Akhir-akhir ini aku sering berjanji pada orang lain terutama mahasiswa dan aku sering tidak tepat waktu untuk memenuhinya. Aku ingat-ingat lagi apa yg salah. Ternyata belakangan aku sering tidak mengiringi janjiku dengan kata-kata Insya Allah.
Lalu aku coba menguji, apakah benar karena aku tidak mengucapkan kata-kata itu aku sering tidak tepat waktu dalam memenuhi janji. Pengujian aku lakukan dengan ketika aku hendak membuat janji, aku ragu-ragu untuk mengucapkan Insya Allah, lalu aku putuskan untuk tidak mengucapkannya. Akhirnya atas janji itu aku lupa, kalaupun ingat terasa berat sekali untuk memenuhinya, rasanya masih ada kerjaan lain yg lebih penting untuk dikerjakan daripada janji tersebut. Dalam pikiran toh yg aku janjikan itu cuma hal yg gampang yg bisa diselesaikan dalam waktu cepat, sehingga tidak apa-apalah di tunda dulu, masih ada waktu. Namun akhirnya, hal yg mudah yg aku janjikan tersebut jadi terasa berat, menjadi sesuatu yg rumit dan berlarut-larut. Sehingga ketika memenuhi hal yg aku anggap mudah tadi, pekerjaanku yg penting lainnya jadi terbengkalai.
Aku runut lagi, kenapa sampai-sampai aku sekarang jadi sering meninggalkan kebiasaan baik ini. Dan aku ingat, ini semua bermula dari ketika aku menjanjikan sesuatu ke mahasiswa yg non muslim. Setiap kali menjanjikan sesuatu ke mahasiswa yg non muslim, aku memang sering ragu apakah sebaiknya mengiringinya dengan insya Allah atau tidak. Sebab jika aku ucapkan insya Allah, toh dia tidak akan mengerti juga dan menurutku tidak perlu membawa-bawa perangkat agama ketika berbicara dg nya, aku tidak mau dianggap "sara". Aku memang berusaha berbicara secara umum kepada mhsw yg beranekaragam agamanya sehingga tidak menyinggung atau mengucilkan yg non muslim.
Dan hal yang membuat aku juga ragu untuk mengucapkan insya Allah ketika berbicara dg teman non muslim, aku tidak mau mereka menganggap insya Allah itu sebagai ucapan main-main. Karena kebanyakan orang ketika kita ucapkan insya Allah, mereka akan langsung mengkonotasikannya dg tidak. Sehingga makna suci insya Allah itu ternodai. Padahal kata insya Allah itu maknanya begitu dalam. Jika seandainya kita berjanji dan tidak mengucapkan insya Allah, lalu kita meninggal, berarti kita meninggal dengan keadaan meninggalkan utang.
Sayangnya tindakanku itu berdampak lebih lanjut, jadi terbawa-bawa saat bicara dengan saudara sesama muslim, tidak ucapkan insya Allah. Jadi malu sendiri karena jadi lalai begini. Sekarang aku sadari dengan siapapun aku bicara, tidak perlu khawatir akan dianggap "sara" jika menggunakan kata-kata baik yang diajarkan oleh Rasulullah. Seperti bismillah ketika akan memulai sesuatu, alhamdulillah, insya Allah, kalimat istighfar, bahkan menjawab azan. Justru secara tidak langsung kita menunjukkan kepada saudara non muslim kita bahwa islam itu indah, ramah, baik, lembut, sopan, dan mengajarkan nilai-nilai pekerti yg tinggi.
Ingat kisah Rasulullah yang pernah berjanji kepada salah seorang sahabat yang minta petunjuk atau jawaban untuk suatu permasalahan. Rasulullah menjawab akan memberi jawabannya besok tanpa mengucapkan insya Allah. Keesokannya sahabat kembali menemui Rasulullah untuk menagih jawaban, namun karena wahyu belum turun, beliau kembali menjawab besok. Keesokan harinya juga begitu, wahyu belum turun sehingga Rasulullah menjawab besok. Lalu Rasul diingatkan oleh jibril karena tidak mengiringi janji beliau untuk menjawab permasalahan tersebut dengan kata-kata Insya Allah. Setelah beliau mengucapkan insya Allah, akhirnya wahyu turun dan beliau bisa menjawab permasalahan sahabat tersebut. (kurang lebih ceritanya begitu, mohon koreksian kalau ternyata kurang tepat).
Ini pelajaran berharga, dan aku semakin takjub dengan cara Allah mengajari kita, sehingga beragama tidak hanya sekedar ikut-ikutan atau karena keturunan. Semoga ceritaku ini juga bermanfaat untuk teman-teman semua. Insya Allah...