Pemimpin itu...
Menjadi seorang pemimpin tdk harus memperlihatkan wibawa dg cara yg kejam atau diktatornya. Pemimpin juga tdk melulu hanya berpikir dan lalu memerintahkan. Tapi pemimpin itu juga harus terjun langsung ke lapangan. Supaya dia tau, apakah dia sdh menjadi seseorang yg manusiawi atas apa yg dia pimpin.
Pemimpin yang baik itu tdk melepaskan kesalahannya pada bawahannya. Dan menurutku, jika seorang bawahan kena marah oleh pimpinan tertinggi atau oleh org yg berada 2 level atau lebih di atasnya, itu berarti si atasan yg langsung membawahinya bukan pemimpin yg baik. Jika bawahan salah, harusnya atasan langsung yg boleh memarahinya. Dan yang harus menanggung kemarahan level lebih tinggi harusnya si atasan langsung tersebut. Dia yg bertanggungjawab atas pekerjaan org yg dipimpinnya. Dia yang hrs menanggung kesalahan itu. Terserah kalau setelah itu dia akan melampiaskan kekecewaannya pada si bawahan. Saat si bawahan mendapat nilai gagal, hrsnya pemimpin itulah yg mendapat nilai gagal lebih dahulu.
Hal yg membuat aku miris, dalam sebuah rapat, melibatkan beberapa tingkat struktur organisasi, si pimpinan tertinggi melampiaskan kata2 kekecewaannya kepada level terendah. Padahal dia hanya sebagai pelaksana yg melakukan apa yg diperintahkan, bukan sebagai pengambil keputusan. Saat si level terendah ini jadi sasaran kekecewaan level tertinggi, atasan langsung level terendah justru diam tdk berniat membela sedikitpun. Yang ada malah dia ikut menambah-nambahkan kekecewaan pd bawahannya. Padahal dialah si pembuat keputusan.
Bukankah di institusi ini sebenarnya tdk ada atasan bawahan, karena pada dasarnya setiap unit kegiatan adalah penunjang agar kegiatan utama bisa terlaksana dg lancar.
Aku agak sedikit sewot dg beberapa org yg disebut sebagai pimpinan akhir2 ini. Sebab mereka tdk lagi bertindak seperti biasanya. Awal2nya masih normal, tapi akhir2 ini mulai berubah spt diktator. Kecuali yg aku jelaskan dalam postingan sebelumnya. Andai yg lain mencontoh kebaikannya.

