0

Usaha, Berdoa dan Ikhlas

Posted by Desi on 3:55 PM
Ketika usaha telah kita lakukan secara maksimal, dan tidak ada lagi yang bisa dilakukan, pasrahkan semuanya pada Allah. Ikhlas sebenar-benarnya ikhlas, yakin ada kebaikan di setiap kejadian yang merupakan rencana Allah. Saat itu semua telah dilakukan, lihat apa yg terjadi. Allah selalu menepati janji Nya. Itu yang baru saja aku alami.

Hopeless karena proposal penelitian yg sdh aku buat sepertinya tidak akan bisa dikirimkan. Terkendala karena partner penelitianku tidak berada dalam satu binaan Dikti. Dan berpikir positif mungkin ada baiknya juga tidak jadi ikut penelitian ini, karena takut aku tidak bisa mempertanggungjawabkan uangnya. Bahkan sudah mengirimkan email pembatalan ikut program penelitian ini ke panitia. Eh ketika iseng-iseng buka web Dikti lagi dan coba lagi, ternyata berhasil. Alhamdulillah..

0

Perasaan Sebagai Anak

Posted by Desi on 2:20 PM
Meskipun aku berprofesi sebagai seorang dosen, yang bertindak sebagai orang tua bagi mahasiswa di kampus, tapi perasaanku sebenarnya masih sebagai seorang anak. Sebab aku belum benar-benar punya seorang anak. Aku belum pernah merasakan beratnya hamil, sakitnya melahirkan, perjuangan membesarkan anak. Itu semua belum pernah aku lalui. Sehingga ketika berbicara dengan teman yg waktu itu bercerita tentang tingkah anaknya. Aku justru mengaku akan bertingkah sama seperti anaknya ketika situasi yg sama terjadi. Aku bercerita dengan kapasitas sebagai seorang anak. Aku mengungkapkan memiliki perasaan yang sama dengan si anak temanku itu.

Ternyata aku masih seorang anak, karena aku memang belum pernah benar-benar menjadi orang tua bagi anak manapun. Tapi kenapa aku begitu berani menasehati dan menguliahi mahasiswaku seolah-olah aku orang tua beneran ya? Seolah-olah aku sangat mengerti bagaimana perasaan orang tua mereka.

7

Siap Atau Tidak Siap

Posted by Desi on 2:12 PM
Akhir-akhir ini ketika ngumpul bareng emak2 di kantor (sarapan maupun mkn siang) aku tidak terlalu ambil pusing lagi dg apa yg mereka bahas. Mau bahas tentang suami anak dan masalah keluarga lainnya, aku ikuti, dengar, ikut tertawa dan bahkan ikut nimbrung. Aku mulai memutar sudut pandangku tentang topik mereka. Aku menjadikan setiap topik yg mereka bicarakan sebagai salah satu referensi untuk kehidupanku berumah tangga nanti (amiin, semoga kesampaian sebelum ajal menjemput).

Akhirnya aku berpikir sendiri, bagaimana ya saat aku berkeluarga nanti. Akan seperti apakah aku menjalaninya. Masalah dapur bagaimana ya? Berarti aku harus masak, sedangkan selama ini hidup di pku aku jarang masak. Kalaupun ada yah yg simpel2 aja. Meskipun di Padang aku ke dapur, tapi tetap saja sebagai asisten mama. Aku merasa tidak pede, nanti masakanku tidak enak dan seleraku dengan pasanganku tentu juga tidak sama. Sampai mikir memang spt nya aku belum siap. Tapi kata Kak Santi kemaren waktu jalan pulang, bukan masalah siap atau tidak siap. Ketika sdh waktunya ya harus dihadapi. Masalah urusan dapur itu akan otomatis, selera juga akan menyesuaikan.

Lain lagi dengan bayangan hamil dan melahirkan. Melihat perjuangan kakakku selama hamil yg sempat pendarahan dan plasenta previa. Kak Melani yang ketubannya merembes. Lalu istri Pak Heri yang pendarahan setelah melahirkan karena nifasnya banyak sehingga beliau kekurangan darah. Setelah melahirkan, harus menjaga kondisi bayi yang masih sangat rentan dengan berbagai penyakit. Benar-benar kehidupan yang butuh kekuatan untuk menghadapinya. Ternyata hamil, melahirkan dan punya anak itu tidak mudah.

Perjuangan sebagai ibu bekerja dan meninggalkan anak di rumah atau di penitipan anak. Dilema terkait kinerja di kantor dan kinerja sebagai seorang istri dan seorang ibu. Benar-benar perjuangan.

Entah kenapa akhir2 ini sering membayangkan hal-hal tersebut, tentang kehidupan berumah tangga yg ternyata benar-benar tidak gampang. Mungkin karena efek akhir-akhir ini sedang musim melahirkan dilingkungan sekitarku, lalu efek pembahasan peraturan pegawai juga di kantor dan efek terlalu sering mendengar cerita teman-teman yg sdh berkeluarga.

Bagaimana aku nanti ya, seandainya Allah memberikan kesempatan itu padaku...

0

Perjuangan Melahirkan

Posted by Desi on 1:42 PM
Tanggal 25 Februari kemaren kakak ku melahirkan anak pertamanya. Proses persalinan melalui operasi. Alhamdulillah ibu dan bayi perempuannya sehat. Kakak ku tidak bisa melahirkan normal karena posisi bayi melintang dan plasenta previa. Walaupun beberapa teman dan dari baca-baca di internet plasenta previa masih bisa normal, tapi karena posisi bayi melintang tidak bisa juga. Sedangkan minggunya sdh cukup (bayinya sdh matang) dan juga sdh mulai pengapuran akhirnya diputuskan untuk operasi.

Jadi teringat dulu guru Bahasa Inggris waktu SMU (kalau tidak salah nama beliau ibu Ita), melahirkan 5 orang anaknya secara operasi. Maksimum operasi cuma boleh 3 orang menurut ahlinya, berdasarkan informasi dari Bu Ita. Beliau pernah bercerita, ganjaran bagi wanita yg meninggal saat melahirkan adalah syahid, dan beliau ikhlas jika hal itu terjadi padanya saat operasi anak kelima. Namun Alhamdulillah beliau melahirkan dengan selamat.

Teringat lagi sepupuku setahun yg lalu melahirkan anak pertamanya secara normal tapi dengan kondisi panggul bayi duluan yg keluar dan ketuban darah. Kata orang yg sdh mengalami, ketuban darah lebih sakit dari ketuban air. Dan waktu sepupuku melahirkan, dia sdh menahan sakit sejak pagi dan melahirkannya sekitar jam 11 atau 12 malam nya.

Aku jadi berpikir, benar-benar Allah memberikan ganjaran yang setimpal untuk wanita yg meninggal karena berjuang saat melahirkan yaitu syahid. Melihat begitu hebatnya perjuangan saat melahirkan. Serta ungkapan surga di bawah telapak kaki ibu benar-benar sangat layak untuk para ibu. Dan sudah sewajibnya kita benar-benar berbakti dan memuliakan orang tua terutama ibu.

0

Bayangkan Secara Nyata

Posted by Desi on 9:45 AM
Kita percaya pada adanya kematian dan adanya akhirat. Tapi percaya yg kita miliki itu kadang sebatas membayangkan oh ya kematian itu pasti dan akhirat itu pasti tapi dalam pikiran hal itu masih jauh. Sehingga ketika kita membayangkannya, spt melihat dari balik layar kaca.

Pernahkah kita membayangkan bahwa kematian itu seperti menghadapi ujian yg akan dilaksanakan 1 jam lagi atau paling lambat besok. Ujian yg akan dihadapi adalah ujian yg sangat menentukan masa depan. Sedangkan kita belum ada persiapan sama sekali. Bukankah ketika membayangkan ujian itu dengan kondisi yg tidak siap, kita akan gugup, bahkan kadang tubuh ini lemas, menggigil dan ketakutan. Pejamkan mata, bayangkan izrail datang mencabut nyawa, bagaimana rasa sakitnya ketika nyawa lepas dari badan. Rasulullah yg paling dicintai Allah juga merasakan sakitnya nyawa lepas dari badan sehingga jibril tidak sanggup melihatnya, apalagi kita. Lalu bayangkan gelap dan sempitnya di liang lahat. Lalu bayangkan berjalan di sidhratul muntaha. Bayangkan itu ujian yg akan kita jalani 1 jam lagi dan jangan membayangkannya spt melihat sebuah film.

Ooh...bahkan aku merasa bahwa umurku ini tidak akan panjang, aku tidak akan merasakan masa tua. Bagaimana jika ketika aku mengetikkan ini malaikat maut datang atau bagaimana kalau saat aku berada di kost sendiri malaikat maut datang, dg pintu terkunci, tak ada org yg tau. Dosaku begitu banyak dan aku tau betapa banyak dan besarnya dosa yg pernah aku lakukan. Ketika mengingat setiap dosa yg pernah aku lakukan, aku melihat neraka itu jelas2 sedang menungguku. Dan aku ketakutan sendiri. Masih cukupkah waktu yg aku miliki untuk membersihkan diri?

3

Waktu dan Tempat Yang Salah

Posted by Desi on 9:00 AM
Suamiku biasanya begini.... Kalau suamiku lain lagi, dia sukanya begini.... Jadi sengaja ya seperti itu, supya.... Untungnya ruangan kerja kalian jauhan ya... (tertawa terbahak-bahak... )

Kalau anakku sukanya ini... Kalau anakku seperti ini... Anakku ga suka ini dan itu... Anakku lain lagi... (tertawa terbahak-bahak....)

Itu semua adalah bentuk percakapan teman-teman saat sarapan....

Kalau pagi, alternatif teman untuk sarapan hanya teman2 yg notabene sdh berkeluarga. Dan pembicaraan di meja itu kalau ga tentang anak, tentang suami, atau kalau general tentang mahasiswa dan aturan kepegawaian. Ketika topik ttg anak, suami dan keluarga, aku hanya diam, melanjutkan sarapan, kadang berusaha menulikan telinga...

Bukan mereka yg salah, tapi aku yg salah pilih waktu sarapan dan pilih tempat duduk...


note : semua percakapan itu terjadi di kantin kampus yg juga sangat rame dikunjungi mahasiswa.

0

Makan Tanpa Pantangan

Posted by Desi on 8:27 AM
Betapa ingin seperti orang lain, tidak masalah jika harus terlambat makan. Perut tidak berontak perih atau kembung ketika makan yg sedikit asam, pedas atau keras. Tidak apa-apa ketika tidak harus makan malam. Tidak apa-apa ketika makan malam bukan nasi, tapi diganti dg makanan lain dan tidak harus menanggung sesak nafas atau asam lambung sampai ke kerongkongan. Tidak harus memilih sayur atau buah yg sekiranya dapat menaikkan asam lambung. Tidak apa-apa makan makanan jenis apapun.

Betapa ingin fleksibel spt orang lain masalah makanan tanpa harus khawatir dg masalah mag...

0

Terbaik Menurut Allah

Posted by Desi on 11:44 AM
Allah lah yang tau yg terbaik untuk setiap ciptaan Nya. Ketika kita berkata, ini lah yg terbaik untuk kita, terlepas dari apapun hal nya, belum tentu itu yg terbaik. Sehingga Allah akan mementahkan lagi kata-kata kita, karena Dia lah yg berhak menentukan dan mengatakan mana yg terbaik dan mana yg tidak untuk setiap ciptaan Nya. Sehingga kita kembali tersadar bahwa penguasa diri ini hanyalah Allah, bukan kita. Dan apapun yg kita alami saat ini, itulah yg terbaik menurut Allah untuk saat ini. Dan setiap detik kehidupan yg kita jalani, ada hikmah dan pelajaran yg tersirat.

Apapun yg aku jalani saat ini, adalah bekal untuk kehidupanku esok hari, esok harinya lagi, esok harinya lagi, lagi dan terus yg ujungnya berakhir di kehidupan akhirat.

6

A Gift

Posted by Desi on 9:34 AM
Dulu ketika teman-teman dekatku menikah, aku dan teman2 yg lainnya sepakat untuk memberikan kado cincin dengan mengukirkan inisial setiap nama kami dibaliknya. Ketika yang single semakin berkurang, akhirnya kebiasan memberi cincin ini mulai hilang, karena yg iuran semakin berkurang. Akhirnya karena sendiri tidak sanggup lagi membelikan cincin. Namun kado cincin ini masih aku usahakan untuk teman2 terdekat meskipun bukan sebagai kado pernikahan. Aku memberikan kado berupa cincin untuk sahabat2 yg sdh kuanggap sebagai saudara sendiri ketika mereka pergi pindah ke tempat lain. Pemilihan kado cincin ini bukan karena melihat nilainya, kadang cincin yg diberikan itu cuma 1 atau 2 gram, tergantung kesanggupan. Namun arti keberadaan cincin itu, semoga lebih awet dibanding memberikan kado berupa barang yg lain.

Kalau kuingat-ingat, selama ini aku memberikan cincin untuk orang lain.  Aku sendiri belum pernah menerima kado cincin dari seseorang. Namun hari jum'at kemaren aku begitu surprise ketika menerima kado dari mahasiswa2 bimbinganku. Mereka berempat iuran memberiku kado. Awal kulihat kotak kadonya tidak besar dan juga sangat ringan. Awalnya aku menebak isinya jilbab atau bros. Namun ketika aku membuka kotak itu, di dalamnya ada kotak kecil berwarna merah berbentuk hati dari beludru, apalagi kalau bukan kotak cincin. Benar-benar surprise. Tak pernah ada mahasiswa yg terpikir memberikan cincin sebagai ucapan terimakasih mereka ke dosen selama ini. Meskipun teman-teman dosen lain ada yg menerima kado yg jauh lebih mahal dari cincin itu harganya dari bimbingan mereka, namun menurutku cincin ini sangat special.

Saat mereka memberikan kado itu mereka selalu mengatakan "bu jangan dilihat dari harganya ya, ini memang tidak seberapa". Ketika isinya sdh ku ketahui kalau itu cincin, mereka kembali mengulang perkataan yg sama dengan menambahkan "kami berharap ibu selalu ingat kami dengan selalu memakai cincin ini, lagi ngajar ibu mengangkat tangan dan melihat cincin ini, ibu ingat kami. Terimakasih kami karena ibu sdh menemani kami berjuang dan memperjuangkan kami". Aku benar2 spechless, sebelumnya belum ada mhsw yg berkata seperti itu. Aku cuma bisa bilang terimakasih dan tak bisa lagi kutahan, aku menangis di depan mereka.

Kebahagiaan menjadi seorang dosen ketika melihat anak-anak didiknya sukses dalam hal apapun. Ada perasaan bahagia ketika mereka datang berkunjung meskipun mereka tidak bekerja di perusahaan besar. Tapi kunjungan mereka menunjukkan betapa kita masih dalam ingatan mereka.

9

Keberanian

Posted by Desi on 4:17 PM
Setiap kali ada seorang teman yang  berkata kepadaku untuk tidak meningkatkan kualifikasi diriku lagi, dengan alasan nanti laki-laki takut denganku. Aku selalu menjawab, berarti orang yg takut denganku bukanlah jodohku.

Sebaliknya, ketika aku juga tidak berani untuk mencoba, ketika ada seseorang yg menurutku baik, tapi aku tidak punya keberanian untuk mencoba mencari tau apakah dia jodohku atau bukan, maka itu tandanya aku bukanlah jodohnya dia.


0

1%

Posted by Desi on 4:12 PM
Pernah membaca sebuah kalimat bijak, "hidup itu adalah kesempatan, maka ambilah kesempatan itu". Ketika aku tidak mencoba untuk mengambil kesempatan itu, berarti aku tidak akan pernah mendapatkannya. Namun seandainya aku mengambil kesempatan itu, terserah apapun hasilnya nanti, setidaknya aku mempunyai peluang meskipun 1% untuk mendapatkannya.

Ya Rabb, saat ini aku mencoba mengambil kesempatan yg meskipun cuma 1%, apapun hasilnya, mohon sabarkan, ikhlaskan dan berikan kemampuan bersyukur pada diri ini.

0

Lalai

Posted by Desi on 9:28 AM
Ya Allah, ampuni hamba Ya Rabb.. Hamba telah lalai.

Pagi ini anak kunci di lobang kunci pintu kost tdk bisa dicabut, pintu dalam kondisi terkunci dan tdk bisa dibuka. Panik harus diapakan dg pintunya. padahal sdh harus buru2 berangkat ke kampus. Akhirnya kutinggal anak kunci itu di pintu, kunci2 lain yg berada dalam satu gantungan dengan anak kunci itu aku lepas supaya tdk mencolok. Berdoa semoga Allah menjaganya untuk kami. Biarlah diakali saat pulang kerja nanti, apa harus dibongkar atau diapakan.

Lalu ketika buka laptop di kampus, file tesis tdk bisa dibuka. Respon setiap perintah sangat lambat. Copy file pun tdk bisa. Ternyata laptopku kena virus. Padahal file2 tesis tdk ada back up nya. Mau nangis tapi air mata tdk keluar, karena sadar itu kelalaianku tdk buat back up. Sekarang laptop sedang di instal ulang, semoga masih bisa diselamatkan. Jika tdk, kandas harapan bisa selesai semester ini.

Ya Allah, jika ini salah satu teguran Mu, hamba mohon ampuni hamba karena telah berbuat salah. Tanpa pertolongan Mu, apapun yg hamba lakukan tidak akan berjalan dengan baik. Mohon kemudahan bagi hamba dalam menjalani semuanya Ya Rabb, amiin.

0

Allah Menjawab

Posted by Desi on 1:00 PM
Aku percaya dan sangat yakin bahwa Allah selalu menjawab setiap pertanyaan dan setiap permintaan hamba-hamba Nya. Namun cara Allah menjawab berbeda-beda dan unik. Kadang sangat jelas, kadang tersirat, kadang langsung, dan kadang tidak langsung. Seperti ketika kita bertanya pada orang tua, beliau kadang menjawab dengan ya, kadang tidak, kadang dengan penjelasan dan kita sendiri yang menafsirkannya. Seperti itu juga Allah, menjawab dengan cara yang mengajak kita untuk berpikir. Karena oOrang-orang yang berpikir yang dapat membaca tanda-tanda dan meyakini kebesaran Allah.

2

Best Ending

Posted by Desi on 3:11 PM
Ya Allah, jiwa baik itu telah Engkau panggil untuk kembali pulang. Begitu bahagianya jiwa itu pulang. Ratusan orang menangisi kepergiannya. Sedangkan jiwa itu sendiri pulang dengan tenang, bahagia, terbang menuju Mu, ke dalam pelukan Mu. Engkau menerima jiwa itu bersatu dengan Mu dengan penuh suka cita. Ya Allah begitu harapnya hamba untuk mendapatkan akhir seperti itu. Orang-orang menangisi kepergian hamba dan Engkau menyambut hamba dengan penuh kegembiraan. Namun diri ini masih jauh dari kebaikan yang melayakkan hamba untuk  mendapatkan anugerah seperti itu. Ya Allah...

0

Careless

Posted by Desi on 12:08 PM
Entah apa yg terjadi pada diriku. Sejak kemaren, aku menjadi orang yang ceroboh. Pulang dari kerja kemaren, sdh sampai setengah jalan, aku terpaksa harus balik lagi karena lauk yg ku beli untuk makan malam tinggal di ruangan. Lalu di rumah saat mau mengambil hp, terasa licin dan hp itu jatuh dengan terbanting sangat keras hingga baterainya lepas. Lalu madi tadi pagi, dua kali aku menjadtuhkan sabun yg terletak di pinggir bak mandi karena tersenggol gayung. Lalu tadi pagi lagi-lagi aku menjatuhkan dompet hp yg membuat casing belakangnya lepas lagi. Dan berkali-kali menjatuhkan kunci.

Aku bukan orang yg ceroboh. Aku selalu berhati-hati dengan setiap gerakanku. Kalau dalam istilah orang minang "indak pa macah". Artinya bukan orang yg ceroboh. Kadang ada orang yg sedikit saja lepas dari tangannya, barang itu langsung rusak atau pecah, biasanya kejadian ini terlihat waktu mencuci piring. Kalau aku malah tidak pernah memecahkan piring atau gelas waktu mencucinya. Walaupun jatuh dari tangan, piring atau gelas itu tetap tidak apa2. Tapi entah kenapa sejak kemaren aku spt blank. Aku tidak tau apa yg terjadi pada diri ini. Bukan aku parno, tapi biasanya ketika aku ceroboh, ada saja kejadian buruk yg terjadi. Bukan pada diriku, tapi pada orang-orang terdekatku. Bukan pula bermaksud menghubungkan dengan hal-hal yg bersifat mistis. Semoga ini hanya kecerobohan biasa yg tidak berarti.

Tambahan, hari ini ketika menuju ruangan kelas, aku baru menyadari kalau jilbab yg aku pakai terbalik. Meskipun dari segi motif tidak masalah, sama saja depan dan belakang, tapi dari lipatan jahit di pinggirnya menunjukkan kalau jilbabku terbalik.

0

Anak Jaman Sekarang?

Posted by Desi on 4:10 PM
Ketika tidak setuju dengan tingkah laku anak-anak atau pun mahasiswa yang kita lihat atau kita dengar, kita spontan mengeluarkan kata-kata "dasar anak-anak jaman sekarang". Memangnya kita anak jaman kapan ya? hehe.. Aku sendiri juga kadang mengeluarkan kata-kata itu, namun belakang sdh mulai berkurang. Aku mulai mengontrol kata-kata ku sendiri, termasuk salah satunya kalimat tersebut.

Terhadap mahasiswaku sendiri juga aku masih sering geleng-geleng kepala melihat tingkah mereka yang tidak memperhatikan lagi sopan santun, etika dan akhlak yang baik. gemes melihat mereka begitu.  Kadang ketika masuk ke kelas, aku masih suka mengingatkan mereka. Namun kan tidak akan setiap waktu kita melakukan hal itu. Mereka juga harus belajar mengerti kondisi dan bersikap. Kalau diingatkan terus mereka akan merasa dianggap spt anak2. Tapi kenyataannya memang begitu, mereka masih bertingkah seperti anak-anak. Kadang aku tidak habis pikir, apa di rumah mereka tidak dididik oleh orang tuanya? Kalau pertanyaan itu terus aku pikirkan, berarti aku berprasangka negatif pada orang tua mereka.

Ketika kita tidak menyukai perilaku orang-orang muda tersebut, maka kita harus berusaha agar anak kita tidak spt itu. Agar anak kita berakhlak baik, berarti kita sebagai orang tua harus bisa menjadi contoh bagi mereka. Untuk bisa menjadi contoh bagi mereka, berarti kita juga harus berakhlak baik. Aku sampai saat ini selalu memegang suatu kalimat bijak yang pernah aku baca di FB teman yg intinya spt ini "selama ini kita selalu berpikir untuk meninggalkan bumi yang lebih baik untuk anak cucu kita, tapi kenapa kita tidak berusaha untuk meninggalkan anak cucu atau generasi yang lebih baik untuk bumi atau kehidupan yang lebih baik".

Untuk bisa mengimplementasikan kalimat bijak tersebut, tentu harus mulai dari diri sendiri, terutama sebagai orang tua, pendidik, dan pemimpin. Memang aku belum menjadi orang tua yg sesungguhnya, sehingga belum merasakan bagaimana sulit dan beratnya mendidik seorang anak dan  merasa idealis dengan kalimat tersebut. Entah bagaimana nanti kalau aku dihadapkan pada kehidupan sebagai orang tua yg riil. Semoga Allah menuntun hati, lisan, tangan, kaki dan seluruh inderaku untuk menjadi orang tua yg berakhlak baik dan menurunkan generasi2 yg berakhlak baik juga. Amin Ya Allah...

2

Cita-cita Baru

Posted by Desi on 11:23 AM
Semalam aku terpikir dengan  ide2 baru, aku ingin punya toko bunga. Sepertinya menyenangkan dikelilingi dengan bunga-bunga segar nan cantik, merangkainya dengan sepenuh hati sehingga terlihat indah, dan orang-orang yang membelinya menerima dengan bahagia.

Aku juga pengen banget bisa masak, main course, desert, maupun appetise nya. Dua hari ini rajin nyari2 resep berbakai masakan, cake, dan pudding. Keahlian masak bisa digunakan untuk diri sendiri, keluarga, juga bisa jadi sumber uang masuk, apalgi aku suka makan, hehe..

Satu lagi, aku pengen bisa menjahit, ingin bikin baju sendiri. Selama ini yg jahit bajuku adalah sang mama. Pernah coba jahit baju di luaran, tapi belum ada yg cocok. Kalau beli baju jadi sering ga cocok, karena harus dipermak lagi. Lagian harga baju sekarang mahal2, padahal modelnya simple, mama ku sendiri bisa bikin yg spt itu. Tapi kan tidak mungkin selamanya aku mengandalkan mama. Kepikiran ingin belajar dari mama, tapi tdk ada waktu luang. Kl pulang ke padang cuma sebentar, satu atau dua hari. Dan itu pun sdh penuh dengan kegiatan pekerjaan rumah.

Seandainya aku tidak bekerja di kantoran, tp di rumah saja, mungkin hal2 ini bisa aku sempatkan. Tapi itu kan perkiraanku saja. Kl ga kerja, uangnya dari mana untuk ngerjain semuanya itu :(. Dan jika di rumah saja, blm tentu juga aku dalam kondisi yg bisa mengerjakan semuanya itu.

Berharap semoga Allah mewujudkan mimpi-mimpiku untuk punya toko bunga, pintar masak dan menjahit. Amiin Ya Allah...

1

Waktu Terus Berjalan

Posted by Desi on 10:39 AM
Sudah 6,5 tahun aku mengabdikan diri di institusi ini. Mahasiswa silih berganti, yang lama tamat dan yang baru masuk. Begitu juga dengan rekan kerja, semua datang silih berganti. Semakin lama aku disini, semakin jauh jarak usia antara aku dan mahasiswaku. Berbeda sekali dengan waktu baru masuk dulu, jarak usia kami tidak terlalu terpaut jauh.Semakin jauhnya perbedaan, semakin tidak bisa lagi menggunakan pendekatan yang sama. Sebab cara pandang dan kedewasaan semakin bertambah, sementara mereka masih begitu muda.

Begitu juga dengan rekan kerja dan lingkungan kerja. Butuh penyesuaian dengan kondisi yg ada saat ini. Mereka yg masuk juga usianya jauh lebih muda. Kalau dulu aku taunya orang baru yang menyesuaikan diri dengan lingkungan yg ada. Namun sepertinya sekarang tidak berlaku hal seperti itu. Kita yg orang lama harus menyesuaikan diri dg orang baru.

Seiring dengan berjalannya waktu, institusi ini juga mengalami perkembangan menuju ke arah perbaikan. Perbaikan terutama terkait sistem yang berlaku. Namun kondisi yang lebih baik ini tidak diikuti dengan lingkungan yang membaik. Hal ini membuatku merindukan orang-orang lama yang berkualitas. Aku merindukan mereka berada di sini untuk mencetak generasi-generasi yang berkualitas. Bukan aku meremehkan rekan2 kerja baru, namun dalam segi perekrutan, sepertinya saat ini asal dapat orang yang mau bekerja, sementara kualitas tidak lagi terlalu dipentingkan. Sedangkan yang keluar selalu orang-orang dengan kualitas baik. Mungkin karena kualitas yang mereka miliki harusnya dimanfaatkan ditempat lain yang lebih baik dan lebih membutuhkan mereka, tdk lagi cocok dengan institusi sekecil ini.

Seorang teman berkata, kamu yg harus menyesuaikan diri dengan lingkungan sekarang. Nanti akan terlihat siapa yang tangguh dan bisa bertahan.

1

99 Cahaya di Langit Eropa

Posted by Desi on 8:59 AM
Saat ini aku sedang menuntaskan membaca buku ini, 99 Cahaya di Langit Eropa. Pengarangnya Hanum Salsabiela Rais dan suaminya. Hanum adalah puteri dari Bapak Amien Rais. Mungkin aku termasuk yg terlambat membaca buku ini. Tapi tidak ada salahnya berbagi hal yg aku dapatkan dari buku ini sekarang. Baca buku ini spt membaca DaVinci Code nya Islam. Membuatku ingin menjelajah Eropa untuk menapaki setiap jengkal sejarah islam yang tersimpan di sana. Aku merasa telah menelantarkan sejarah agamaku. Selama ini kita terlalu sibuk dengan kemajuan yg ada, tak pernah terpikir bahwa kemajuan dunia saat ini merupakan sumbangsih dan hasil perjuangan, pemikiran, pengorbanan para pahlawan islam.

Setuju dengan Hanum, perjalanannya ke Eropa dan menjelajahi sejarah islam di sana membuat dia jatuh cinta lagi dengan islam. Bagiku, meskipun hanya dengan membaca buku ini, tapi dengan gaya penulisan Hanum, membuatku spt berada di sana dan merasakan hal yg sama, aku jatuh cinta dengan islam.  Haru membaca buku ini, dan berdoa semoga Allah mengembalikan kejayaan islam, tidak hanya di Eropa tapi juga di belahan dunia lain.Amiin Ya Allah...

3

The Power of Insya Allah

Posted by Desi on 8:12 AM
Akhir-akhir ini aku sering berjanji pada orang lain terutama mahasiswa dan aku sering tidak tepat waktu untuk memenuhinya. Aku ingat-ingat lagi apa yg salah. Ternyata belakangan aku sering tidak mengiringi janjiku dengan kata-kata Insya Allah.

Lalu aku coba menguji, apakah benar karena aku tidak mengucapkan kata-kata itu aku sering tidak tepat waktu dalam memenuhi janji. Pengujian aku lakukan dengan ketika aku hendak membuat janji, aku ragu-ragu untuk mengucapkan Insya Allah, lalu aku putuskan untuk tidak mengucapkannya. Akhirnya atas janji itu aku lupa, kalaupun ingat terasa berat sekali untuk memenuhinya, rasanya masih ada kerjaan lain yg lebih penting untuk dikerjakan daripada janji tersebut. Dalam pikiran toh yg aku janjikan itu cuma hal yg gampang yg bisa diselesaikan dalam waktu cepat, sehingga tidak apa-apalah di tunda dulu, masih ada waktu. Namun akhirnya, hal yg mudah yg aku janjikan tersebut jadi terasa berat, menjadi sesuatu yg rumit dan berlarut-larut. Sehingga ketika memenuhi hal  yg aku anggap mudah tadi, pekerjaanku yg penting lainnya jadi terbengkalai.

Aku runut lagi, kenapa sampai-sampai aku sekarang jadi sering meninggalkan kebiasaan baik ini. Dan aku ingat, ini semua bermula dari ketika aku menjanjikan sesuatu ke mahasiswa yg non muslim. Setiap kali menjanjikan sesuatu ke mahasiswa yg non muslim, aku memang sering ragu apakah sebaiknya mengiringinya dengan insya Allah atau tidak. Sebab jika aku ucapkan insya Allah, toh dia tidak akan mengerti juga dan menurutku tidak perlu membawa-bawa perangkat agama ketika berbicara dg nya, aku tidak mau dianggap "sara". Aku memang berusaha berbicara secara umum kepada mhsw yg beranekaragam agamanya sehingga tidak menyinggung atau mengucilkan yg non muslim.

Dan hal yang membuat aku juga ragu untuk mengucapkan insya Allah ketika berbicara dg teman non muslim, aku tidak mau mereka menganggap insya Allah itu sebagai ucapan main-main. Karena kebanyakan orang ketika kita ucapkan insya Allah, mereka akan langsung mengkonotasikannya dg tidak. Sehingga makna suci insya Allah itu ternodai. Padahal kata insya Allah itu maknanya begitu dalam. Jika seandainya kita berjanji dan tidak mengucapkan insya Allah, lalu kita meninggal, berarti kita meninggal dengan keadaan meninggalkan utang.

Sayangnya tindakanku itu berdampak lebih lanjut, jadi terbawa-bawa saat bicara dengan saudara sesama muslim, tidak ucapkan insya Allah. Jadi malu sendiri karena jadi lalai begini. Sekarang aku sadari dengan siapapun aku bicara, tidak perlu khawatir akan dianggap "sara" jika menggunakan kata-kata baik yang diajarkan oleh Rasulullah. Seperti bismillah ketika akan memulai sesuatu, alhamdulillah, insya Allah, kalimat istighfar, bahkan menjawab azan. Justru secara tidak langsung kita menunjukkan kepada saudara non muslim kita bahwa islam itu indah, ramah, baik, lembut, sopan, dan mengajarkan nilai-nilai pekerti yg tinggi.

Ingat kisah Rasulullah yang pernah berjanji kepada salah seorang sahabat yang minta petunjuk atau jawaban untuk suatu permasalahan. Rasulullah menjawab akan memberi jawabannya besok tanpa mengucapkan insya Allah. Keesokannya sahabat kembali menemui Rasulullah untuk  menagih jawaban, namun karena wahyu belum turun, beliau kembali menjawab besok. Keesokan harinya juga begitu, wahyu belum turun sehingga Rasulullah menjawab besok. Lalu Rasul diingatkan oleh jibril karena tidak mengiringi janji beliau untuk menjawab permasalahan tersebut dengan kata-kata Insya Allah. Setelah beliau mengucapkan insya Allah, akhirnya wahyu turun dan beliau bisa menjawab permasalahan sahabat tersebut. (kurang lebih ceritanya begitu, mohon koreksian kalau ternyata kurang tepat).

Ini pelajaran berharga, dan aku semakin takjub dengan cara Allah mengajari kita, sehingga beragama tidak hanya sekedar ikut-ikutan atau karena keturunan. Semoga ceritaku ini juga bermanfaat untuk teman-teman semua. Insya Allah...

Copyright © 2009 Edelweiss All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.