0

My Super Dad

Posted by Desi on 11:58 AM
Lagi-lagi menemukan draft yang pantas untuk di publish. Draft ini sdh lebih 5 th yang lalu, saat aku akan memasuki usia 30th. Hari ini, satu hari menjelang usiaku 35th.

*********

Aku juga punya cerita ttg sosok seorang ayah. Sejak aku kuliah lagi, beliau selalu menelponku setiap minggu, menanyakan apakah aku pergi kuliah tadi, pergi dg siapa, pulang jam berapa dan siapa yg jemput, banyakkah PR ku, trus sdh makan atau blm. Merasa terharu, krn walaupun umurku sdh hampir kepala 3, beliau msh memperlakukanku spt waktu masih kuliah S1 dulu. Bedanya, dulu kami berada di satu kota, sekarang berjauhan, namun perhatiannya tdk berkurang.

0

Road to A New life

Posted by Desi on 12:14 PM
Menemukan draft ini, sepertinya sudah satu setengah tahun yang lalu. Walaupun singkat, tapi setelah dibaca lagi cukup berharga untuk jadi pengingat, meskipun bertolak belakang dengan postingan sebelumnya, tentang ratapanku atas konsekuensi dari keputusan.

**********************


Kata-kata ini tiba-tiba saja teringat dlm perjalanan pulang ke Padang minggu lalu. Kepulangan kemaren itu penentu untuk kehidupan yg baru bagiku. Perjalanan menuju pengalaman dan tempaan kehidupan yang baru. Ujian apakah tempaan kehidupan yang aku jalani selama 9 tahun terakhir benar-benar telah kumanfaatkan sebagai bekal untuk kehidupan yang baru ini. Sehingga Allah baru memberikan kehidupan yg baru ini sekarang. Seperti kata orang, Allah mengabulkan tapi menunda untuk waktu yang tepat bagi kita.

2

Menulis Itu Menyenangkan

Posted by Desi on 12:04 PM
Betapa menyenangkannya ketika jemari ini memulai lagi untuk menulis. Menuliskan apapun yang aku pikirkan, apapun yang aku rasakan. Tidak ada yang akan terganggu atau pun tersita waktunya ketika aku bercerita dengan tulisan. Aku bisa melepaskan semuanya dalam tulisanku. Ketika tidak ada orang untuk bercerita dan membalas perkataanku, tulisan ini menyelamatkanku. Aku seperti mendapatkan energi baru ketika telah menuangkan apa yang ada dalam pikiran, apa yang ada dalam hati.

Semoga Allah selalu membimbing setiap kata yang aku tuliskan.

0

Konsekuensi Sebuah Keputusan

Posted by Desi on 11:38 AM
Dua tahun yang lalu, aku mengambil sebuah keputusan yang akan mengubah alur hidupku. Sekarang, 2 tahun setelah keputusan itu diambil, aku menjalani konsekuensi dari keputusan tersebut.

Aku telah memilih profesi sebagai PNS, profesi yang sangat tidak pernah aku sukai, tidak pernah ingin menjadi bagian darinya. Namun sekarang aku harus menjalaninya, hidup sebagai PNS. Apa yang tidak aku suka dari PNS dulunya, akhirnya aku harus jalani. Birokrasi dan ketidakteraturan sistem, semua harus aku hadapi. Di saat karakter terstruktur dan sistematisku sudah terbentuk d instansi swasta yang kujalani selama 9 tahun 3 bulan. Aku merindukan keteraturan itu. Aku merindukan kebersihannya. Aku merindukan semangat dan energi positif yang ada di sana. Aku merindukan kebersamaan yang meninggikan Allah.

Di sini aku berjuang, sebagai konsekuensi dari sebuah keputusan, agar karakter baik itu tetap bertahan. Namun lingkungan ini terlalu menyita waktu ku. Tujuan awal ketika aku membuat keputusan untuk kembali ke kota ini, serasa tidak terlaksana sepenuhnya. Aku kembali untuk berbakti, tapi yang aku rasa justru kebalikannya. Aku serasa menjadi anak yang paling durhaka. 
Aku telah menjauh dari Allah, sehingga semua terasa berat.

Banyak yang muncul dalam pikiran, banyak hal yang ingin aku tulis. Banyak yang ingin aku curahkan. Saking banyaknya sehingga aku bingung bagaimana mengurainya. Aku butuh bantuan, aku butuh pertolongan. 

0

Kekuatan Pikiran

Posted by Desi on 10:57 AM
Beberapa waktu yang lalu sempat menonton film X-Men Apocalypse. Setelah menonton film itu aku berpikir sendiri, bahwa di atara para mutan dalam X-Men, siapa yang paling kuat, apakah storm, scott, wolverine, mystic, prof xavier, magneto, quicksilver, pheonix atau yang lainnya? Ternyata yang berhasil menghabisi musuh adalah kekuatan pheonix yang dimiliki oleh Jean. Jean memiliki kekuatan yang berasal dari pikiran. Hampir sama dengan prof Xavier, namun kekuatan Jean lebih besar.

Jika kita bawa ke dunia nyata, apakah kekuatan pikiran juga sama hebatnya dengan kekuatan pikiran yang ada dalam film X-Men? Aku akan menjawab iya, kekuatan pikiran itu adalah kekuatan yang hebat dan besar. Namun tentu saja tidak sebagaimana yang digambarkan dalam film X-Men.

Pikiran bisa mensugesti orang. Pikiran bisa membuat orang terasa lebih sehat. Pikiran bisa mengarahkan orang menjadi baik, menjadi positif, menjadi lebih percaya diri dan sebagainya. Pikiran juga bisa membuat orang tidak hanya menjadi baik, tapi juga membawa seseorang menjadi negatif. Seseorang akan menjadi seperti yang dia pikirkan. Lingkungan, alam semesta dan makhluk yang ada di dunia ini juga akan bereaksi terhadap pikiran makhluk yang lain.

Allah juga mengatakan, bahwa Aku seperti apa yang hamba-Ku pikirkan. Sehingga berbaik sangkalah kepada Allah. Selalu berpikir positif. Tidak berputus asa dari rahmat Allah. Semoga kata-kata ini bisa aku kembalikan ke dalam diri yang serasa sudah jauh dari Allah.

0

Serasa Tidak Kompeten

Posted by Desi on 7:28 PM
Lagi-lagi aku tdk bisa mengendalikan emosi di masa pms ini. Sebagai akibatnya lagi-lagi mahasiswa yang jadi korban. Dan yang lebih parah lagi aku tidak sengaja menginjak kakinya dengan high heels ku. Tapi entah si anak terlalu sopan atau dia terlalu takut entah dia terlalu bodoh. Sudah jelas kakinya ku injak tapi dia diam saja. Sehingga waktu aku merasa kalau ada kaki yang terinjak, itu sudah beberapa lama dari waktu sebenarnya yang kurasakan. Aku terlalu fokus dengan mengkoreksi jawaban mahasiswa dan tidak sadar kalau ada kaki yang terinjak. Dan si anak sudah menangis saja di sudut karena memang kebetulan dia duduknya di sudut.
Yang membuat dia tambah menangis karena kerjaannya bermasalah. Bahasa program yang dia buat tidak jalan. Saat aku merasa masalahnya ada di penamaan file link, dia tanpa sengaja kehilangan 1 file sehingga terpaksa harus mengetik ulang. Sementara teman-temannya sudah pada pulang. Hanya tinggal beberapa orang mahasiswa saja yang belum selesai.
Setelah dia ketik ulang, justru tetap tidak jalan.
Waktu pulang aku menawarkan untuk mengantarnya pulang karena kebetulan dia naik bis, tapi dia tidak mau. Aku memperparah dengan mengatakan bahwa kalau dia tidak mau berarti dia masih marah. Walau begi dia tetap tidak mau. Akhirnya dia tetap pulang dengan teman-temannya.
Sebenarnya pemicu emosi adalah hal lain. Seharusnya matakuliah yang aku ampu siang ini berdua. Tapi partnerku meninggalkanku dengan alasan mau ngasih bimbingan mahasiswa pulang magang. Padahal itu tidak lama, tapi dia tidak juga kembali hingga 1 jam menjelang selesai. Sedangkan aku sudah kewalahan di kelas menghadapi mahasiswa yang bermasalah dengan pekerjaannya.

Hari ini aku pulang dengan perasaan campur aduk. Emosi masih tertahan dan sebagian pikiran dan hati berdialog, apakah aku sudah begitu tidak kompetennya jadi pengajar dan jadi manusia.

Copyright © 2009 Edelweiss All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.