0
Serasa Tidak Kompeten
Posted by Desi
on
7:28 PM
Lagi-lagi aku tdk bisa mengendalikan emosi di masa pms ini. Sebagai akibatnya lagi-lagi mahasiswa yang jadi korban. Dan yang lebih parah lagi aku tidak sengaja menginjak kakinya dengan high heels ku. Tapi entah si anak terlalu sopan atau dia terlalu takut entah dia terlalu bodoh. Sudah jelas kakinya ku injak tapi dia diam saja. Sehingga waktu aku merasa kalau ada kaki yang terinjak, itu sudah beberapa lama dari waktu sebenarnya yang kurasakan. Aku terlalu fokus dengan mengkoreksi jawaban mahasiswa dan tidak sadar kalau ada kaki yang terinjak. Dan si anak sudah menangis saja di sudut karena memang kebetulan dia duduknya di sudut.
Yang membuat dia tambah menangis karena kerjaannya bermasalah. Bahasa program yang dia buat tidak jalan. Saat aku merasa masalahnya ada di penamaan file link, dia tanpa sengaja kehilangan 1 file sehingga terpaksa harus mengetik ulang. Sementara teman-temannya sudah pada pulang. Hanya tinggal beberapa orang mahasiswa saja yang belum selesai.
Setelah dia ketik ulang, justru tetap tidak jalan.
Waktu pulang aku menawarkan untuk mengantarnya pulang karena kebetulan dia naik bis, tapi dia tidak mau. Aku memperparah dengan mengatakan bahwa kalau dia tidak mau berarti dia masih marah. Walau begi dia tetap tidak mau. Akhirnya dia tetap pulang dengan teman-temannya.
Sebenarnya pemicu emosi adalah hal lain. Seharusnya matakuliah yang aku ampu siang ini berdua. Tapi partnerku meninggalkanku dengan alasan mau ngasih bimbingan mahasiswa pulang magang. Padahal itu tidak lama, tapi dia tidak juga kembali hingga 1 jam menjelang selesai. Sedangkan aku sudah kewalahan di kelas menghadapi mahasiswa yang bermasalah dengan pekerjaannya.
Hari ini aku pulang dengan perasaan campur aduk. Emosi masih tertahan dan sebagian pikiran dan hati berdialog, apakah aku sudah begitu tidak kompetennya jadi pengajar dan jadi manusia.
Yang membuat dia tambah menangis karena kerjaannya bermasalah. Bahasa program yang dia buat tidak jalan. Saat aku merasa masalahnya ada di penamaan file link, dia tanpa sengaja kehilangan 1 file sehingga terpaksa harus mengetik ulang. Sementara teman-temannya sudah pada pulang. Hanya tinggal beberapa orang mahasiswa saja yang belum selesai.
Setelah dia ketik ulang, justru tetap tidak jalan.
Waktu pulang aku menawarkan untuk mengantarnya pulang karena kebetulan dia naik bis, tapi dia tidak mau. Aku memperparah dengan mengatakan bahwa kalau dia tidak mau berarti dia masih marah. Walau begi dia tetap tidak mau. Akhirnya dia tetap pulang dengan teman-temannya.
Sebenarnya pemicu emosi adalah hal lain. Seharusnya matakuliah yang aku ampu siang ini berdua. Tapi partnerku meninggalkanku dengan alasan mau ngasih bimbingan mahasiswa pulang magang. Padahal itu tidak lama, tapi dia tidak juga kembali hingga 1 jam menjelang selesai. Sedangkan aku sudah kewalahan di kelas menghadapi mahasiswa yang bermasalah dengan pekerjaannya.
Hari ini aku pulang dengan perasaan campur aduk. Emosi masih tertahan dan sebagian pikiran dan hati berdialog, apakah aku sudah begitu tidak kompetennya jadi pengajar dan jadi manusia.

