0

Akhir yang Berbeda

Posted by Desi on 12:48 PM
Tidak ada orang yang tau, akhir hidup mereka akan seperti apa. Dengan cara apa, bagaimana, dimana dan sedang apa, saat harus meninggalkan dunia ini. Karena tidak tau itulah kita harus bersiap-siap dan mempersipakan bekal yang harus dibawa. Perjalanan nanti akan lebih panjang daripada yang sedang dijalani saat ini.

Dua minggu yang lalu, salah seorang mahasiswiku meninggal, akibat penyakit jantung yg dideritanya. Padahal penyakit itu baru diketahui enam bulan sebelumnya. Tapi begitu singkat waktu yg tersisa sampai akhirnya Sang Maut datang menjemputnya. Namun itu yg terbaik baginya, karena penyakitnya benar2 membuat tubuhnya menderita. Allah sayang kepadanya.

Menurut cerita seorang teman yg datang melayat ke rumah Almarhumah, dia mendapatkan cerita dari orang tua Almarhumah, semalam sebelum kepergiannya, dia ingin mengajak adiknya ke suatu tempat yg sangat indah. Tapi diajaknya hanya si adik, mama n papanya belum boleh katanya. Aku jadi merinding mendengar cerita itu.

Ada lagi akhir yg berbeda dari ibu mertua teman sekantorku. Ibu mertuanya meninggal karena kecelakaan mobil. Di dalam mobil itu hanya ada 3 penumpang + 1 sopir. Sopir travel yg dinaikinya kabur, sedangkan penumpang yg lain hanya luka ringan. Satu-satunya penumpang yg meninggal dalam peristiwa tersebut adalah ibu mertua temanku ini, dengan kondisi wajahnya tdk bisa dikenali. Sungguh tragis, tapi itulah akhir yg harus dia jalani sesuai dengan janji di alam rahim dulu.

Saat ini aku sedang membaca kisah Randy Pausch, dengan judul bukunya "The Last Lecture". Randy adalah seorang profesor di bidang IT. Buku tersebut merupakan perjalanan kisahnya berjuang menghadapi kanker pankreas. Dokter memprediksikan umurnya sekitar 3 sampai 6 bln, sejak dia divonis penyakit tersebut (ternyata Randy masih bisa melewati masa yg diperkirakan dokter dengan kondisi yg baik). Namun vonis itu justru membuat Randy berusaha bagaimana agar sisa hidupnya bisa berkualitas. Dia mempersiapkan waktu yg tersisa untuk memberikan pesan yg bermanfaat bagi 3 org anaknya yg masih kecil, sehingga saat dewasa nanti mereka tetap bisa merasakan cinta sang ayah, meskipun fisiknya tdk ada.

Pesan yang selalu dia ulang-ulang : jangan melihat tembok penghalang yg ada di depan sebagai penghalang, tapi pikirkanlah bahwa tembok itu ada karena suatu alasan.

Lalu dia juga berkata : gigih itu sifat terpuji, tapi bukan berarti setiap orang harus tahu dan melihat bagaimana kerasnya kita berusaha.

Randy akhirnya meninggal tanggal 25 Juli 2008, dalam usia 47 th, dengan 10 tumor di lever-nya.

Bagaimana dengan kita, apa yg telah kita lakukan untuk menghadapi akhir yg tdk diketahui itu?

Tembok itu berdiri di sana karena ada alasan tertentu, memberi kita kesempatan untuk menunjukkan sekuat apa kita berjuang untuk mendapatkan sesuatu

0 Comments

Copyright © 2009 Edelweiss All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.