 PM
Terharu membaca note mahasiswaku ini.
=======================================

Ayah dan Ibu di Bilik Ilmu dan Bakat (untuk Guru dan Pengajar)

By : Ojiek Mohammed Owen


Selamat Hari Guru

Hingga saatnya kan tiba
aku kan mengerti

Betapa kesal, jika mengajar tidak didengar

Betapa sedih, jika menasihati tidak diindahkan

Betapa bahagia, jika melihat siswanya berjasa

Betapa bangganya, menyaksikan siswanya bertahta

Bapak Ibu Guru , anda dimana . ?

Anda-anda semua di hatiku

Bapak Ibu Guru perintis kecerdasan anak bangsa

Cerdas itu baik akal dan budi

Sudah berapa bapak ibu guru yang terlewatkan ?

Sudah berapa bapak ibu guru yang diabaikan?

Maafkan kami murid dan siswa yang pemalas dan arogan ini

Terkadang kami merasa lebih pintar, merasa lebih benar.

Terkadang hati kami kesal mendengar nasihat mu

Mungkin itu sebab ilmu yang kami dapat tak berkah

Maafkan kami ayah dan ibu disisi hati yang lain

Seolah hati kami berbilik-bilik, bilik ilmu di hati kami terukir ajaranmu

Kami percaya tak ada guru yang berniat buruk untuk siswanya

Capek dan lelah anda guruku jadi semangat kami
Mungkin hanya do'a yang kami haturkan

Berkahkanlah ilmu yang diajarkan bapak ibu guru kami
Berilah kesehatan kepada bapak ibu guru kami
Semoga Allah swt jadikan siswa-siswa anda pemimpin yang tenang

Terima Kasih Guru

*special for (Bapak ibu guru, dosen, mam , ustadz, pelatih sepak bola, pelatih badminton, pelatih musik dan tari yang telah menjadi bagian sumber intelegensi dan potensi)

251111 by Muhammad Fahrozi

0

Menyenangkan dan Tidak

Posted by Desi on 1:17 PM
Ketika mereka datang dan telah menjadi seseorang yang bisa memberi makna dan bermanfaat bagi lingkungannya, saat itu adalah bagian yang paling menyenangkan dari profesi ini.

Ketika mengoreksi lembar jawaban ujian mereka dan mereka tidak bisa menyelesaikan ujian itu dengan baik, maka saat itu adalah bagian yang paling tidak menyenangkan dari profesi ini.

0

Demam Korea

Posted by Desi on 7:53 AM
Beda masa beda idola. Itulah yang bisa aku simpulkan saat menonton tayangan tv kemaren sore. Saat aku sekolah dulu, trend nya group band-group band barat seperti Westlife, Backstreet Boys, Boyzone, dll. Lalu saat aku kuliah, trendnya film-film taiwan. Tapi anak muda masa itu tidak sampai meniru gaya-gaya artis taiwan.

Sekarang lagi trend korea, mulai dari film, drama, lagu, hingga artis korea. Dan dampaknya muncullah group2 yang meniru-niru group korea. Bahkan ada audisi entah apalah namanya yang menyerupai idol2 korea. Parahnya hingga dandanan pun spt artis2 korea. Dan dari semua itu yang aku lihat, kebanyakan hanya menjual tampang dan mengandalkan uang untuk tenar.

Di acara sore kemaren di salah satu stasiun tv yaitu perayaan ultah sebuah group musik yang terdiri dari cewe2 manis, MC nya ada 3 orang, 2 cowok dan 1 cewek. Satu cowok yg jadi MC adalah MC tenar, sedangkan cowok yg satu lagi entah siapa aku tidak tau. Tapi memang tampangnya manis spt aktor2 korea, dan aku berkesimpulan bahwa si MC yang cowok tersebut adalah sebagai pemanis acara sehingga orang2 rame datang melihat. Sebab yang aktif ngomong tentu saja si MC kondang, sedangkan dia diam saja.

Lalu bagaimana dengan aku saat ini? Sepertinya sudah bukan masanya lagi bagiku untuk mengidolakan hal2 spt itu. Tapi untuk menonton drama korea bukan hal yg baru lagi bagiku. Karena sejak akhir masa perkuliahan dulu drama korea sudah ditayangkan di tv, dan aku menyukainya hingga sekarang. Dan untuk beberapa drama musikal, aku mengoleksi lagu2nya yang memang bagus menurutku, bagus dari segi melodi dan genre musicnya. Apalagi aku menyukai musik tanpa pandang bulu darimana asalnya dan jenisnya apa. Selagi enak di dengar, aku akan mengoleksinya.

Entah sampai kapan negara ini akan terlena dengan mengidolakan hal2 spt ini. Sangat bertolak belakang sekali dengan kisah Pak Habibie yang aku baca. Kebetulan aku baru saja menamatkan baca buku Habibie dan Ainun. Orientasi pemuda masa itu sangat berbeda dengan sekarang, apalagi jika merujuk langsung pada kepribadian dan pencapaian Pak Habibie. Semoga negara ini bisa kembali mencapai kejayaannya spt masa 17 th yg lalu, bahkan lebih hendaknya. Wallahu'alam.

2

Miss You Friend

Posted by Desi on 4:23 PM
Tiba-tiba ada rasa sedih, saat aku membuka blog favoritku, tranquil heart. Sebelumnya sang pemilik blog menyatakan bahwa dia akan berhenti sebentar untuk menulis dan tidak akan meng-update blognya, bukan karena ada sesuatu, tapi karena malas saja. Tapi saat aku mencoba buka blognya hanya sekedar ingin baca-baca tulisannya lagi tiba-tiba aku tidak bisa membuka halaman blognya. Ada permintaan harus ada undangan dulu untuk membaca blognya.

Padahal blog itulah yg jadi inspirasiku untuk menulis dan membuat blog ini. Tulisan-tulisannya memotivasiku dalam berbagai keadaan dan selalu mengingatkanku pada Sang Pencipta. Tapi sekarang untuk membaca-baca tulisannya lagi, meskipun bukan yg baru, pun tidak bisa. Sedih, serasa ada yang hilang. Semoga dirimu cepat kembali. Miss you Wanda...

0

Be Cool and Be Elegant

Posted by Desi on 1:14 PM
Semakin bertambah umur seharusnya semakin dewasa seseorang. Semakin luas pergaulan dan lingkungan sekitar, seharusnya juga membuat semakin dewasa seseorang. Dewasa bukan hanya penampakan luar, tapi juga dewasa dalam pola pikir dan memahami sesuatu, dewasa dalam watak dan karakter.

Dalam lingkungan dan pergaulan yang tidak terlalu luas yang aku alami saat ini setidaknya merupakan pondasi bagiku untuk mempersiapkan diri menghadapi lingkungan yang lebih luas nantinya. Sehingga ketika saat itu tiba, aku sudah siap dan lebih tangguh. Saat ini saja aku sdh melihat ada persaingan-persaingan dan ketidaksukaan yang ditunjukkan. Walaupun bentuknya masih kecil tapi pergerakannya cukup cepat. Ketika hal ini terjadi, aku berusaha untuk belajar lebih tenang dan tidak terpancing emosi. Sebab jika dalam hal yang masih kecil saja aku tidak bisa mengendalikan diri, tandanya aku belum siap untuk masuk ke kawasan yang lebih luas. Karena tantangan di sana tentu lebih besar, lebih kuat dan lebih deras.

Namun cukup lucu menurutku apa yg terjadi saat ini. Aku masih tidak bisa mengerti kenapa ada orang yang tidak menyukai orang lain padahal orang tersebut tidak melakukan sesuatu yang mengganggu mereka. Kenapa hanya dengan tindakan atau pencapaian seseorang yang tidak menyinggung mereka sama sekali justru menimbulkan ketidaksukaan pada orang-orang tersebut. Sehingga mereka melakukan tindakan-tindakan yang berusaha untuk menjatuhkan. Tapi aku hanya bisa kembali pada filosofi bahwa dimana ada orang yang suka tentu banyak juga orang-orang yang tidak suka. Hidup itu akan selalu ada pasangannya atau lawannya, bahkan hingga di akhirat kelak.

Ketika orang yang tidak suka itu menunjukkan secara agresif ketidaksukaan mereka, maka jalan terbaik yg kita lakukan adalah untuk tetap tenang dan tampil dengan anggun. Bawaan tenang dan anggun hanya akan tercapai ketika kedewasaan sudah kita miliki. Yah itu pemikiranku saja, mungkin teman-teman semua belum tentu berpikiran spt itu dan bukan berarti juga aku merasa sudah cukup matang dalam hal kedewasaan berpikir. Pendewasaan adalah proses yg harus terus berlanjut bahkan hingga akhir hayat.

Ketika dua hal ini ditonton oleh orang lain, yaitu tindakan menyerang dan bertahan seperti ini terjadi, maka si penonton akan bisa menilai dan menghasilkan suatu opini sendiri tentang orang-orang yg terlibat dalam lingkaran ini. Pada akhirnya justru si agresif tanpa dia sadari akan mempermalukan dirinya sendiri di hadapan orang lain. Apalagi jika dia adalah seorang public figure, berarti dia menunjukkan kalau dia adalah orang dengan kualitas kepribadian yang rendah. Jika dia tidak segera menyadari dan mengubah pola pikir dan tindakannya, maka sampai kapanpun image jelek akan melekat pada dirinya dan dia hanya akan menjadi tontonan yang lucu dan menarik bagi orang lain. Dan parahnya lagi dia akan menganggap bahwa dia disenangi orang banyak dan merasa begitu tinggi serta penting. Padahal tidak sama sekali, orang hanya mempermainkannya tanpa dia sadari. Sebaliknya bagi pihak yang tetap tenang dan anggun, maka dia akan mendapatkan simpati dan penghargaan yang baik.

Bayangan akhir spt inilah yang menurutku lucu ketika seseorang berusaha menjatuhkan orang lain hanya karena rasa iri dan ingin mendapatkan pencapaian yg sama dengan org lain. Pada akhirnya semoga saja dia merasa lelah sendiri dan menyadarinya atau justru tidak akan pernah sadar karena dia tidak memilih untuk menjadi dewasa. Yah berarti dia akan menjadi aktor yang sangat menghibur bagi orang lain sampai kapanpun. Wallahu'alam.

0

Masa Bersantai

Posted by Desi on 2:14 PM
Sudah 3 minggu ini, sejak berakhirnya uas januari lalu, aku benar2 menyantaikan diri sesantai santainya. Rencana untuk proposal tesis belum aku angsur sedikit pun. Modul yang harus dicetak deadlinenya awal Maret juga masih stuck. Malah buku yang aku sentuh adalah novel2 dan buku2 non keilmuanku yang tidak sempat aku baca saat musim kuliah berlangsung. Bahkan seminggu terakhir ini, setiap malamnya aku isi dengan nonton drama korea yang ditonton oleh anak sekolahan dan mahasiswa2ku. Dua hari yang lalu ketika mahasiswaku datang ke rumah, setelah diskusi ttg PA, kami malah heboh cerita ttg film dan tukaran film. Padahal 3 minggu lagi perkuliahan smt 3 sdh harus dimulai.

Menonton film korea yang konsumsi utamanya adalah remaja sangat menyenangkan meskipun umurku tidak remaja lagi. Melihat kisah cinta remaja spt di film2 tersebut benar2 menghibur, fresh and it so sweet...wish I were in that situation and felt that kind of love too. But its only in a film, not in a real world. Tapi sedikit berkhayal untuk menghibur diri sptnya masih bisa dimaafkan, hehehe...

Tapi sebenarnya efek dari libur ini membuatku sangat ingin jalan2 ke luar kota dan pengen banget kalau bisa keluar negeri. Namun berhubung terkendala dengan masalah keuangan, secara bulan ini baru bayar uang kuliah, tunda dulu deh keinginan itu. Setidaknya bersabar sampai tahun depan, selesaikan dulu kuliah ini, semoga bisa tamat awal tahun depan, aamiin. Saatnya nabung lagi untuk uang kuliah smt berikutnya sekaligus merupakan smt terakhir, semoga saja, aamiin..

Sebenarnya ada hal lain juga yg membuatku tidak ingin pergi jauh2, setidaknya masih berada di pulau ini dengan transportasi ke Padang yg tidak terlalu susah, yaitu aku merasa tidak bisa meninggalkan orang tuaku. Merasa tidak akan menikmati liburan ketika orang tua di rumah dan tidak merasakan kenikmatan yg aku dapati ditempat lain. Ingin bisa membawa beliau berdua kemanapun aku pergi dan dimanapun aku berada. Dan beliau berdua ikut merasakan kebahagiaan yang aku rasakan dan tidak pernah mengetahui kesedihan yang aku rasakan.

8

Ala Klasik

Posted by Desi on 9:37 AM
Ketika aku membeli sabun colek, temanku Hesty berkomentar kalau caraku mencuci masih klasik. Yah...terserah kl menurut org aku masih kuno dalam hal mencuci, tapi itulah kebiasaan yg aku warisi dari orang tuaku. Sehingga aku orang yg berpandangan bahwa mencuci dengan mesin cuci itu tidak bersih. Untuk bagian krah baju, ujung tangan, bagian bawah baju atau ujung kaki celana serta bagian ketiak, butuh treatment lebih dari bagian lainnya. Dan itu tidak bisa didapatkan hanya dengan di gulung-gulung di mesin cuci.

Bicara mengenai cara-cara yg masih kuno, aku jadi ingat banyak hal yg diajarkan dan ditanamkan oleh orang tuaku kepada kami anak-anaknya sedari kecil dulu. Sejak dulu sampai sekarang, kami terbiasa makan bersama dengan cara di hidang. Dulu sebelum ada meja makan, kami makan bersama dengan duduk di lantai mengelilingi makanan yang di hidang di atas seprah makan. Jam makan juga sdh terjadwal, baik siang maupun untuk makan malamnya. Siang jam setengah 12, sebelum masuk waktu dzuhur dan mkn malam lebih awal yaitu jam setengah 6, sebelum masuk waktu maghrib.

Ketika sdh jadwal makan, kami anak2 perempuan di panggil untuk menghidangkan makanan. Kalau kebetulan sedang bermain di luar, berarti kami harus segera meninggalkan permainan itu. Tata cara penghidangan dan penyusunan letak makananpun jadi perhatian. Di mana letak nasi, lauk, piring, gelas, cuci tangan dan air. Bahkan sebelum menghidang, nasi yang sdh masak pun harus di salin dari periuk atau dandang ke cambung (mangkok besar) nasi. Cara menyalin nasi pun harus benar, nasi tidak boleh berbingkah-bingkah atau bergumpal-gumpal.

Saat makan, orang tua laki-laki dulu yang memulai mengambil nasi. Cara mengambil nasi untuk disalin ke piring pun tidak sembarangan, harus ke arah dalam, kalau tidak nasi akan berserakan ke luar.

Semua kebiasaan itu aku rasakan seperti sebuah kekangan. Karena saat itu teman-temanku tidak ada yg makan bersama, mereka makan sendiri-sendiri kapanpun mereka mau. Sehingga aku iri dengan teman-temanku yang tetap bebas bermain setidaknya hingga jadwal bermain habis yaitu saat maghrib masuk.

Untuk kebiasaan shalat dan aktivitas rohani pun spt itu, beliau berdua mendidik kami dengan keras dan dengan cara kuno.

Namun sekarang, hal itu benar-benar aku syukuri. Jika bukan karena didikan dan disiplin yang keras spt itu, aku tidak akan memahami tata krama atau norma-norma yang sekarang sdh sulit mencarinya. Sekaranglah manfaat itu aku rasakan. Dan pendidikan di rumah itulah yg paling berperan dalam membentuk karakterku.

Hingga pada waktu aku di Makkah, sebelum berangkat wukuf, aku sempatkan dan khususkan meng-sms kakak perempuanku dan mengatakan bahwa betapa bersyukurnya aku, dan seharusnya dia juga merasakan hal itu, bahwa telah dilahirkan dari orang tua kita yang sekarang ini. Betapa terasanya manfaat didikan dan disiplin yang beliau berdua ajarkan, ketika aku berada di tanah suci ini.

Banyak lagi hal lain yang mungkin orang akan berkata, "klasik/kuno sekali cara yang kamu lakukan". Dan hal baik meskipun kuno itu adalah harta yang akan aku wariskan pada generasi berikutnya, Insya Allah.

2

Cara Allah Mengajari

Posted by Desi on 9:34 AM
Jika apa yang kita lakukan telah benar dari awal, berarti kita sdh menguasai dan memahami ilmunya. Tapi jika kita belum menguasai dan memahami suatu ilmu, maka kita akan melewati tahap kesalahan lebih dulu, dan dari kesalahan itulah kita belajar, memahami dan menguasai ilmunya. Mungkin begitulah cara Allah mendidik kita. Wallahualam...

3

Terlalu Kejamkah Saya?

Posted by Desi on 3:20 PM
Pagi tadi jadwal saya mengajar kelas pertama dimulai jam 07.00. Di kelas saya telah membuat aturan dengan mahasiswa bahwa tolerir keterlambatan hanya 10 mnt dari jam 7, jika datang terlambat atau lewat dari jam 7.10, maka tidak boleh masuk.

Semester ini, kelas yang saya ajar setiap hari rabu pagi adalah mahasiswa smt 1. Sejak awal mengajar mereka, ada beberapa anak yang mengalami kejadian tidak boleh masuk di kelas saya karena terlambat. Mahasiswa yang paling sering adalah satu orang anak perempuan. Pertama kali dia datang terlambat, dia terpaksa duduk di luar memperhatikan saya mengajar. Lalu beberapa minggu berikutnya, dia lagi-lagi terlambat. Saat itu dia memelas ke saya untuk masuk, dengan alasan rumahnya jauh. Lalu saya katakan, kalau rumah jauh harusnya berangkat lebih pagi. Padahal ada anak lain yg rumahnya ternyata lebih jauh dari rumah si anak ini, tapi dia bisa datang tepat waktu karena berangkat lebih pagi. Dengan tampang memelas, akhirnya saya katakan bahwa dia boleh masuk asalkan mendapatkan ijin dari teman-temannya, bukan dari saya, dan tetap tidak boleh tanda tangan presensi. Di kampus ini kehadiran sangat berpengaruh untuk syarat bisa mengikuti ujian akhir semester. Akhirnya teman-temannyalah yang mengijinkan untuk masuk, bukan saya.

Lalu minggu besok, lagi-lagi dia terlambat dan lagi-lagi saya marah pagi itu karena jengkel. Dia tidak juga menyadari kesalahannya. Karena hari itu ada kuiz, akhirnya saya ijinkan dia masuk dengan syarat tdk bisa tanda tangan presensi.

Tadi pagi, seorang mahasiswi yang lain terlambat 1 menit. Saya bilang saya tetap berlakukan aturan tidak boleh masuk. Lalu dia mencoba membujuk saya untuk mengijinkan dia masuk, setidaknya seperti temannya yg dulu yang pernah terlambat tapi tetap bisa masuk yaitu dengan cara tidak tanda tangan presensi. Lalu dia juga membuat alasan bahwa ini masih dalam suasana perayaan imlek (kebetulan dia merayakan imlek). Bagi saya itu bukan alasan, sebab ijin untuk imlek sdh diberikan kemaren. Dia juga beralasan bahwa dia baru kali ini terlambat, sebelumnya selalu dtg tepat waktu. Memang mahasiswi ini belum pernah terlambat sebelumnya. Lalu saya tanya apa alasan dia terlambat kali ini. Dia menjawab karena telat bangun. Di kampus ini, telat banggun tidak bisa ditolerir sebagai alasan keterlambatan.

Saat mahasiswi ini masih berusaha membujuk saya, ternyata ada satu mahasiswi lagi yg baru dtg. Dia juga minta diijinkan masuk meskipun tidak tanda tangan presensi, bagi mereka tdk masalah, krn kl hrs pulang lagi rasanya sia-sia. Saya katakan bahwa saya tdk pernah menyuruh mereka untuk pulang.

Akhirnya saya katakan bahwa kalau mereka tetap ingin masuk, minta ijin dulu pada teman2nya, saya serahkan keputusan pada anggota kelas, spt kejadian mhswi yg terlambat sebelumnya. Bagi saya sendiri, tetap memberlakukan aturan yaitu tidak bisa masuk. Lalu mereka melakukan voting, dan saya tidak memperhatikannya. Saya tetap saja menulis di papan dan saya pun tidak berusaha mendengarkan proses voting mereka.

Setelah mereka mendapatkan hasil voting, ketua kelas melaporkan pada saya bahwa ternyata sebagian besar anggota kelas tidak mengijinkan masuk. Akhirnya dengan terpaksa mereka harus keluar kelas.

Setelah itu saya terus berpikir, terlalu kejamkah saya? Apakah saya sdh berlaku tidak adil pada mereka?

2

Allah Selalu Ada Untukku

Posted by Desi on 8:19 AM
Dear Teman,

Jika engkau merasa tidak sanggup menanggung beban yg engkau pikul. Ketika engkau merasa dunia begitu sempit dan begitu kejam kpd mu. Engkau merasa masalahmulah yg paling berat dan disaat itu engkau merasa tdk ada orang yang bisa membantumu, tdk ada org yg peduli padamu, tdk ada satupun orang yg bisa dijadikan sebagai tempat mengadu karena menurutmu mereka tdk akan mengerti akan masalahmu. Maka jgn hal itu meredupkan cahaya dimatamu, jgn sampai hal itu melemahkan tubuhmu, dan jangan engkau biarkan hal itu mematikan harapanmu. Engkau tidak sendiri, engkau tdk pernah ditinggalkan, hanya pikiranmulah yg membuatmu merasa sendiri dan karena pikiranmu sdh begitu, maka engkau merasa itulah kenyataannya sehingga spt itulah yg akan terjadi dan terlihat dimatamu.

Allah selalu ada untukmu teman. Allah tidak pernah meninggalkanmu barang sedetikpun. Allah selalu dekat denganmu, bahkan lebih dekat dari inderamu. Allah tidak pernah dzhalim pada umatNya, hanya umatNya yg mendzhalimi diri mereka sendiri.

Cobalah disaat sendirimu, engkau berbicara dengan Allah. Adukan semua yg engkau rasakan pada Allah. Menangislah jika memang ingin menangis, jgn engkau tahan sedikitpun, karena engkau sedang berbicara dengan Allah. Mengadulah spt engkau seorang anak kecil yg sedang mengadu kepada orang tuanya. Tapi ingat, disaat itu engkau harus yakin bahwa Allah mendengarkanmu, karena memang itulah kenyataannya. Bayangkan Allah ada dihadapanmu. Setelah semuanya engkau keluarkan, setelah engkau merasa airmatamu sdh kering, rasakanlah, renungkanlah dan resapilah apa yg engkau rasakan setelah itu. Semoga hatimu lebih ringan.

Lalu lakukanlah aktivitasmu spt biasa dan lihatlah sekelilingimu, perhatikan setiap kemudahan dan nikmat yg engkau dapati walau sekecil atau sesederhana apapun. Atas setiap kemudahan itu ingatlah Allah. Engkau akan dapati bahwa Allah sayang padamu, Allah tidak pernah melupakanmu dan meninggalkanmu, atau bahkan mendzhalimimu. Pikirkanlah serta renungkanlah dengan seksama bahwa ternyata Allah sedang menjawab doamu, permintaanmu, percakapanmu tadi, apa yang engkau adukan tadi dalam tangismu.

Apapun yg terjadi, selalu yakin dan bisikkan dalam hatimu "Allah sayang padaku dan selalu ada untukku, sehingga hanya pada Nya lah sepantasnya aku mengadu dan menggantungkan harapan, bukan pada makhluk, sehingga aku tidak perlu bersedih dan tidak ada yg harus aku sedihkan".

Maaf jika kata-kataku ini tidak berkenan dihatimu, aku tdk bermaksud mengguruimu, aku hanya membagi apa yg aku rasakan, pikirkan, dan alami, dan semoga ini bisa jadi pengingat bagi diriku dalam setiap kondisiku.

Copyright © 2009 Edelweiss All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.