Assalamu'alaikum Wr Wb
Tak ada sesuatupun yang membuat kami bahagia selain mendengar, melihat, merasakan kebahagiaan Mama dan Papa. Ini dari kami berlima melalui surat ini Mengungkapkan rasa syukur dan terimakasih. Atas perhatian yang Mama dan Papa beri pada kami semua. Hanya melalui surat ini kami dapat menyampaikan isi hati kami. Semoga Mama dan Papa mengerti, kami sayang .....
Tak seorangpun yang akan berkata jauh dari orang tua itu senang, termasuk kami. Ngumpul bareng, makan bareng, canda gurau, gotong royong, dan apapun namanya. Tapi dengan jarak inilah, kami menyadari arti kasih sayang yang Mama, Papa beri untuk kami.
Mama... ( Jelmaan Tuhan yang diturunkan kebumi ). Tanpamu kami ga akan tahu apa kenikmatan hidup ini. Kasih sayangmu, perhatianmu, membuat kami tumbuh menjadi anak yang dikenal baik, bagi teman-teman maupun yang lain. Air susumu yang mengalir dalam tubuh kami, membuat suatu antibody yang dapat menghindari berbagai penyakit. Masakanmu yang selalu kami santap menjadikan kami anak-anak yang sehat dan juga pintar. Pendidikan yang Mama beri membuat kami mengerti mana hal yang buruk ataupun sebaliknya. Rasa sayang yang Mama beri membuat kami tumbuh untuk dapat menyayangi semua makhluk yang Ia ciptakan.
Kami bersyukur kepada Allah yang memberi kami seorang ibu seperti Mama. Keteguhanmu, ketegaranmu menghadapi ujian dari Nya, Mama lalui dengan senang hati. Tiap hari, tiap jam, maupun tiap detik kami tak dapat membayar semua pengorbanan yang mama beri. Kami hanya bisa berdoa, dan terus berdoa untuk kebahagiaan Mama baik didunia yang fana ini maupun di alam sana nanti.
Kami berjanji membuat Mama senang, kami akan tunjukkan pada dunia kelima anak yang Mama bina akan menjadi orang baik didunia maupun bekal akhirat nanti. Kami minta doa dan restumu Mama, Ridhoi perjuangan anak-anakmu ini sebab ridho Illahi ada di ridhomu. Terimakasih Mama.
Khusus dari anak sulungmu yang membuat Mama kerepotan. Awal kelahiran dia telah menyusahkanmu. Membuatmua tak dapat bergerak dan harus berbaring dirumah sakit dalam beberapa minggu. Belum malam yang selalu membangunimu untuk mengganti popok, sungguh aku minta maaf Mama...Seingatku telah berulangkali membuat Mama menangis atas kebandelanku. Mama kecewa atas tindakanku, dan banyak lagi dosa-dosa yang tak dapat kuungkapkan satu persatu.
Papa...pahlawan dalam hidup. Kami bersyukur mendapati seorang Papa sepertimu. Walaupun kami memiliki Papa yang super sibuk, yang dingin, yang jarang bertanya apa saja tentang anaknya, yang jarang berkumpul pada kami, yang selalu pergi pagi pulang malam, dan yang tak pernah terucap kata sayang pada kami. Tapi kami tahu Papa kami sangat menyayangi kami. Tapi kami memiliki Papa laksana pahlawan bukan saja pada kami melainkan bagi adik-adiknya, walaupun dia tahu masa depannya akan selalu tetap duduk didepan mesin yang menghitung harga-harga dari langganannya. Ia memikul beban agar adik-adiknya berhasil sampai menjadi orang. Kami bangga, kami bangga... adik-adikmu berhasil kenapa kami tidak. Kami berjanji kami akan membalas segala jasamu kami akan menjadi orang yang soleh berguna bagi agama nusa dan bangsa.
Pada tiap tetesan keringatmu berarti bagi kami. Kesedihanmu duka yang sangat bagi kami. Kami bersyukur punya ayah seperti Papa. Maafkan kami.... terimakasih atas pengorbananmu. Kami berharap dengan sangat atas keridhoaanmu pada kami. Diridho Papa terdapat sang ridho Illahi
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Surat tadi ditulis oleh lima orang ponakanku :) Walaupun sebenarnya yang memotorinya Corry, anak sulung, tapi surat itu ditandatangani oleh kelimanya. Bahkan Faiz, si bungsu, yang saat itu belum bisa menulis dan membacapun ikut menandatanganinya.
Saat membuat surat itu, Corry baru lulus dari SMU dan akan melanjutkan kuliahnya di Bandung. Sementara Ivon, anak kedua, sebelumnya sudah tinggal jauh dari orang tua, SMP dan SMU nya di Al Zaitun. Dan Nando, anak ketiga, juga tidak tinggal dengan orang tuanya, tapi diasuh oleh tantenya di Padang. Surat yang sudah diketik itu diserahkan ke Gorbi, anak ke empat, yang tinggal di Pekanbaru dengan orang tuanya.
Surat ini membuat ci terharu, menakjubkan sekali, anak2 yang masih kecil-kecil ini sudah berpikiran dewasa dan sangat maju, santun dan patuh pada orang tua. Kita saja yang sudah sebesar ini mungkin tidak terpikir untuk berbuat seperti itu ( mungkin ci saja yg belum berpikir spt itu :)). Makin harunya karena sekarang ci juga sudah merasakan betapa tidak enaknya hidup jauh dari orang tua.
So....Apakah teman-teman semua juga pernah merasakan hal yang sama saat berada jauh dari orang tua?