Ujian atau Azab ?
Trauma gempa dua tahun yang lalu masih ci rasakan. Gempa yang berpusat di Mentawai tanggal 10 April 2005, dengan 3 gempa utama besar yang skalanya ci lupa. Waktu itu ci masih di Padang, secemasnya-cemasnya menghadapi gempa, jika kita menghadapinya bersama keluarga, rasanya ketakutan itu bisa kita atasi. Tapi sekarang, ci berjauhan dengan keluarga dan orang2 yg disayang.
Ditambah lagi dengan "my special one" lagi sakit. Kemaren pagi ci merasa senang karena dia sudah baikan. Walau sempat cemas waktu gempa terjadi karena dia ada di RS lantai lima. Tapi jadi terhibur karena siangnya dia sudah dibolehkan pulang. Tapi tadi pagi, dia dalam kondisi demam, bekas operasinya mengalami peradangan. Lalu yg akan menjaganya juga tidak ada. Ingin segera pulang ke Padang. Sejak pagi tadi hanya bisa menangis dan terus berdoa kepada Allah. Mohon berikan kesembuhan, pertolongan dan penjagaan Allah untuknya. Benar-benar saat ini pikiran tidak di tempat kerja.
Berjauhan dalam kondisi yang menakutkan seperti ini menimbulkan kepanikan dan tidak bisa konsentrasi. Pikiran dipenuhi dengan hal-hal buruk. Jadi ingat sewaktu gempa dua tahun yg lalu, ada seorang teman sedang kuliah di Jakarta, dia cemas dengan keluarganya di Padang. Dia mengeluarkan statement : lebih baik mati bersama dengan keluarganya dan orang-orang yg dicintai, daripada hidup sendiri tanpa keluarga walau di tempat aman.
Bagi ci, sepertinya Allah sedang menurunkan kemarahan Nya atas dosa-dosa yg telah ci lakukan. Tapi ci jadi ingat, Allah itu seperti persangkaan hamba Nya. Setelah curhat sama Rika, Alhamdulillah cukup membantu, ci sadar kalau ci tidak boleh berpikiran negatif. Hentikan berpikir hal-hal yang menakutkan. Tidak boleh ber su'uzhan kepada Allah. Selalu berpikir positif dan husnuzhan pada Allah karena sekali lagi, Allah itu sesuai prasangkaan hamba Nya.
Kadang suatu peristiwa yg kita pikirkan terjadi, lalu kita langsung mengatakan kalau kita seperti punya indera ke enam. Padahal Allah memang sudah menakdirkan hal itu terjadi, karena ada sebab yg memicunya, bukan karena pikiran kita itu. Jadi ingat taushiah Agus Mustofa dalam bukunya Mengubah Takdir dan 'Aidh Al Qarni dalam buku-bukunya yg selalu menenangkan hati. Dunia ini hanya ada tiga hari yaitu hari kemaren yg telah berlalu, besok yang belum pasti dan hari ini yang menjadi milik kita. Hari ini merupakan waktu untuk merencanakan esok hari. Maka manfaatkanlah hari ini agar mimpi yang sekarang bisa terwujud besok hari.
Ya Allah yang Maha Pengampun, Maha Pemaaf, Maha Pemurah, Maha Pengasih dan Maha Penyayang hamba mohon ampunan Mu, Maaf Mu, Pertolongan Mu, Kasih dan Sayang Mu untuk hamba, untuk uda, untuk keluarga hamba, dan untuk masyarakat Sumbar. Amiin...

