3

Historical Cost vs Fair Value

Posted by Desi on 2:21 PM

Waktu seminar Akuntansi di kampus hari kamis kemaren, dengan pembicara Pak Eddy Rasyid, aku seperti disadarkan dari tidur lelap. Bahwa ilmu akuntansi yg sangat dinamis itu sdh jauh berubah. Dan sekarang bersiap untuk menggunakan standar baru. Dikala semua orang sibuk dengan masalah ekonomi global yg terjadi saat ini. Ternyata pengelola perusahaan di Indonesia harus menerima kenyataan bahwa asset mereka tdk lagi disajikan dengan konsep historical cost nya, tapi sdh harus menggunakan Fair Value.

Perubahan standar ini sudah mulai berlaku untuk tahun buku 2008. Ada beberapa PSAK yang sudah selesai direvisi, yaitu PSAK 16 (Fixed Asset), PSAK 30 (leasing), PSAK 24 (Pensiun), PSAK 13 (properti). Dan saat ini masih dalam bentuk explosure draft yaitu PSAK 14 (persediaan) dan PSAK 23 (borrowing cost).

Waktu kuliah dulu, setahu aku revaluasi aktiva tetap tdk boleh dilakukan kecuali ada kebijakan dari pemerintah dan saat terjadi penggabungan usaha. Namun dengan berubahnya acuan standar akuntansi sekarang, yang mulai beralih ke International Standar (IFRS), berarti revaluasi bukan hal yg terbatas lagi pelaksanaannya. Implikasinya, lapangan pekerjaan sebagai appraisal akan sangat berkembang.

Penyajian aktiva tetap di neraca tdk lagi menampilkan harga perolehan less akumulasi penyusutan, tapi sebesar nilai wajarnya. begitu juga untuk intangible asset, tdk ada lagi penyusutan aktiva tdk berwujud. Konsep leasing juga akan berubah drastis.

Berarti, dengan adanya perubahan penilaian dan cara penyajian terhadap item2 pada laporan keuangan tahun 2008, menuntut perusahaan juga melakukan penilaian dan penyajian ulang terhadap item pada tahun 2007. Contohnya untuk aktiva tetap tadi. Tdk mungkin tahun 2008 F/A disajikan dalam nilai wajar, sedangkan th 2007 masih pakai historical cost. Kita tahu bahwa penyajian 1 th laporan keuangan selalu digandeng dengan tahun sebelumnya, sebagai pembanding kinerja. Jika yg mau dibandingkan saja berbeda penyajian dan penilaiannya, tentu akan menyulitkan bagi pembaca. Sehingga laporan keuangan tdk informatif.

Perubahan standar akuntansi ini dilakukan karena adanya tuntutan bahwa laporan keuangan sifatnya global. Pemakai laporan keuangan tdk hanya 1 orang dari 1 negara saja, tapi siapapun dari negara manapun dan bahasa apapun. Sehingga 1 laporan keuangan perusahaan di Indonesia, jika dipublish, bisa dibaca oleh orang lain yg berada di Inggris, Amerika, Swiss, Perancis dan seluruh dunia. Jadi laporan keuangan tdk lagi dibuat berdasarkan lingkungan entitas itu berada, tapi sdh mencalup lingkungan global.

Dengan terjadinya perubahan ini, dituntut setiap orang, terutama yg berkaitan dengan dunia akademisi, harus meningkatkan ilmu akuntansi dan teknik mengajarnya. Tentu saja aku termasuk sebagai salah satunya.

Kuliah dengan Pak Eddy beberapa hari yg lalu itu, membuatku seperti kembali berada di kampus Unand limau manis tercinta, jadi mahasiswa lagi. Ternyata aku sdh sangat ketinggalan dalam ilmu akuntansi.

Tiga jam yang sangat bermanfaat, malah sempat reuni dengan senior angkatan 90-an. Sayang waktu begitu cepat berlalu, ingin dapat pencerahan lebih banyak lagi dari beliau.

3 Comments


yg aku ingat dr kuliah dg Pak Eddy R Rasyid ya susah jawab pertanyaannya. AAnak Ing jd bego' semua. Emang sih kuliah ama doktor begitu gak bicara angka lagi, tp filosofi. Tu kan akuntansi yg applied aja ada filosofinya.

Mnrt Pak Eddy, akuntansi msh diajarkan masih pd tataran clerical aja, blm pd prinsip yg mendasari akuntansi itu sendiri.

Historical / fair value yg pntng tentunya adl mampukah konsep itu menunjukkan keadaan / nilai sbnrnya dari suatu aset sehingga bs dijadikan acuan / basis data u kebijakan2 yg mengacu ke masa depan.

Hukum2 fisika diciptakan u menerangkan keadaan sebenarnya dari semesta. Ketika teori Einstein lebih mampu menjelaskan ketimbang Newton, maka tergusurlah Newton. Begitu pun ketika Hawking melampaui pencapaian Einstein.

Ilmu sejarah dipelajari u/ memahami darimana kita sehingga bs dijadikan basis u menjawab akan kemana kita.

Masalah kedua, para akuntan seringkali dianggap berkacamata kuda. Pdhl tren keilmuan saat ini adl multi disiplin atau lintas disiplin. Sinergi antar ilmu ini akan memberikan pandangan holistik, dlm konteks akuntansi ttnya ia akan lebih mampu menopang bisnis / perekonomian.

Bukan begitu bukan .. ?

(ayo diskusi :)


Yup, benar... dan beliau masih seperti yg kita kenal waktu di kampus dulu dan masih menganggap banyak akuntan sekarang yg masih pakai kacamata kuda.

ilmu akuntansi bukan ilmu yg statis, sangat fleksibel dan sebaiknya dikombinasikan dengan disiplin ilmu yg lain. sehingga analisis terhadap perekonomian lebih baik.

contohnya saja kasus ekonomi global yg terjadi saat ini. kalau kita telusuri akar permasalahannya belum tentu dari disiplin akuntansi (walaupun sekarang sedang diselidiki apakah ini ada kasusnya dengan para akuntan).

Memang tujuan utama perubahan standar ini adalah untuk menetapkan basis untuk kebijakan ke depan. semula standar akuntansi berbasis rules (rules based, kedepan akan diarahkan menjadi concepts based.

Sehingga apapun perkembangan yg terjadi dalam prakteknya, bisa ditampung/diselesaikan dengan prinsip/konsep yg baru ini.


Assalamualaikum Ci,
1. Maaf baru tau ci alamat blog nya.
2. Lulurnya db wktu itu khawatir kalo kelamaan bln nov nanti ng baru, jadi ide db sebenarnya klo ci dah ke padang info adik db (tp ini lupa update ke cie karna sibuk beli oleh2 buat orang jkt). Nanti ketemuan ama sari, bisa di Gramed atau dimana Gimana cie..
3. Ngomongin soal PSAK, kemaren db diundang oleh Ernest and Young tau ng yang bicara siapa? Pak Roy dan Pak Hary Manurung itu..yang ngebuat PSAK No. 16, dan 30, Kebetulan exposure dept db psak 30 lebih ke leasing. Ilmu akuntansi berkembang. Konsep Cost value dianggap juga sdh tidak valid. Dan sekarang bukan masalah materiality tapi masalah hati nurani. Seorang akuntan intinya harus kembali ke hati nurani. Bener2 inget waktu kuliah ama Pak Sayuti.
---- psak ohh psak ----
4. Ya db lagi berada dititik persimpangan..jadi mellow mellow dikit hiks hikss..

Copyright © 2009 Edelweiss All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.