0
Dibenci Nafsuku
Posted by Desi
on
4:20 PM
Aku masih ingat kenapa dulu (kira2 3 th 3 bln yg lalu) aku teguh dengan pendirian untuk memilih bekerja di Pekanbaru. Padahal tinggal di kota ini adalah hal yg paling tdk aku inginkan. Rasa tdk suka itu bukan sekedar terbersit dalam hati, tapi sampai sdh terucapkan dengan lidah ini. Ternyata Allah membalikkan ucapan itu.
Waktu membuat keputusan itu entah kenapa, aku begitu mantap sampai2 dengan tenang dan tanpa penyesalan melepaskan tes ke2 BPK (yah walaupun aku ikut tes ke2 nya blm tentu lulus sih). Hal yg paling jelas dalam hati ku saat itu adalah pergi ke pku merupakan sesuatu yg tdk disukai oleh nafsu-ku. Yah.. aku memilihnya karena nafsuku membenci pilihan itu.
Aneh sekali, entah kenapa saat itu hati dan akalku kompak mengambil keputusan itu. Dan sampai2 aku dengan ceria dan sok pede menceritakan hal ini pada sepupuku. Yah... sebenarnya ada sebabnya kenapa sampai2 istilah yg agak jarang di dengar ini sampai terpikir. Saat itu adalah saat pertama aku mulai suka dan jatuh cinta pada seseorang.
Sebenarnya kesempatan untuk pergi ke Pekanbaru itu sdh pernah ada sekitar 4 bln sebelumnya. Kesempatan di tempat dan dengan profesi yg sama. Tapi aku menolaknya karena ada perasaan takut kalau aku pergi aku tdk akan pernah bertemu lagi dengan org itu. Padahal waktu itu aku blm punya hub special dengannya. Hal yg sama kembali aku ulangi saat tes terakhir BI, dan akhirnya aku tdk lulus (cerita ini sdh sering aku ulang di blog ini).
Namun Allah memang sdh punya ketetapan, kita manusia hanya berencana. Justru kondisi jauh itulah yg membuat aku jadi dekat dengannya, dan saat sdh dekat justru jadi jauh, aneh memang. Tapi itulah hidup.
Sekarang, aku jadi lebih memahami lagi, kenapa Allah menetapkan hal tersebut. Sdh lama aku meninggalkan hal positif ini, dan sudah saatnya aku menerapkannya lagi. Terimakasih untuk email dari seorang senior yg berisi puisi ciptaan WS Rendra, puisi ini yg mengingatkanku lagi. Terimakasih.
Anugerah Gusti Allah
Seringkali aku berkata,
Ketika orang memuji milikku,bahwa sesungguhnya ini hanya titipan
bahwa mobilku hanya titipanNya
bahwa rumahku hanya titipanNya
bahwa hartaku hanya titipanNya
bahwa putraku hanya titipanNya
Tetapi,mengapa aku tak pernah bertanya,
mengapa Dia menitipkan padaku?
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku?
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milikNya ini?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya?
Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah
kusebut itu sebagai ujian, kusebut sebagai petaka
kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan bahwa itu adalah derita
Ketika aku berdoa,
kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,
aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak popularitas,
dan kutolak sakit, kutolak kemiskinan, seolah semua "derita" adalah hukuman bagiku
seolah keadilan dan kasihNya harus berjalan seperti matematika; aku rajin beribadah, maka
selayaknya derita menjauh dariku, dan nikmatdunia kerap menghampiriku
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, bukan kekasih
Kuminta Dia membalas "perlakuan baikku",
dan menolak keputusanNya yang tak sesuai keinginanku
Gusti....Padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah... "Ketika langit bumi bersatu,
bencana dan keberuntungan sama saja"
(WS.Rendra)
Waktu membuat keputusan itu entah kenapa, aku begitu mantap sampai2 dengan tenang dan tanpa penyesalan melepaskan tes ke2 BPK (yah walaupun aku ikut tes ke2 nya blm tentu lulus sih). Hal yg paling jelas dalam hati ku saat itu adalah pergi ke pku merupakan sesuatu yg tdk disukai oleh nafsu-ku. Yah.. aku memilihnya karena nafsuku membenci pilihan itu.
Aneh sekali, entah kenapa saat itu hati dan akalku kompak mengambil keputusan itu. Dan sampai2 aku dengan ceria dan sok pede menceritakan hal ini pada sepupuku. Yah... sebenarnya ada sebabnya kenapa sampai2 istilah yg agak jarang di dengar ini sampai terpikir. Saat itu adalah saat pertama aku mulai suka dan jatuh cinta pada seseorang.
Sebenarnya kesempatan untuk pergi ke Pekanbaru itu sdh pernah ada sekitar 4 bln sebelumnya. Kesempatan di tempat dan dengan profesi yg sama. Tapi aku menolaknya karena ada perasaan takut kalau aku pergi aku tdk akan pernah bertemu lagi dengan org itu. Padahal waktu itu aku blm punya hub special dengannya. Hal yg sama kembali aku ulangi saat tes terakhir BI, dan akhirnya aku tdk lulus (cerita ini sdh sering aku ulang di blog ini).
Namun Allah memang sdh punya ketetapan, kita manusia hanya berencana. Justru kondisi jauh itulah yg membuat aku jadi dekat dengannya, dan saat sdh dekat justru jadi jauh, aneh memang. Tapi itulah hidup.
Sekarang, aku jadi lebih memahami lagi, kenapa Allah menetapkan hal tersebut. Sdh lama aku meninggalkan hal positif ini, dan sudah saatnya aku menerapkannya lagi. Terimakasih untuk email dari seorang senior yg berisi puisi ciptaan WS Rendra, puisi ini yg mengingatkanku lagi. Terimakasih.
Anugerah Gusti Allah
Seringkali aku berkata,
Ketika orang memuji milikku,bahwa sesungguhnya ini hanya titipan
bahwa mobilku hanya titipanNya
bahwa rumahku hanya titipanNya
bahwa hartaku hanya titipanNya
bahwa putraku hanya titipanNya
Tetapi,mengapa aku tak pernah bertanya,
mengapa Dia menitipkan padaku?
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku?
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milikNya ini?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya?
Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah
kusebut itu sebagai ujian, kusebut sebagai petaka
kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan bahwa itu adalah derita
Ketika aku berdoa,
kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,
aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak popularitas,
dan kutolak sakit, kutolak kemiskinan, seolah semua "derita" adalah hukuman bagiku
seolah keadilan dan kasihNya harus berjalan seperti matematika; aku rajin beribadah, maka
selayaknya derita menjauh dariku, dan nikmatdunia kerap menghampiriku
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, bukan kekasih
Kuminta Dia membalas "perlakuan baikku",
dan menolak keputusanNya yang tak sesuai keinginanku
Gusti....Padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah... "Ketika langit bumi bersatu,
bencana dan keberuntungan sama saja"
(WS.Rendra)

