2
Azan
Posted by Desi
on
2:44 PM
Suara azan menandakan panggilan Allah untuk menunaikan shalat. Panggilan berarti harus dijawab. Setiap kalimat azan ada jawabannya, dan Rasulullah telah mengajarkan bagaimana cara menjawab setiap kalimat azan. Semoga kita semua telah mengetahui jawaban setiap kalimat azan itu.
Namun jawaban terpenting atas azan sebenarnya tidak hanya berupa kata-kata. Tapi berupa tindakan, tindakan untuk bergegas memenuhi tuntutan dari azan itu. Yaitu tuntutan untuk segera dan bergegas mempersiapkan diri menunaikan ibadah shalat.
Aku masih ingat waktu berada di Makah dan Madinah, saat waktu shalat sudah hampir masuk, para pedagang disana bergegas menutup toko mereka. Bahkan kalau anda belanja ketika akan masuk waktu shalat, mereka tidak akan melayani lagi, mereka cuek aja. Mereka ngasih tau harga barang, kalau anda terima ok, terjadi transaksi, kl tidak silahkan pergi, mau menawar harga berapa pun mereka tidak akan layani, karena mau tutup. Aku tau hal ini karena pernah mengalaminya sendiri. Waktu itu aku sedang datang bulan, aku dan beberapa orang ibu memanfaatkan kesempatan ini untuk berkeliling. Sebab ketika sedang tidak haid, kesempatan shalat ke Mesjid harus dimaksimalkan. Biasanya berangkat ke mesjid 1 - 1.5 jam sebelum waktu shalat masuk.
Lain di Makah, lain lagi di Indonesia. Di negara kita ini, yg cukup membuatku heran, ketika terdengar suara azan, mereka menghentikan aktivitasnya tapi bukan untuk bergegas pergi shalat, tapi untuk diam mendengarkan azan. Setelah azan selesai, kembali melanjutkan aktivitas sebelumnya. Aku tau maksud mereka diam itu adalah menjawab setiap kalimat azan. Namun bukankah sebenarnya panggilan azan itu dijawab dengan bergegas untuk shalat, bukan hanya sekedar diam untuk menjawab kalimat azan.
Dan yang benarnya lagi, ketika kita sdh mengetahui jadwal setiap shalat, seharusnya kita telah mempersiapkan diri (spt berwudhu dan menuju ke mesjid atau mushala) sebelum azan, lalu ketika azan, kita sdh berada di mesjid atau mushala atau dalam kondisi sdh ready untuk shalat, dan saat itu menjawab setiap kalimat azan dengan penuh tawadhu'. Namun kegiatan keduniawian telah mendominasi dikehidupan kita sehingga tidak banyak orang yg bisa melakukan hal ini.
Aku tidak bermaksud mengajari atau menggurui dengan adanya postingan ini, karena aku mengakui bahwa diriku juga masih lemah dalam hal ini. Pada saat mengajar dan terdengar azan, aku sendiri tidak menghentikan aktivitas mengajar dan bergegas ke mesjid, karena merasa tanggung tinggal beberapa menit lagi perkuliahan selesai. Hal ini terpikirkan karena beberapa waktu lalu, diadakan sebuah seminar di kampusku, lalu seorang pembicara yg semula aku pikir seorang muslim, beliau menghentikan bicaranya dan diam ketika terdengar suara azan. Beliau menghormati azan tersebut dengan diam dan mendengarkannya. Sementara para audience, yg rata-rata muslim, justru berbicara pada saat suara azan dikumandangkan. Kadang hal ini aku temui juga pada saat rapat, setelah azan selesai rapat tetap dilanjutkan.
Tradisi diam dan duduk tenang saat terdengar suara azan baru aku alami saat berada di Pekanbaru ini. Mungkin karena dulu aku aku belum tau jawaban kalimat azan. Dan kebiasaanku juga dari kecil dulu, kalau terdengar azan, ibuku cepat2 menyuruh kami untuk berwudhu dan pergi shalat ke mesjid. Kalau kami tidak ke mesjid beliau akan marah. Jadi azan kami jawab dengan bergegas berwudhu dan menuju mesjid. Ketika aku telah mengetahui jawaban kalimat azan, aku menanggapinya dengan tidak berbicara, menjawab setiap kalimat sambil mempersiapkan diri untuk ke mesjid. Banyak aktivitas yg dilaksanakan pada saat yg bersamaan. Tidak hanya diam dan duduk tenang.
Lagi-lagi ini pemikiranku semata. Mohon maaf untuk teman-teman yg merasa tidak senang dengan postinganku ini.
Namun jawaban terpenting atas azan sebenarnya tidak hanya berupa kata-kata. Tapi berupa tindakan, tindakan untuk bergegas memenuhi tuntutan dari azan itu. Yaitu tuntutan untuk segera dan bergegas mempersiapkan diri menunaikan ibadah shalat.
Aku masih ingat waktu berada di Makah dan Madinah, saat waktu shalat sudah hampir masuk, para pedagang disana bergegas menutup toko mereka. Bahkan kalau anda belanja ketika akan masuk waktu shalat, mereka tidak akan melayani lagi, mereka cuek aja. Mereka ngasih tau harga barang, kalau anda terima ok, terjadi transaksi, kl tidak silahkan pergi, mau menawar harga berapa pun mereka tidak akan layani, karena mau tutup. Aku tau hal ini karena pernah mengalaminya sendiri. Waktu itu aku sedang datang bulan, aku dan beberapa orang ibu memanfaatkan kesempatan ini untuk berkeliling. Sebab ketika sedang tidak haid, kesempatan shalat ke Mesjid harus dimaksimalkan. Biasanya berangkat ke mesjid 1 - 1.5 jam sebelum waktu shalat masuk.
Lain di Makah, lain lagi di Indonesia. Di negara kita ini, yg cukup membuatku heran, ketika terdengar suara azan, mereka menghentikan aktivitasnya tapi bukan untuk bergegas pergi shalat, tapi untuk diam mendengarkan azan. Setelah azan selesai, kembali melanjutkan aktivitas sebelumnya. Aku tau maksud mereka diam itu adalah menjawab setiap kalimat azan. Namun bukankah sebenarnya panggilan azan itu dijawab dengan bergegas untuk shalat, bukan hanya sekedar diam untuk menjawab kalimat azan.
Dan yang benarnya lagi, ketika kita sdh mengetahui jadwal setiap shalat, seharusnya kita telah mempersiapkan diri (spt berwudhu dan menuju ke mesjid atau mushala) sebelum azan, lalu ketika azan, kita sdh berada di mesjid atau mushala atau dalam kondisi sdh ready untuk shalat, dan saat itu menjawab setiap kalimat azan dengan penuh tawadhu'. Namun kegiatan keduniawian telah mendominasi dikehidupan kita sehingga tidak banyak orang yg bisa melakukan hal ini.
Aku tidak bermaksud mengajari atau menggurui dengan adanya postingan ini, karena aku mengakui bahwa diriku juga masih lemah dalam hal ini. Pada saat mengajar dan terdengar azan, aku sendiri tidak menghentikan aktivitas mengajar dan bergegas ke mesjid, karena merasa tanggung tinggal beberapa menit lagi perkuliahan selesai. Hal ini terpikirkan karena beberapa waktu lalu, diadakan sebuah seminar di kampusku, lalu seorang pembicara yg semula aku pikir seorang muslim, beliau menghentikan bicaranya dan diam ketika terdengar suara azan. Beliau menghormati azan tersebut dengan diam dan mendengarkannya. Sementara para audience, yg rata-rata muslim, justru berbicara pada saat suara azan dikumandangkan. Kadang hal ini aku temui juga pada saat rapat, setelah azan selesai rapat tetap dilanjutkan.
Tradisi diam dan duduk tenang saat terdengar suara azan baru aku alami saat berada di Pekanbaru ini. Mungkin karena dulu aku aku belum tau jawaban kalimat azan. Dan kebiasaanku juga dari kecil dulu, kalau terdengar azan, ibuku cepat2 menyuruh kami untuk berwudhu dan pergi shalat ke mesjid. Kalau kami tidak ke mesjid beliau akan marah. Jadi azan kami jawab dengan bergegas berwudhu dan menuju mesjid. Ketika aku telah mengetahui jawaban kalimat azan, aku menanggapinya dengan tidak berbicara, menjawab setiap kalimat sambil mempersiapkan diri untuk ke mesjid. Banyak aktivitas yg dilaksanakan pada saat yg bersamaan. Tidak hanya diam dan duduk tenang.
Lagi-lagi ini pemikiranku semata. Mohon maaf untuk teman-teman yg merasa tidak senang dengan postinganku ini.

