0

Three Cups of Tea

Posted by Desi on 9:10 AM

Cangkir teh pertama, engkau adalah orang asing. Cangkir teh kedua engkau adalah sahabat kami. Cangkir teh ketiga engkau adalah bagian dari kami dan Kami akan berjuang jiwa dan raga untukmu. (Haji Ali, Numadhar Korphe)

Menceritakan kembali kisah Greg Mortenson dalam usaha membangun sekolah-sekolah terutama untuk anak2 perempuan di Pakistan dan Afganistan dalam usaha untuk mewujudkan perdamaian.

Greg Mortenson adalah seorang pendaki gunung yg berasal dari Amerika. Gagal dalam usaha pendakian K2 (Korakoram), puncak gunung no.2 tertinggi di dunia di Himalaya, Greg terdampar di sebuah desa yg tdk ditemukan di peta yaitu Korphe. Dia diselamatkan oleh Haji Ali.

Waktu melihat anak2 perempuan di Korphe yg belajar di luar ruangan dengan menggores-goreskan kayu ke tanah, membuat Greg memutuskan untuk mendedikasikan hidupnya untuk memberikan pendidikan bagi anak-anak muslim yg berada di daerah2 miskin di Pakistan dan Afganistan. Dia berjanji kepada Haji Ali akan kembali dan membangun sekolah untuk anak2 di Korphe.

Dalam usahanya untuk mengumpulkan dana bagi pembangunan sekolah tersebut, dia harus menulis 580 surat ke berbagai kalangan. Dia hanya mendapat 4 balasan. Dia harus menjual semua yg dia miliki, sampai akhirnya dia mendapatkan dana dari Joel Hoerni. Dana yg dia ajukan itu pun benar2 murni untuk pembangunan sekolah, sedangkan untuk kebutuhannya selama diperjalanan diambilnya dari menjual mobil tuanya La Bamba.

Dalam 1 dekade, Greg berhasil membangun tdk kurang dari 51 sekolah di Pakistan dan Afganistan. Greg Percaya bahwa akar permasalahan terorisme sebenarnya berasal dari kurangnya pendidikan masyarakat. Sehingga masalah terorisme akan bisa diselesaikan hanya dengan jalur pendidikan, bukan dengan rudal dan kalashnikov.

Perjalanan Greg ini ditulis oleh David Oliver Relin. Membaca buku ini seperti membaca berita di koran. Kadang sebagai orang pertama, kadang sebagai orang kedua dan ketiga. Perlu konsentrasi di awal bab dan agak sedikit membosankan. Namun saat sdh mendekati klimaks pembangunan sekolah pertama, mulai menarik.

Luar biasa karena ada seorang Amerika yg mau berjuang untuk Muslim. Namun sayang, Greg tdk mendapatkan hidayah Allah untuk mengikrarkan kalimat syahadat, meskipun dia sdh melakukan kegiatan2 seperti seorang muslim.

Buku ini ci rekomendasikan untuk dibaca. Apalagi bagi orang-orang yg selama ini hanya banyak berbicara dan sibuk dengan kegiatan aktivis2 namun tdk pernah mengimplementasikan langsung orasinya dengan berkorban secara pribadi. Seperti yg dilakukan Greg. Dan menurut ku tdk banyak orang Indonesia yg berani melakukan hal ini. Karena mereka hanya berani bicara tdk berbuat. Menghujat tapi tdk memberikan solusi dan menyelesaikannya.

Orang seperti Greg inilah yg pantas mendapatkan gelar pahlawan. Bukan yg mati saat demo kemudian diberi gelar pahlawan reformasi, pahlawan revolusi atau sebagainya. Tdk penting siapa anda, kedudukan di suatu organisasi, sering memimpin demo, tapi apa yg sdh anda berikan dan korbankan untuk orang lain.

Let's Talk Less and Do More.

0 Comments

Copyright © 2009 Edelweiss All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.