2

High Cost

Posted by Desi on 7:35 AM
Ternyata tinggal di provinsi penghasil minyak tidak bisa menjamin ketersediaan minyak tanah di negeri ini ada setiap saat. Bahkan harga ecerannya pun di sini lebih mahal dibanding dengan di daerah lain ( ex : Padang ). Sudah seminggu ini ci lihat di dua warung terdekat, minyak tanah yg akan dijual sudah habis. Padahal persediaan minyak tanah di rumah pun sudah menipis. Wah terancam harus beli makan keluar terus nich.
Berdasarkan pengalaman selama setahun ini, klo minyak tanah sudah susah, bisa-bisa masuknya satu bulan sekali. Dan itu pun pada tanggal2 pertengahan bulan. Kalau tidak bisa masak berarti harus beli makanan jadi. Berarti lagi, bulan ini agak boros karena apa saja di sini tergolong mahal. Apalagi sekarang masih tanggal 25 Januari, harus nunggu lama untuk sampai ke pertengahan bulan berikutnya.

Berdasarkan pengakuan beberapa teman, ternyata biaya hidup di Pekanbaru lebih tinggi daripada di Jakarta. Pertama, di sini tidak banyak alternatif dibandingkan dengan di Jakarta, terutama dari segi makanan. Kedua, yg menjadi standar harga di sini adalah pegawai. Kalau di Jakarta, mungkin banyak didapati warteg yg harganya standar anak kost lah, sedang di sini, yang jadi standar adalah pekerja / pegawai yang notabene kerja di Chevron ( dulu Caltex ). Tiga, dari segi transportasi jauh dekat tarifnya sama. Jadi kalau mau kesuatu tempat yg tidak terlalu jauh, rasanya rugi banget harus bayar Rp 2.000,00. Kalau di Padang sich masih ditemukan angkot yg mau nerima ongkos kurang dari segitu jika jarak tempuh dekat. Di sini mana mau.... :(. Apalagi, di sini kalau mau kemana-mana, tidak bisa satu kali naik angkot, jalurnya di sini mutar-mutar. Bahkan pertukaran dari satu angkot ke angkot yg lain jaraknya dekat.

Intinya, harus pandai -pandai ngatur keuangan dan mengatur kegiatan. Usahakan jika mau keluar / ke kota ( istilah org Rumbai klo mau ke Pekanbaru ) untuk membeli kebutuhan, data dulu semua kebutuhan supaya tidak sering-sering naik angkot, hehe...
Dan taktik untuk mengatasi kelangkaan minyak tanah...harus beli gentong minyak tanah yg lebih gede nich, biar cukup untuk nyimpan minyak selama satu bulan.... :D

3

Met Tahun Baru Hijriah

Posted by Desi on 9:26 AM
Met Tahun Baru Hijriah teman.....;)
Tapi sayang, perayaan tahun baru hijriah tidak semeriah tahun baru masehi. Tidak hanya dari perayaan, ucapan lewat sms pun ga ada. Menyedihkan....
Tapi yg penting bukan sekedar ucapan, tapi realisasi dari tindakan. Apakah tindakan perbaikan atau pun tindakan untuk peningkatan. Berniat untuk yg lebih baik boleh, tapi akan lebih baik jika niat segera direalisasikan. Jangan sampai niat baik itu didahului oleh rasa malas sehingga tidak jadi terealisasi.

3

Sebab Akibat

Posted by Desi on 8:07 AM
Wah...hari yang menegangkan dan hueboh banget.....comment sana sini...emosi yg tak terkendali dan bla...bla...bla...

Akhirnya demi kemaslahatan semua orang ci putuskan untuk men-delete blog yang penuh kontroversi itu. Yah sebenarnya sayang sich, itu kan hasil karya yg muncul secara spontan dan mengalir lancar waktu penulisannya. Tapi sebagai bukti ketulusan, masalah penghapusan itu bukan hal yg perlu disayangkan.

Dan karena ke-sportif-an itu dan atas ketidaknyamanan yg timbul, maka ci mengajukan permintaan maaf pada pihak2 yg merasa "dirugikan". Mohon kemurahan hati rekan-rekan semua karena aku hanya manusia yg tidak lepas dari segala sifat kemanusiaan yg ada. Mungkin 100% kesalahan itu ada pada diri ci, sedang orang lain semuanya benar. Tapi karena ci lebih mengharapkan redha dan maaf dari Allah. Tidak perlu penghargaan dari manusia. Dan meminta maaf itu lebih mulia daripada memberi maaf. Maka ci dengan senang hati dan Insya Allah tulus mengucapkan ini.

Benar dan salah itu akan muncul sendiri kok, baik itu kebenaran dan kesalahan yg ada di hati, maupun yg berasal dari tindakan. Karena kebenaran itu bisa berbicara. Dan sifatnya kebenaran akan selalu mencari jalan menuju kejelasan.

Ci jadi ingat kata-kata Agus Mustafa dalam bukunya yang berjudul "Mengubah Takdir", kehidupan di dunia ini mengikuti alur sebab akibat. Ada sebab dulu baru ada akibat. Jadi kenapa ci membuat blog yg penuh kontroversi? Karena ada sebabnya yaitu kemarahan. Kenapa bisa muncul kemarahan? Karena ada hal yg tidak sesuai dg prinsip dan hati nurani yg ci alami dan ci liat dg mata, terlepas dari itu benar atau salah. Benar salah itu juga tergantung kita liat dari sudut mana.

Jadi kalau ingin mendapatkan sesuatu dari org, ya beri dulu org lain sesuatu. Semakin banyak memberi, akan semakin banyak menerima, seperti yg pernah di ucapkan sari dalam blognya dan comment hera di situ. Jangan hanya mengharapkan orang yg selalu memberi. Kalaupun ada org yg selalu mau memberi, tapi kita tidak berusaha membalasnya, itu pun ada batasnya, lama2 dia akan bosan, namanya juga manusia.

So, jika mau dimengerti dan dihargai orang, hargai orang lain dulu, maka orang akan mengerti dan menghargai kita. Kalau semua orang mau mengutamakan orang lain dulu, maka akan damai lah kehidupan, karena setiap diri akan berusaha memahami secara timbal balik. Otomatis saling memberi dan menerima itu terjadi tanpa harus meminta, iya kan...?

Intinya, introspeksi diri dulu, liat sebab akibatnya, baru bicara. Mudah-mudahan post ini tidak menimbulkan kontroversi lagi, tapi diskusi yg sifatnya mendidik dan damai serta tidak ada hujatan2.
Wallahu a'lam....

0

Be Yourself

Posted by Desi on 12:00 PM
Tak di sangka ternyata posting kemaren "Profesionalitas" mengundang banyak comment. Seru dan panas sekali hehehe...

For me, a blog means a diary, I can explore antything in my mind and my heart here. I know you have blog too, and it's more than diary for you, am I wrong?

And as I know, this blog just for some people. So I just share it to my soulmates ( best friend ). So, what is the problem with you guys ( Anonymous ). If you have a problem with me, why don't you come to me. Talk with me, and finish it directly face to face. I'm not scare. If I made a mistake, I will ask your apologize, but if I didn't make any mistake, I ask your sportiveness

I will not shame to realize my mistake. I'm proud to be an honest person, wheter honest to my self or people. Coz I don't want honor from human. I don't hope any prestigious from people. I am proud coz I can act as me, myself.

So guys, just be honest and be yourself. And be sportive, don't just be the main person in your mask. Show who the real you are. Coz the truth will be shown and the lier will be the loser.

Thank you for all the people who gave comments to my blog. Coz it means that you all care to me, hehehehe....

0

Ketika Derita Mengabadikan Cinta

Posted by Desi on 11:11 AM
Bagus untuk teman2 yang sedang meragukan cintanya kepada orang yang sedang mencintainya dan u siapa saja yang baca
Untuk yang melankolis, siapin ember untuk nampung air mata... :D

Ketika Derita Mengabadikan Cinta ( a real story )

----- Original ----- From: alumni_smun16_surabaya@yahoogroups.com


"Kini tiba saatnya kita semua mendengarkan nasihat pernikahan untuk kedua mempelai yang akan disampaikan oleh yang terhormat Prof. Dr. Mamduh Hasan Al-Ganzouri. Beliau adalah Ketua Ikatan Dokter Kairo dan Dikrektur Rumah Sakit Qashrul Aini, seorang pakar syaraf terkemuka di Timur Tengah, yang tak lain adalah juga dosen kedua mempelai.
Kepada Professor dipersilahkan. .." Suara pembawa acara walimatul urs itu menggema di seluruh ruangan resepsi pernikahan nan mewah di Hotel Hilton Ramses yang terletak di tepi sungai Nil, Kairo.
Seluruh hadirin menanti dengan penasaran, apa kiranya yang akan disampaikan pakar syaraf jebolan London itu. Hati mereka menanti-nanti mungkin akan ada kejutan baru mengenai hubungan pernikahan dengan kesehatan syaraf dari professor yang murah senyum dan sering nongol di televisi itu.

Sejurus kemudian, seorang laki-laki separuh baya berambut putih melangkah menuju podium. Langkahnya tegap. Air muka di wajahnya memancarkan wibawa. Kepalanya yang sedikit botak, meyakinkan bahwa ia memang seorang ilmuan berbobot. Sorot matanya yang tajam dan kuat, mengisyaratkan pribadi yang tegas. Begitu sampai di podium, kamera video dan lampu sorot langsung shoot ke arahnya. Sesaat sebelum bicara,seperti biasa, ia sentuh gagang kacamatanya, lalu...

Bismillah, alhamdulillah, washalatu was salamu'ala Rasulillah, amma ba'du. Sebelumnya saya mohon ma'af , saya tidak bisa memberi nasihat lazimnya para ulama, para mubhaligh dan para ustadz. Namun pada kesempatan kali ini perkenankan saya bercerita. Cerita yang hendak saya sampaikan kali ini bukan fiktif belaka dan bukan cerita biasa. Tetapi sebuah pengalaman hidup yang tak ternilai harganya, yang telah saya kecap dengan segenap jasad dan jiwa saya. Harapan saya, mempelai berdua dan hadirin sekalian yang dimuliakan Allah bisa mengambil hikmah dan pelajaran yang dikandungnya. Ambillah mutiaranya dan buanglah lumpurnya. Saya berharap kisah nyata saya ini bisa melunakkan hati yang keras, melukiskan nuansa-nuansa cinta dalam kedamaian, serta menghadirkan kesetiaan pada segenap hati yang menangkapnya.

Tiga puluh tahun yang lalu ... Saya adalah seorang pemuda, hidup di tengah keluarga bangsawan menengah ke atas. Ayah saya seorang perwira tinggi, keturunan "Pasha" yang terhormat di negeri ini. Ibu saya tak kalah terhormatnya, seorang lady dari keluarga aristokrat terkemuka di Ma'adi , ia berpendidikan tinggi, ekonom jebolan Sorbonne yang memegang jabatan penting dan sangat dihormati kalangan elit politik di negeri ini. Saya anak sulung, adik saya dua, lelaki dan perempuan. Kami hidup dalam suasana aristokrat dengan tatanan hidup tersendiri. Perjalanan hidup sepenuhnya diatur dengan undang-undang dan norma aristokrat. Keluarga besar kami hanya mengenal pergaulan dengan kalangan aristokrat atau kalangan high class yang sepadan.

Entah kenapa saya merasa tidak puas dengan cara hidup seperti ini. Saya merasa terkukung dan terbelenggu dengan strata sosial yang didewa-dewakan keluarga. Saya tidak merasakan benar hidup yang saya cari. Saya lebih merasa hidup justru saat bergaul dengan teman-teman dari kalangan bawah yang menghadapi hidup dengan penuh rintangan dan perjuangan. Hal ini ternyata membuat gusar keluarga saya, mereka menganggap saya ceroboh dan tidak bisa menjaga status sosial keluarga. Pergaulan saya dengan orang yang selalu basah keringat dalam mencari pengganjal perut dianggap memalukan keluarga. Namun saya tidak peduli.

Karena ayah memperoleh warisan yan sangat besar dari kakek, dan ibu mampu mengembangkannya dengan berlipat ganda, maka kami hidup mewah dengan selera tinggi. Jika musim panas tiba, kami biasa berlibur ke luar negri, ke Paris, Roma, Sydney atau kota besar dunia lainnya. Jika berlibur di dalam negeri ke Alexandria misalnya, maka pilihan keluarga kami adalah hotel San Stefano atau hotel mewah di Montaza yang berdekatan dengan istana Raja Faruq.
Begitu masuk fakultas kedokteran, saya dibelikan mobil mewah. Berkali-kali saya minta pada ayah untuk menggantikannya dengan mobil biasa saja, agar lebih enak bergaul dengan teman-teman dan para dosen. Tetapi beliau menolak mentah-mentah. "Justru dengan mobil mewah itu kamu akan dihormati siapa saja" tegas ayah. Terpaksa saya pakai mobil itu meskipun dalam hati saya membantah habis-habisan pendapat materialis ayah. Dan agar lebih nyaman di hati, saya parkir mobil itu agak jauh dari tempat kuliah.

Ketika itu saya jatuh cinta pada teman kuliah. Seorang gadis yang penuh pesona lahir batin. Saya tertarik dengan kesederhanaan, kesahajaan, dan kemuliaan ahlaknya. Dari keteduhan wajahnya saya menangkap dalam relung hatinya tersimpan kesetiaan dan kelembutan tiada tara. Kecantikan dan kecerdasannya sangat menakjubkan. Ia gadis yang beradab dan berprestasi, sama seperti saya. Gayung pun bersambut. Dia ternyata juga mencintai saya. Saya merasa telah menemukan pasangan hidup yang tepat. Kami berjanji untuk menempatkan cinta ini dalam ikatan suci yang diridhai Allah, yaitu ikatan pernikahan.

Akhirnya kami berdua lulus dengan nilai tertinggi di fakultas. Maka datanglah saat untuk mewujudkan impian kami berdua menjadi kenyataan. Kami ingin memadu cinta penuh bahagia di jalan yang lurus. Saya buka keinginan saya untuk melamar dan menikahi gadis pujaan hati pada keluarga. Saya ajak dia berkunjung ke rumah. Ayah, ibu, dan saudara-saudara saya semuanya takjub dengan kecantikan, kelembutan, dan kecerdasannya. Ibu saya memuji cita rasanya dalam memilih warna pakaian serta tutur bahasanya yang halus. Usai kunjungan itu, ayah bertanya tentang pekerjaan ayahnya. Begitu saya beritahu, serta merta meledaklah badai kemarahan ayah dan membanting gelas yang ada didekatnya. Bahkan beliau mengultimatum: Pernikahan ini tidak boleh terjadi selamanya!

Beliau menegaskan bahwa selama beliau masih hidup rencana pernikahan dengan gadis berakhlak mulia itu tidak boleh terjadi. Pembuluh otak saya nyaris pecah pada saat itu menahan remuk redam kepedihan batin yang tak terkira. Hadirin semua, apakah anda tahu sebabnya? Kenapa ayah saya berlaku sedemikian sadis? Sebabnya, karena ayah calon istri saya itu tukang cukur....tukang cukur, ya...sekali lagi tukang cukur! Saya katakan dengan bangga. Karena, meski hanya tukang cukur, dia seorang lelaki sejati. Seorang pekerja keras yang telah menunaikan kewajibannya dengan baik kepada keluarganya. Dia telah mengukir satu prestasi yang tak banyak dilakukan para bangsawan "Pasha". Lewat tangannya ia lahirkan tiga dokter, seorang insinyur dan seorang letnan, meskipun dia sama sekali tidak mengecap bangku pendidikan. Ibu, saudara dan semua keluarga berpihak kepada ayah. Saya berdiri sendiri, tidak ada yang membela.

Pada saat yang sama adik saya membawa pacarnya yang telah hamil 2 bulan ke rumah. Minta direstui. Ayah ibu langsung merestui dan menyiapkan biaya pesta pernikahannya sebesar 500 ribu ponds. Saya protes kepada mereka, kenapa ada perlakuan tidak adil seperti ini? Kenapa saya yang ingin bercinta di jalan yang lurus tidak direstui, sedangkan adik saya yang jelas-jelas telah berzina, bergonta-ganti pacar dan akhirnya menghamili pacarnya yang entah yang ke berapa diluar akad nikah malah direstui dan diberi fasilitas maha besar? Dengan enteng ayah menjawab. "Karena kamu memilih pasangan hidup dari strata yang salah dan akan menurunkan martabat keluarga, sedangkan pacar adik kamu yang hamil itu anak menteri, dia akan menaikkan martabat keluarga besar Al Ganzouri."

Hadirin semua, semakin perih luka dalam hati saya. Kalau dia bukan ayah saya, tentu sudah saya maki habis-habisan. Mungkin itulah tanda kiamat sudah dekat, yang ingin hidup bersih dengan menikah dihalangi, namun yang jelas berzina justru difasilitasi.

Dengan menyebut asma Allah, saya putuskan untuk membela cinta dan hidup saya. Saya ingin buktikan pada siapa saja, bahwa cara dan pasangan bercinta pilihan saya adalah benar. Saya tidak ingin apa-apa selain menikah dan hidup baik-baik sesuai dengan tuntunan suci yang saya yakini kebenarannya. Itu saja. Saya bawa kaki ini melangkah ke rumah kasih dan saya temui ayahnya. Dengan penuh kejujuran saya jelaskan apa yang sebenarnya terjadi, dengan harapan beliau berlaku bijak merestui rencana saya.

Namun, la haula wala quwwata illa billah, saya dikejutkan oleh sikap beliau setelah mengetahui penolakan keluarga saya. Beliaupun menolak mentah-mentah untuk mengawinkan putrinya dengan saya. Ternyata beliau menjawabnya dengan reaksi lebih keras, beliau tidak menganggapnya sebagai anak jika tetap nekad menikah dengan saya.

Kami berdua bingung, jiwa kami tersiksa. Keluarga saya menolak pernikahan ini terjadi karena alasan status sosial , sedangkan keluarga dia menolak karena alasan membela kehormatan.Berhari-hari saya dan dia hidup berlinang air mata, beratap dan bertanya kenapa orang-orang itu tidak memiliki kesejukan cinta? Setelah berpikir panjang, akhirnya saya putuskan untuk mengakhiri penderitaan ini.

Suatu hari saya ajak gadis yang saya cintai itu ke kantor ma'dzun syari (petugas pencatat nikah) disertai 3 orang sahabat karibku. Kami berikan identitas kami dan kami minta ma'dzun untuk melaksanakan akad nikah kami secara syari'ah mengikuti mahzab imam Hanafi. Ketika Ma'dzun menuntun saya, "Mamduh, ucapkanlah kalimat ini : Saya terima nikah kamu sesuai dengan sunnatullah wa rasulih dan dengan mahar yang kita sepakati bersama serta dengan memakai mahzab Imam Abu Hanifah."

Seketika itu bercucuranlah air mata saya, air mata dia dan air mata 3 sahabat saya yang tahu persis detail perjalanan menuju akad nikah itu. Kami keluar dari kantor itu resmi menjadi suami-isteri yang sah di mata Allah SWT dan manusia. Saya bisikkan ke istri saya agar menyiapkan kesabaran lebih, sebab rasanya penderitaan ini belum berakhir.

Seperti yang saya duga, penderitaan itu belum berakhir, akad nikah kami membuat murka keluarga. Prahara kehidupan menanti di depan mata. Begitu mencium pernikahan kami, saya diusir oleh ayah dari rumah. Mobil dan segala fasilitas yang ada disita.Saya pergi dari rumah tanpa membawa apa-apa. Kecuali tas kumal berisi beberapa potong pakaian dan uang sebanyak 4 pound saja! Itulah sisa uang yang saya miliki sehabis membayar ongkos akad nikah di kantor ma'dzun. Begitu pula dengan istriku, ia pun diusir oleh keluarganya. Lebih tragis lagi ia hanya membawa tas kecil berisi pakaian dan uang sebanyak 2 pound, tak lebih! Total kami hanya pegang uang 6 pound atau 2 dolar!!!Ah, apa yang bisa kami lakukan dengan uang 6 pound?

Kami berdua bertemu di jalan layaknya gelandangan. Saat itu adalah bulan Februari, tepat pada puncak musim dingin. Kami menggigil, rasa cemas, takut, sedih dan sengsara campur aduk menjadi satu. Hanya saja saat mata kami yang berkaca-kaca bertatapan penuh cinta dan jiwa menyatu dalam dekapan kasih sayang, rasa berdaya dan hidup menjalari sukma kami.

"Habibi, maafkan kanda yang membawamu ke jurang kesengsaraan seperti ini. MaafkanKanda!"

"Tidak... Kanda tidak salah, langkah yang kanda tempuh benar. Kita telah berpikir benar dan bercinta dengan benar. Merekalah yang tidak bisa menghargai kebenaran.Mereka masih diselimuti cara berpikir anak kecil. Suatu ketika mereka akan tahu bahwa kita benar dan tindakan mereka salah. Saya tidak menyesal dengan langkah yang kita tempuh ini. Percayalah, insya Allah, saya akan setia mendampingi kanda, selama kanda tetap setia membawa dinda ke jalan yang lurus. Kita akan buktikan kepada mereka bahwa kita bisa hidup dan jaya dengan keyakinan cinta kita. Suatu ketika saat kita gapai kejayaan itu kita ulurkan tangan kita dan kita berikan senyum kita pada mereka dan mereka akan menangis haru. Air mata mereka akan mengalir deras seperti derasnya air mata derita kita saat ini," jawab isteri saya dengan terisak dalam pelukan.

Kata-katanya memberikan sugesti luar biasa pada diri saya. Lahirlah rasa optimisme untuk hidup. Rasa takut dan cemas itu sirna seketika. Apalagi teringat bahwa satu bulan lagi kami akan diangkat menjadi dokter. Dan sebagai lulusan terbaik masing-masing dari kami akan menerima penghargaan dan uang sebanyak 40 pound.

Malam semakin melarut dan hawa dingin semakin menggigit. Kami duduk di emperan toko berdua sebagai gembel yang tidak punya apa-apa. Dalam kebekuan, otak kami terus berputar mencari jalan keluar. Tidak mungkin kami tidur di emperan toko itu.

Jalan keluar pun datang juga. Dengan sisa uang 6 pound itu kami masih bisa meminjam sebuah toko selama 24 jam. Saya berhasil menghubungi seorang teman yang memberi pinjaman sebanyak 50 pound. Ia bahkan mengantarkan kami mencarikan losmen ala kadarnya yang murah.Saat kami berteduh dalam kamar sederhana, segera kami disadarkan kembali bahwa kami berada di lembah kehidupan yang susah, kami harus mengarunginya berdua dan tidak ada yang menolong kecuali cinta, kasih sayang dan perjuangan keras kami berdua serta rahmat Allah SWT.

Kami hidup dalam losmen itu beberapa hari, sampai teman kami berhasil menemukan rumah kontrakan sederhana di daerah kumuh Syubra Khaimah. Bagi kaum aristokrat, rumah kontrakan kami mungkin dipandang sepantasnya adalah untuk kandang binatang kesayangan mereka. Bahkan rumah binatang kesayangan mereka mungkin lebih bagus dari rumah kontrakan kami. Namun bagi kami adalah hadiah dari langit. Apapun bentuk rumah itu, jika seorang gelandangan tanpa rumah menemukan tempat berteduh ia bagai mendapat hadiah agung dari langit. Kebetulan yang punya rumah sedang membutuhkan uang, sehingga dia menerima akad sewa tanpa uang jaminan dan uang administrasi lainnya. Jadi sewanya tak lebih dari 25 pound saja untuk 3 bulan. Betapa bahagianya kami saat itu, segera kami pindah kesana.

Lalu kami pergi membeli perkakas rumah untuk pertama kalinya. Tak lebih dari sebuah kasur kasar dari kapas, dua bantal, satu meja kayu kecil, dua kursi dan satu kompor gas sederhana sekali, kipas dan dua cangkir dari tanah, itu saja... tak lebih. Dalam hidup bersahaja dan belum dikatakan layak itu, kami merasa tetap bahagia, karena kami selalu bersama.

Adakah di dunia ini kebahagiaan melebihi pertemuan dua orang yang diikat kuatnya cinta? Hidup bahagia adalah hidup dengan gairah cinta. Dan kenapakah orang-orang di dunia merindukan surga di akhirat? Karena di surga Allah menjanjikan cinta.

Ah, saya jadi teringat perkataan Ibnu Qayyim, bahwa nikmatnya persetubuhan cinta yang dirasa sepasang suami-isteri di dunia adalah untuk memberikan gambaran setetes nikmat yang disediakan oleh Allah di surga. Jika percintaan suami-isteri itu nikmat, maka surga jauh lebih nikmat dari semua itu. Nikmat cinta di surga tidak bisa dibayangkan. Yang paling nikmat adalah cinta yang diberikan oleh Allah kepada penghuni surga , saat Allah memperlihatkan wajah-Nya. Dan tidak semua penghuni surga berhak menikmati indahnya wajah Allah SWT. Untuk nikmat cinta itu, Allah menurunkan petunjuknya yaitu Al-Qur'an dan Sunnah Rasul. Yang konsisten mengikuti petunjuk Allah-lah yang berhak memperoleh segala cinta di surga.

Melalui penghayatan cinta ini, kami menemukan jalan-jalan lurus mendekatkan diri kepada-Nya. Istri saya jadi rajin membaca Al-Qur'an, lalu memakai jilbab, dan tiada putus shalat malam. Di awal malam ia menjelma menjadi Rabi'ah Adawiyah yang larut dalam samudra munajat kepada Tuhan. Pada waktu siang ia adalah dokter yang penuh pengabdian dan belas kasihan. Ia memang wanita yang berkarakter dan berkepribadian kuat, ia bertekad untuk hidup berdua tanpa bantuan siapapun, kecuali Allah SWT. Dia juga seorang wanita yang pandai mengatur keuangan. Uang sewa sebanyak 25 poud yang tersisa setelah membayar sewa rumah cukup untuk makan dan transportasi selama sebulan.

Tetanggga-tetangga kami yang sederhana sangat mencintai kami, dan kami pun mencintai mereka. Mereka merasa kasihan melihat kemelaratan dan derita hidup kami, padahal kami berdua adalah dokter. Sampai-sampai ada yang bilang tanpa disengaja, "Ah, kami kira para dokter itu pasti kaya semua, ternyata ada juga yang melarat sengsara seperti Mamduh dan isterinya." Akrabnya pergaulan kami dengan para tetangga banyak mengurangi nestapa kami. Beberapa kali tetangga kami menawarkan bantuan-bantuan kecil layaknya saudara sendiri. Ada yang menawarkan kepada isteri agar menitipkan saja cuciannya pada mesin cuci mereka karena kami memang dokter yang sibuk. Ada yang membelikan kebutuhan dokter. Ada yang membantu membersihkan rumah.

Saya sangat terkesan dengan pertolongan- pertolongan mereka. Kehangatan tetangga itu seolah-olah pengganti kasarnya perlakuan yang kami terima dari keluarga kami sendiri. Keluarga kami bahkan tidak terpanggil sama sekali untuk mencari dan mengunjungi kami. Yang lebih menyakitkan mereka tidak membiarkan kami hidup tenang.

Suatu malam, ketika kami sedang tidur pulas, tiba-tiba rumah kami digedor dan didobrak oleh 4 bajingan kiriman ayah saya. Mereka merusak segala perkakas yang ada. Meja kayu satu-satunya, mereka patah-patahkan, begitu juga dengan kursi. Kasur tempat kami tidur satu-satunya mereka robek-robek. Mereka mengancam dan memaki kami dengan kata-kata kasar. Lalu mereka keluar dengan ancaman, "Kalian tak akan hidup tenang, karena berani menentang Tuan Pasha." Yang mereka maksudkan dengan Tuan "Pasha" adalah ayah saya yang kala itu pangkatnya naik menjadi jendral. Ke-empat bajingan itu pergi. Kami berdua berpelukan, menangis bersama berbagi nestapa dan membangun kekuatan.

Lalu kami tata kembali rumah yang hancur. Kami kumpulkan lagi kapas-kapas yang berserakan, kami masukan lagi ke dalam kasur dan kami jahit kasur yang sobek-sobek tak karuan itu. Kami tata lagi buku-buku yang berantakan. Meja dan kursi yang rusak itu berusaha kami perbaiki. Lalu kami tertidur kecapaian dengan tangan erat bergenggaman, seolah eratnya genggaman inilah sumber rasa aman dan kebahagiaan yang meringankan intimidasi hidup ini.

Benar, firasat saya mengatakan ayah tidak akan membiarkan kami hidup tenang. Saya mendapat kabar dari seorang teman bahwa ayah telah merancang skenario keji untuk memenjarakan isteri saya dengan tuduhan wanita tuna susila. Semua orang juga tahu kuatnya intelijen militer di negeri ini. Mereka berhak melaksanakan apa saja dan undang-undang berada di telapak kaki mereka. Saya hanya bisa pasrah total kepada Allah mendengar hal itu.

Dan Masya Allah! Ayah telah merancang skenario itu dan tidak mengurungkan niat jahatnya itu, kecuali setelah seorang teman karibku berhasil memperdaya beliau dengan bersumpah akan berhasil membujuk saya agar menceraikan isteri saya. Dan meminta ayah untuk bersabar dan tidak menjalankan skenario itu , sebab kalau itu terjadi pasti pemberontakan saya akan menjadi lebih keras dan bisa berbuat lebih nekad. Tugas temanku itu adalah mengunjungi ayahku setiap pekan sambil meminta beliau sabar, sampai berhasil meyakinkan saya untuk mencerai isteriku. Inilah skenario temanku itu untuk terus mengulur waktu, sampai ayah turun marahnya dan melupakan rencana kejamnya. Sementara saya bisa mempersiapkan segala sesuatu lebih matang.

Beberapa bulan setelah itu datanglah saat wajib militer. Selama satu tahun penuh saya menjalani wajib militer. Inilah masa yang saya takutkan, tidak ada pemasukan sama sekali yang saya terima kecuali 6 pound setiap bulan. Dan saya mesti berpisah dengan belahan jiwa yang sangat saya cintai. Nyaris selama 1 tahun saya tidak bisa tidur karena memikirkan keselamatan isteri tercinta. Tetapi Allah tidak melupakan kami, Dialah yang menjaga keselamatan hamba-hamba- Nya yang beriman. Isteri saya hidup selamat bahkan dia mendapatkan kesempatan magang disebuah klinik kesehatan dekat rumah kami. Jadi selama satu tahun ini, dia hidup berkecukupan dengan rahmat Allah SWT.

Selesai wajib militer, saya langsung menumpahkan segenap rasa rindu kepada kekasih hati. Saat itu adalah musim semi. Musim cinta dan keindahan. Malam itu saya tatap matanya yang indah, wajahnya yang putih bersih. Ia tersenyum manis. Saya reguk segala cintanya. Saya teringat puisi seorang penyair Palestina yang memimpikan hidup bahagia dengan pendamping setia & lepas dari belenggu derita :

Sambil menatap kaki langit
Kukatakan kepadanya
Di sana ... di atas lautan pasir kita akan berbaring
Dan tidur nyenyak sampai subuh tiba
Bukan karna ketiadaan kata-kata
Tapi karena kupu-kupu kelelahan
Akan tidur di atas bibir kita
Besok, oh cintaku... besok
Kita akan bangun pagi sekali
Dengan para pelaut dan perahu layar mereka
Dan akan terbang bersama angin
Seperti burung-burung

Yah...saya pun memimpikan demikian. Ingin rasanya istirahat dari nestapa dan derita. Saya utarakan mimpi itu kepada istri tercinta. Namun dia ternyata punya pandangan lain. Dia malah bersikeras untuk masuk program Magister bersama! "Gila... ide gila!!!" pikirku saat itu. Bagaimana tidak...ini adalah saat paling tepat untuk pergi meninggalkan Mesir dan mencari pekerjaan sebagai dokter di negara Teluk, demi menjauhi permusuhan keluarga yang tidak berperasaan. Tetapi istri saya tetap bersikukuh untuk meraih gelar Magister dan menjawab logika yang saya tolak :

"Kita berdua paling berprestasi dalam angkatan kita dan mendapat tawaran dari Fakultas sehingga akan mendapatkan keringanan biaya, kita harus sabar sebentar menahan derita untuk meraih keabadian cinta dalam kebahagiaan. Kita sudah kepalang basah menderita, kenapa tidak sekalian kita rengguk sum-sum penderitaan ini. Kita sempurnakan prestasi akademis kita, dan kita wujudkan mimpi indah kita."

Ia begitu tegas. Matanya yang indah tidak membiaskan keraguan atau ketakutan sama sekali. Berhadapan dengan tekad baja istriku, hatiku pun luluh. Kupenuhi ajakannya dengan perasaan takjub akan kesabaran dan kekuatan jiwanya.

Jadilah kami berdua masuk Program Magister. Dan mulailah kami memasuki hidup baru yang lebih menderita. Pemasukan pas-pasan, sementara kebutuhan kuliah luar biasa banyaknya, dana untuk praktek, buku, dll. Nyaris kami hidup laksana kaum Sufi, makan hanya dengan roti dan air. Hari-hari yang kami lalui lebih berat dari hari-hari awal pernikahan kami. Malam hari kami lalui bersama dengan perut kosong, teman setia kami adalah air keran. Masih terekam dalam memori saya, bagaimana kami belajar bersama dalam suatu malam sampai didera rasa lapar yang tak terperikan, kami obati dengan air. Yang terjadi malah kami muntah-muntah. Terpaksa uang untuk beli buku kami ambil untuk pengganjal perut. Siang hari, jangan tanya... kami terpaksa puasa. Dari keterpaksaan itu, terjelmalah kebiasaan dan keikhlasan.

Meski demikian melaratnya, kami merasa bahagia. Kami tidak pernah menyesal atau mengeluh sedikitpun. Tidak pernah saya melihat istri saya mengeluh, menangis dan sedih ataupun marah karena suatu sebab. Kalaupun dia menangis, itu bukan karena menyesali nasibnya, tetapi dia malah lebih kasihan kepada saya. Dia kasihan melihat keadaan saya yang asalnya terbiasa hidup mewah, tiba-tiba harus hidup sengsara layaknya gelandangan. Sebaliknya, sayapun merasa kasihan melihat keadaannya, dia yang asalnya hidup nyaman dengan keluarganya, harus hidup menderita di rumah kontrakan yang kumuh dan makanala kadarnya.

Timbal balik perasaan ini ternyata menciptakan suasana mawaddah yang luar biasa kuatnya dalam diri kami. Saya tidak bisa lagi melukiskan rasa sayang, hormat, dan cinta yang mendalam padanya. Setiap kali saya angkat kepala dari buku, yang tampak di depan saya adalah wajah istri saya yang lagi serius belajar. Kutatap wajahnya dalam-dalam. Saya kagum pada bidadari saya ini. Merasa diperhatikan, dia akan mengangkat pandangannya dari buku dan menatap saya penuh cinta dengan senyumnya yang khas. Jika sudah demikian, penderitaan terlupakan semua. Rasanya kamilah orang yang paling berbahagia di dunia ini. "Allah menyertai orang-orang yang sabar, sayang..." bisiknya mesra sambil tersenyum. Lalu kami teruskan belajar dengan semangat membara.

Allah Maha Penyayang, usaha kami tidak sia-sia. Kami berdua meraih gelar Magister dengan waktu tercepat di Mesir. Hanya 2 tahun saja! Namun, kami belum keluar dari derita. Setelah meraih gelar Magister pun kami masih hidup susah, tidur di atas kasur tipis dan tidak ada istilah makan enak dalam hidup kami. Sampai akhirnya rahmat Allah datang juga. Setelah usaha keras, kami berhasil meneken kontrak kerja di sebuah rumah sakit di Kuwait . Dan untuk pertama kalinya, setelah 5 tahun berselimut derita dan duka, kami mengenal hidup layak dan tenang. Kami hidup di rumah yang mewah, merasakan kembali tidur di kasur empuk dan kembali mengenal masakan lezat.

Dua tahun setelah itu, kami dapat membeli villa berlantai dua di Heliopolis, Kairo. Sebenarnya, saya rindu untuk kembali ke Mesir setelah memiliki rumah yang layak. Tetapi istriku memang 'edan'. Ia kembali mengeluarkan ide gila, yaitu ide untuk melanjutkan program Doktor Spesialis di London, juga dengan logika yang sulit saya tolak :

"Kita dokter yang berprestasi. Hari-hari penuh derita telah kita lalui, dan kita kini memiliki uang yang cukup untuk mengambil gelar Doktor di London. Setelah bertahun-tahun hidup di lorong kumuh, tak ada salahnya kita raih sekalian jenjang akademis tertinggi sambil merasakan hidup di negara maju. Apalagi pihak rumah sakit telah menyediakan dana tambahan.

"Kucium kening istriku, dan bismillah... kami berangkat ke London .

Singkatnya, dengan rahmat Allah, kami berdua berhasil menggondol gelar Doktor dari London. Saya spesialis syaraf dan istri saya spesialis jantung. Setelah memperoleh gelar doktor spesialis, kami meneken kontrak kerja baru di Kuwait dengan gaji luar biasa besarnya. Bahkan saya diangkat sebagai direktur rumah sakit, dan istri saya sebagai wakilnya! Kami juga mengajar di Universitas.

Kami pun dikaruniai seorang putri yang cantik dan cerdas. Saya namai dia dengan nama istri terkasih, belahan jiwa yang menemaniku dalam suka dan duka, yang tiada henti mengilhamkan kebajikan.

Lima tahun setelah itu, kami pindah kembali ke Kairo setelah sebelumnya menunaikan ibadah haji di Tanah Haram. Kami kembali laksana raja dan permaisurinya yang pulang dari lawatan keliling dunia. Kini kami hidup bahagia, penuh cinta dan kedamaian setelah lebih dari 9 tahun hidup menderita, melarat dan sengsara.
Mengenang masa lalu, maka bertambahlah rasa syukur kami kepada Allah swt dan bertambahlan rasa cinta kami.
Ini kisah nyata yang saya sampaikan sebagai nasehat hidup. Jika hadirin sekalian ingin tahu istri saleha yang saya cintai dan mencurahkan cintanya dengan tulus, tanpa pernah surut sejak pertemuan pertama sampai saat ini, di kala suka dan duka, maka lihatlah wanita berjilbab biru yang menunduk di barisan depan kaum ibu, tepat di sebelah kiri artis berjilbab Huda Sulthan. Dialah istri saya tercinta yang mengajarkan bahwa penderitaan bisa mengekalkan cinta. Dialah Prof Dr Shiddiqa binti Abdul Aziz..."

Tepuk tangan bergemuruh mengiringi gerak kamera video menyorot sosok perempuan separoh baya yang tampak anggun dengan jilbab biru. Perempuan itu tengah mengusap kucuran air matanya. Kamera juga merekam mata Huda Sulthan yang berkaca-kaca, lelehan air mata haru kedua mempelai, dan segenap hadirin yang menghayati cerita ini dengan seksama.

4

Pusaran Energi Ka'bah

Posted by Desi on 10:36 AM
Pusaran Energi Ka'bah ( by Agus Mustafa )

Kenapa kita mesti pergi haji ke tanah suci di Mekkah...? Apakah karena sekedar untuk memenuhi panggilan Allah? atau karena ingin mendapatkan pahala 100 ribu kali lipat dengan melakukan shalat di Masjidil Haram dan berdoa di Multazam yang mustajab? ataukah untuk memenuhi kewajiban yang diperintahkan Allah dan rasul Nya?
Kalau hanya sekedar untuk memenuhi panggilan Allah ke Baitullah, memangnya Allah itu jauh sehingga harus memanggil umatnya datang kesana.
Kalau untuk mendapatkan pahala 100 ribu kali lipat dengan beribadah di Masjidil Haram dan berdoa di Multazam yang mustajab, lalu bagaimana dong dengan orang-orang yang tinggal jauh dari Baitullah dan tidak punya kesempatan untuk pergi kesana...berarti seumur hidup kita ga akan bisa dapat pahala yg 100 ribu x itu dan doa kita akan lama dikabulkan karena tempatnya ga mustajab.
Kalau untuk memenuhi kewajiban yang diperintahkan Allah dan rasul, berarti kita beragama ini karena adanya paksaan dong. Bukankah Allah telah mengatakan bahwa tidak ada paksaan sedikitpun dalam beragama dan bagi Allah itu tidak akan merugi sedikitpun jika kita tidak beribadah kepadaNya.

Ada sebuah teori ttg terbentuknya tata surya yang dikenal dengan Teori Big Bang atau Teori Ledakan Besar ( sudah pada tau kan....) awalnya tata surya ini merupakan sebuah bola padat yg kemudian meledak dan menghasilkan bintang2, planet dan benda2 langit lainnya yang semakin lama semakin menjauh dari pusatnya.
Setiap 100 milyar kumpulan bintang akan membentuk satu galaksi, dan kumpulan 100 milyar galaksi akan membentuk galaksi besar lagi yang terbungkus dalam satu lapisan yang disebut dengan supercluster. Setiap 100 milyar supercluster akan membentuk galaksi2 lagi, dan begitu seterusnya dan seterusnya. Entah sampai mana tata surya atau langit ini berakhir, tidak ada yg tau. Semua benda2 tersebut berputar mengelilingi dirinya sendiri ( rotasi ) dan sekaligus berputar mengelilingi pusatnya ( revolusi ). Dan sampai sekarang tidak ada yg tau apa yg menjadi pusatnya atau apa yang dikeliligi oleh galaksi2 tersebut. Arah perputaran benda2 langit itu berlawanan dengan gerak jarum jam. Setiap perputaran menghasilkan energi dan gelombang elektromagnet.

Perputaran seperti ini tidak hanya dialami oleh benda2 angkasa, tapi benda2 di bumi pun bergerak berputar berlawanan dengan arah jarum jam. Setiap unsur materi dalam tubuh kita, elektron2 dan sampai ke atom sebagai inti terkecil, juga berputar berlawanan dengan jarum jam.

Tubuh kita terdiri dari kumpulan bio elektron yang tersusun dalam sebuah sistem energial yang memiliki simpul utama jantung atau hati. Hati atau jantung manusia bagaikan sebuah tabung resonansi. Setiap kita berbuat sesuatu, baik itu pada taraf berpikir maupun berbuat, selalu terjadi getaran di hati kita. Getarannya bisa kasar, bisa juga lembut.
Getaran itu bersumber dari dua hal yaitu Hawa nafsu dan Getaran Ilahiah. Hawa nafsu getarannya cenderung kasar dan bergejolak tidak beraturan, frekuensi getaran rendah dengan amplitudo besar, contohnya kemarahan, kebencian, dendam, iri, dsb.
Getaran Ilahiah cenderung lembut dan halus, dengan frekuensi getaran yang sangat tinggi dan teratur, contohnya membaca Al Quran, berzikir, sabar, ikhlas, dsb.
Hati yg baik adalah hati yg lembut dan gampang bergetar. Karena hati yg lembut bagaikan sebuah tabung resonansi yg bagus, getarannya semakin lama menghasilkan frekuensi yang semakin tinggi. Semakin lembut hati seseorang semakin tinggi frekuensinya. Pada frekuensi 10 pangkat 8 akan menghasilkan gelombang radio, dan jika lebih tinggi lagi pada frekuensi 10 pangkat 14 akan menghasilkan gelombang cahaya.
Jadi seseorang yg hatinya lembut akan mampu menghasilkan cahaya dalam hatinya. Dan jika cahaya itu semakin kuat, ia akan merembet keluar dan menggetarkan seluruh bio elektron di dalam tubuh mengikuti frekuensi cahaya tersebut. Hasilnya, tubuhnya akan mengeluarkan cahaya alias aura yang jernih. Dan jika kelembutan itu semakin menguat, maka aura itu akan merembes semakin jauh mempengaruhi lingkungan sekitarnya.
Karena itulah, kenapa kalau kita dekat dengan orang yang baik, hati kita juga akan merasa tentram dan damai. sebaliknya jika berdekatan dengan orang yang pemarah, maka hati kita akan ikut panas. Itu semua karena adanya pengaruh resonansi gelombang elektromagnetik yang memancar dari tubuh org tersebut kepada kita.

Orang yang sedang shalat dengan penuh kekhusyukan dan keikhlasan, maka dirinya akan memancarkan cahaya karena hatinya sedang bergetar dengan lembut. Dalam shalat kita berbicara dengan Allah, berzikir dan membaca ayat2 Allah. Orang yang beriman, hatinya akan bergetar jika dia menyebut nama Allah. Jika satu org yg shalat menghasilkan satu cahaya atau aura. Dan jika shalat dilakukan secara berjamaah, maka cahaya yg dipancarkan akan semakin terang karena bersumber dari banyak hati yg lembut. Dan tempat mereka melakukan shalat berjamah itu akan menghasilkan gelombang elektromagnetik yang akan mempengaruhi lingkungan tempat shalat tersebut.
Cahaya2 yg dipancarkan dari org yg sedang shalat itu terkumpul dan menghasilkan gelombang elektromagnetik yg kuat. Dan semuanya terpancar mengarah kesatu titik yaitu Baitullah. Cahaya ini tidak hanya berasal dari satu arah saja, tapi dari berbagai tempat di seluruh penjuru dunia.

Tadi telah kita ketahui bahwa bumi kita berputar mengelilingi pusatnya yaitu matahari. Sehingga setiap bagian dibumi ini mendapatkan pergantian waktu antara malam dan siang. Dan setiap regional mempunyai perbedaan waktu yg teratur. Sehingga jika orang diwilayah timur shalat ashar, maka orang di barat sedang melakukan shalat zuhur, lalu lebih barat lagi sedang melakukan shalat sunat Dhuha, lalu kebarat lagi shalat subuh. Jadi setiap saat sesuai pergerakan matahari ada saja orang yang shalat. Akibatnya ada sebuah ketegangan energial antara org yg shalat dan Ka'bah ( karena kiblat kita ke Ka'bah ) yaitu Gelombang elektromagnetik.

Baitullah atau yg kita kenal dengan Ka'bah, adalah hasil karya Nabi Ibrahim dan Ismail. Beliau berdua adalah hamba yg disayangi Allah. Mereka memiliki hati yg lembut, sehingga saking lembutnya, hati mereka memancarkan gelombang elektromagnetik yg sangat kuat yg mempengaruhi benda2 dan lingkungan sekitarnya. Walaupun beliau berdua sudah tiada, tapi energi mereka masih melekat pada benda2 hasil karyanya.

Orang berhaji melakukan Thawaf. Thawaf adalah gerakan berputar mengelilingi Ka'bah dengan arah berlawanan dengan jarum jam atau searah dengan perputaran tata surya. Gerakan berputar atau Thawaf ini selalu dilakukan orang setiap waktu tanpa henti. Baik itu pada musim haji ataupun tidak. Sebagaimana yg kita ketahui, jika sebuah benda yg bermuatan listrik bergerak-gerak secara periodik dengan basis gerakan berputar, maka akan terjadi medan elktromagnetik, Begitu juga dengan gerakan Thawaf ini, maka akan memberikan pengaruh elektromagnetik pada lingkungan Ka'bah yg diputari.

Di dekat Ka'bah terdapat batu yaitu Hajar Aswad. Konon batu ini adalah batu surga, dan ada juga yg mengatakan merupakan batu dari langit. Bisa jadi yg dimaksud sebagai batu dari langit adalah sisa meteor yg sampai ke bumi. Berarti batu itu mengandung kadar logam yg sangat tinggi. Wallahualam. Perputaran org Thawaf menglilingi Ka'bah sekaligus mengelilingi Hajar Aswad. Berarti gelombang ini ikut mengalir ke batu tersebut.

Ruang yg terbentuk dari posisi antara Hajar Azwad dengan Ka'bah dikenal dengan Multazam. Energi yg terdapat di Multazam ini sangat besar. Semua energi itu berasal dari energi yg dipancarkan oleh Nabi Ibrahim, dari aktivitas Thawaf, dari aktivitas shalat dari seluruh penjuru dunia, dan faktor Hajar Aswad itu sendiri. Bisa kita bayangkan betapa besarnya kandungan energi di sekitar Ka'bah yang terus terakumulasi setiap saat.

Nah, jika kita berdoa kepada Allah di Multazam ini dengan segala keikhlasan dan kerendahan hati, maka energi2 yg terpancar tersebut akan dipancarkan ke atas dengan bantuan Hajar Aswad sebagai superkonduktornya. Seperti kaidah tangan kanan dalam ilmu Fisika.
Orang yg berdoa di Multazam ibarat seorang penyiar radio yg sedang berbicara di mikrofon. Ketika dia berdoa, pancaran energi doanya itu akan ditangkap oleh superkondultor Hajar Aswad untuk kemudian dipancarkan bersama-sama gelombang elektromagnetik yang mengarah ke atas akibat aktifitas berthawaf. Energi doa kita menumpang gelombang elektromagnetik yang keluar dari Ka'bah itu. Kekuatan doa kita jadi berlipat-lipat karena terbantu oleh power yg demikian besar dari Ka'bah menuju ke Arasy Allah. Energi doa ini jauh lebih cepat sampai kepada Allah dan cepat pula memperoleh balasannya.

Semakin banyak kita melakukan aktivitas2 yang memancarkan energi positif ini, maka tempat aktivitas itupun akan terpengaruh oleh energi2 tersebut. Kita melakukan shalat untuk mengingat Allah, semakin banyak mengingat Allah maka semakin besar pahalanya. Tapi pahala ini bukan karena Allah ingin di ingat-ingat sehingga jika kita selalu mengingat Allah maka Allah akan memberikan pahala, bukan. Inti shalat adalah mengingat Allah. Jika selalu mengingat Allah maka hati akan tentram, ini karena pengaruh getaran lembut yg dihasilkan ( vertikal ). Jika hati telah tentram maka perbuatan2 yg kita lakukan sifatnya juga akan teratur dan yg baik-baik. Kita terhindar dari perbuatan keji dan munkar. Maka hidup bermasyarakat juga akan tentram ( horizontal ). Jadi shalat yg memberikan pahala adalah shalat yg bisa membuat hati tentram dan menjauhkan kita dari perbuatan keji dan munkar.

Masjidil Haram merupakan tempat yg tidak pernah henti-hentinya dilakukan aktivitas penghasil energi. Beribu-ribu jamaah tiap waktu shalat dimesjid ini. Semakin banyak yg shalat maka energi yg terpancar akan semakin besar sehingga pahala yg mengalir juga akan semakin besar sehingga dikatakan shalat di Masjidil Haram akan menghasilkan pahala 100 ribu kali lipat. Karena energi positif yg mengarah pada terbentuknya hati yg tentram dan terhindarnya dari perbuatan keji dan munkar sangat besar di sini.

Jadi kenapa kita pergi haji ke tanah suci....? silahkan ambil kesimpulan sendiri.... ;D

Wassalam

Note : Post ini tidak bermaksud untuk menggurui, tapi hanya ingin berbagi pengetahuan karena ci telah membaca buku ini, sayang klo cuma untuk diri sendiri.
Jika teman2 ingin baca lebih jelas dan detail, silahkan baca langsung buku karangan Agus Mustafa dengan judul Pusaran Energi Ka'bah. Gak tebal kok, cuma 240 hal. Untuk teman2 yg sudah pernah baca, mungkin post tadi sekedar untuk mengingat-ingat lagi akan penjelasan beragama dari sisi ilmu pengetahuan. Jadi kita beragama tidak hanya sekedar ikut-ikutan atau paksaan.

Mudah-mudahan kita semua bisa mengambil hikmah dari penjelasan buku tersebut.
Wallahualam.....

5

Renungan di Awal tahun

Posted by Desi on 8:22 AM
Teman, ci mau berbagi cerita dari seorang adik kecil yg sukses mengubah hidupnya dan mengambil hikmah dari setiap kejadian yg dialaminya. Ci tidak bisa memberikan komentar untuk cerita ini, biarlah diri kita masing-masing yg berkomentar dan menjadikannya benar-benar sebuah renungan dan evaluasi diri. Silahkan baca disini : Renungan di awal tahun
Selamat menikmati :)

1

My Highest Aim

Posted by Desi on 11:33 AM
Barusan baca blog beberapa orang teman, lalu ada beberapa post dari sari n rika yang menceritakan tentang diri mereka, apa yang ingin dicapai dan ingin tekun dalam hal apa, membuat ci kembali merenung. Sampai saat ini ci masih mencari jati diri dan masih juga belum membuat keputusan, sebenarnya ci itu ingin fokus kemana. Menyedihkan ya, dah seumur ini tapi belum juga bisa membuat keputusan ttg hidup yg singkat.
Kerja kantoran ci suka, tapi belum tau mau pilih kerja di perusahaan mana. Setiap ikut tes, selalu gagal di akhir :(. Inginnya yang berada di tempat kelahiran, Padang my beloved city. Tapi sepertinya "Kota-ku" itu belum memberikan kesempatan bagi ci untuk melanjutkan kehidupan ditanahnya.
Di sini, Pekanbaru, ci bekerja di institusi pendidikan sebagai seorang pengajar. Dari segi komitmen sebagai seorang pendidik dan kecintaan akan profesi ini, ci belum apa-apa dibanding sari. Bukannya mengajar itu tidak menyenangkan, tapi ci merasa belum mampu untuk menjadi seorang contoh bagi mahasiswa sendiri. Masih banyak yang harus dipelajari.
Tapi ada satu cita2 yg sangat ingin segera terwujud sejak ci mulai mengetahui betapa mulianya posisi seorang wanita dalam islam, sebagai seorang istri dan sebagai seorang ibu, sampai saat ini, ci punya keinginan, yang ci yakin semua perempuan juga menginginkannya, yaitu menjadi seorang istri yang shalehah dan menjadi seorang ibu yang mampu mendidik anak-anaknya dijalan Allah. That's my highest aim in life. I don't want anything else. I just want to be the best mother and wife for my family and blessing from Allah.
Walaupun cita-cita ci tidak menjadi seorang wanita karier, bekerja di sebuah perusahaan, tapi ci senang dan bangga dengan cita2 ini. Karena menjadi seorang istri dan ibu, berarti kita sudah menjadi manajer dalam sebuah perusahaan yang dinamai dengan keluarga. Kita punya rutinitas setiap hari yang juga seperti seorang wanita karier. Malah tanggung jawab yang dimiliki sangat besar yaitu untuk menciptakan generasi yang berguna untuk agama dan negara. Bertanggung jawab menciptakan lingkungan sosial yang harmonis dan dinamis. Dan banyak lagi deh... Mulia kan... :)

0

Waktu

Posted by Desi on 8:11 AM
Ini post pertama untuk awal tahun ini. Sebagai seorang muslim sebenarnya yang menjadi pijakan tahun baru bagi kita bukanlah tahun Masehi tapi tahun Hijriah, karena tahun Masehi diciptakan oleh orang non Muslim. Bagi kita umat muslim tahun Hijriah lahir dan dijadikan penetapan kalender sejak hijrahnya Rasul SAW dari Mekkah ke Madinah. Tapi karena dalam keseharian kita di negara ini telah menjadikan kalender Masehi sebagai acuan aktivitas duniawi, maka mau tidak mau kita harus mengikuti aturan ini.
Kata orang, pergantian tahun berarti memulai lembaran baru, semangat baru, dan harapan segala sesuatunya lebih baik dari tahun sebelumnya. Dalam Islam, semuanya itu sudah ada sejak zaman Rasul SAW. Malah Rasul menyatakan, jika hari ini lebih buruk dari hari kemaren, maka jadilah kamu orang yang merugi dan celaka. Baca juga janji Allah dengan waktu dalam surat Al 'Ashr.
"Hidup terdiri dari kumpulan waktu. Waktu merupakan momentum untuk berprestasi. Waktu yang kita miliki hari ini adalah harapan yang masih tersedia untuk kita manfaatkan" (Quantum Reengineering; dari pak AUA).
Renungan :
Apa yang telah kita lakukan dalam tahun kemaren, prestasi apa yg telah kita capai, rencana2 mana yang telah kita jalankan. Lalu apa yang akan kita lakukan ke depan, planning apa yg sudah kita buat untuk setahun ini, atau adakah hal-hal yg belum tercapai dalam tahun lalu yg akan kita usahakan untuk terwujud di tahun baru ini.
Sudahkah kita menjadi orang yang memanfaatkan waktu?
Mudah-mudahan semua yang kita rencanakan untuk tahun ini bisa direalisasikan dengan sukses, jangan hanya rencana di hati dan sekedar ucapan di mulut.
Mudah-mudahan kita semua termasuk orang-orang yang beruntung dan memanfaatkan waktu.
Wallahualam...

0

Akhirnya...

Posted by Desi on 10:20 AM
Alhamdulillah, akhirnya selesai juga ci mengajar semester ganjil tahun ajaran 2006/2007. Tak terasa ternyata sudah 1 tahun ci bekerja di PCR ini, mengajar selama 2 semester, 5 mata kuliah, dan 2 angkatan. Untuk semester ganjil ini, ci hanya ngajar 1 angkatan. Berdasarkan hasil ujian UAS, untuk mata kuliah Manajemen Keuangan, ada 4 orang mahasiswa yang harus ikut revisi, dan untuk Perpajakan ada 7 orang yg harus revisi. Mengecewakan sich sebenarnya, tapi kesalahan itu tidak bisa sepenuhnya dilimpahkan pada mahasiswa. Ci sebagai dosen pun harus mengevaluasi diri, apa saja kekurangan dalam mengajar selama ini sehingga mahasiswa yang ikut revisi harus sebanyak itu. Dan ci sadari klo ici masih jauh dari baik dalam hal mengajar. Banyak ilmu yang harus ditingkatkan dan ditambah, tidak hanya segi metode pengajaran tapi juga materi yg disampaikan.
Rencananya bulan Januari depan, akan ada pelatihan pengajaran. Mudah-mudahan pelatihan ini dapat membantu ci untuk meningkatkan kualitas proses belajar mengajar. Maklumlah, klo sebelum bekerja di PCR ini, ci belum pernah punya pengalaman mengajar sedikitpun.

Btw, besok atau lusa, kita akan merayakan Idul Adha, untuk semua teman-teman ci ucapkan mohon maaf lahir dan batin, semoga peristiwa Idul Adha ini dapat meningkatkan keimanan kita kepada Allah.
Wassalam...

0

Pendewasaan diri

Posted by Desi on 7:32 AM
Sebenarnya bingung nich mau cerita apa tentang pendewasaan diri, karena ci sendiri masih harus belajar banyak mengenai hal ini. Tapi post ini terinspirasi dari konflik2 yang ada di depan mata saat ini. Berada dalam dunia kerja sejak 2 tahun terakhir telah membuat ci sadar bahwa kesabaran, kemampuan memahami orang lain, tenggang rasa, serta tanggung jawab merupakan hal pokok yg harus kita miliki. Kalau hal ini tidak kita miliki, rasanya akan sulit untuk bergaul dengan banyak orang dengan karakter yang kompleks.
Dimanapun kita bekerja dan apapun jenis pekerjaan itu, kita tetap akan menemui permasalahan yang berkaitan dengan komunitas dan lingkungan sekitar. Jangan jadikan ketidak-enjoy-an lagi kerja disatu tempat ( karena alasan lingkungan dan komunitas ) lalu memutuskan untuk pindah kerja ke tempat lain. Jika teman-teman berpikiran seperti itu, sebaiknya ga usah aja kerja. Mending di rumah saja karena kita tidak akan sering bertemu dengan orang lain dan tidak akan disibukkan dengan urusan orang lain.
Ci telah mencoba bekerja pada dua tempat yang berbeda dengan konsentrasi kerja yang berbeda, dan ci tetap saja menemukan satu permasalahan yang sama yaitu masalah komunitas dan sosial ( pergaulan ). Permasalahan-permasalahan tersebut biasanya dipicu oleh kurangnya komunikasi dan kurangnya tanggung jawab.
Permasalahan-permasalahan tersebut tidak akan selesai jika tidak ada kesabaran dan kemampuan memahami orang lain secara timbal balik.
Kalau kita jeli, seharusnya permasalahan2 itu kita jadikan sebagai sarana untuk pendewasaan diri. Semakin banyak permasalahan yang ditemui, semakin bijak kita menyikapi dan kesabaran itu akan semakin tumbuh dalam diri. Kita tidak akan disibukkan lagi dengan permasalahan2 orang lain yang bukan urusan kita. Semoga saja kita bisa menjadi problem solver bagi diri sendiri dan orang lain. Dan kita bisa menikmati pekerjaan yang kita lakukan walau sesulit apapun medan kerja tersebut.
^_^

0

Selamat Hari Ibu...

Posted by Desi on 1:49 PM

Tak terasa ternyata hari ini adalah Hari Ibu...Di Indonesia kini mengenal adanya hari ibu, tapi di luar negeri yang ada malah hari ayah. Jadi ingat waktu SMU dulu, tiap tanggal 22 Desember diadakan upacara dalam rangka menyambut hari ibu. Setelah upacara, Ibu-ibu guru berdiri berjejer, dan murid-murid satu persatu menyalami semua ibu guru. Ada yang menyalami dan berpelukan sambil menangis terharu, benar-benar mengharukan dan bikin rindu ingin ketemu beliau-beliau lagi. Ya Allah ...berikan berkahMu untuk guru-guru hamba Ya Allah....

Tidak hanya ibu guru yg jadi sorotan pada hari ini, tapi yg paling penting adalah Ibu atau Mama kita. Berdasarkan sabda Rasul, pada siapa kita harus berbakti, Rasul menjawab sampai tiga kali "Ibumu, Ibumu, Ibumu" baru setelah itu ayah. Jadi posisi ibu tiga kali lebih tinggi dibandingkan ayah, karena mengingat betapa berat perjuangan seorang ibu mulai dari mengandung, melahirkan, menyusui, membesarkan dan mendidik anaknya. Begitu mulianya posisi ibu, sehingga Rasul mengatakan bahwa surganya seorang anak ada dibawah telapak kaki ibunya. Mudah-mudahan cita-cita ci untuk jadi seorang ibu dikabulkan Allah, amiin.
Jadi, apa yang telah kita berikan untuk ibu kita? Sudahkah kita berbakti pada Ibu?

Ya Allah, berikan berkat dan kasih sayang Mu untuk Ama dan Mama, serta lapangkan dan terangi kubur Mama, jauhkan Beliau dari azab kubur. Jadikan beliau berdua bidadari di surgaMu Ya Allah....Amiin....

0

Jimat

Posted by Desi on 1:56 PM
Hari ini ci ngadain ujian akhir Manajemen Keuangan, dan what a big surprise....karena ci nemukan mahasiswa yang liat jimat, perempuan lagi. Duh nak...nak....berani-beraninya liat jimat, malah duduk di depan lagi. Salah dia sendiri sebenarnya, ga profesional sich cara liat jimatnya...hehehe....Ci tidak menyangka anak ini akan liat jimat, karena di kelas dia termasuk lumayanlah. Tapi tadi setiap ci liat dia, wajahnya langsung seperti orang ketakutan, dan langsung nutupin mukanya dengan kertas soal. Lalu waktu dia angkat kertas soal untuk nutupin mukanya lagi, tiba-tiba ci liat seperti ada bayangan kertas kecil nempel di kertas soal itu. Ci coba perhatikan dulu dengan seksama, barangkali saja itu bukan kertas lain atau jimat, tapi benar-benar bayangan yang ci liat itu kertas lain dengan ukuran yg lebih kecil. Akhirnya ci tanyain, itu kertas apa yang nempel di soalnya. Dia langsung takut dan dengan perlahan membuka kertas itu dan menjatuhkannya supaya ga ketahuan, dan meremukkannya sambil bilang tidak ada kertas apa-apa bu...Ci sebenarnya dah liat waktu dia jatuhin kertas itu dan berusaha menyembunyikannya tapi sia-sia. Ci datangi dan langsung ambil kertas kecil itu. Ternyata dia memakai sticks note yang di tempelkan di halaman belakang soal lembar pertama, kebetulan soalnya ada dua lembar. Dan di dalamnya tertulis rumus-rumus rasio keuangan.
Sewaktu ci tanyakan, dia langsung pucat dan menunduk. Supaya dia tidak begitu shock dan malu, ci biarkan saja dia melanjutkan ujiannya, tapi setelah ujian dia harus menghadap ci di ruangan.
Setelah selesai ujian dia masih merayu dan melakukan pembelaan seolah-olah tidak bersalah, minta ci untuk nguji dia lagi, karena sebenarnya dia hafal rumus-rumus itu tapi takut saja klo-klo dia lupa. KLISE !!! Akhirnya ci putuskan untuk motong nilainya 50%.
Dia akhirnya minta maaf dan janji tidak akan ngulangin hal memalukan itu lagi, ternyata ini pertama kali dia liat jimat, katanya. Dia juga minta ci untuk tidak bilang ke dosen lain, karena malu dan takut di cap tukang liat jimat. Dan dia juga nanya apa ci marah dan benci sama dia? Ci jawab tidak, tak ada manfaatnya marah, yang ada kamu sendiri yang malu. "Benar Bu, saya malu sama teman-teman, dan juga malu klo dosen-dosen yang lain tau".
Ternyata sanksi sosial itu lebih menakutkan dan berat yah....
Sebenarnya ci tidak boleh ceritakan hal ini sama orang lain karena sudah janji sama dia tidak akan bilang sama dosen lain, tapi kan janjinya tidak bilang ke dosen lain, bukan sama semua orang. Dan karena ci pengen cerita, tapi tidak bisa cerita ke teman-teman di ruangan, akhirnya ci cerita di blog aja, dan nama anaknya juga tidak ci sebutin, ga apa-apa lah. Mudah-mudahan ini bukan bentuk pengingkaran janji.

0

Amazing...

Posted by Desi on 3:11 PM

Subhanallah, menakjubkan yah awannya. Gumpalan awan yang bergulung dan membentuk lubang besar yang disebut dengan Lenticular Cloud, seperti akan melumat kota yang ada di bawahnya. Awan ini ditemukan di atas kota Hawai.

Sedangkan cahaya hijau ini adalah pancaran aurora. Klo kita liat baik-baik, akan terlihat seperti tulisan arab Alif Laam Mim. Aurora ini dinamakan dengan Auroradouble Hoffman.

Ternyata pergerakan di tata surya ini terjadi setiap detik, dan bahkan ada saja penemuan planet baru, bintang baru bahkan galaksi baru. Semakin canggih teknologi, semakin banyak temuan-temuan menakjubkan yang membuktikan betapa besarnya kekuasaan Allah. Lalu bukti apa lagi yang dibutuhkan oleh manusia ini sehingga dia masih juga belum mengakui Allah sebagai penguasa langit dan bumi.

Jika teman-teman mau liat kondisi di langit dan segala hal yang berkaitan dengan astronomi lainnya setiap hari, silahkan liat di sini. Gambar-gambar astronomi tersebut bersumber dari NASA dan di update setiap hari. Selamat menikmati ;)

0

Jilatan api yg berbentuk lafal Allah

Posted by Desi on 9:45 AM
Kamis, 14 Desember 2006, detiknews.com memberitakan bahwa jilatan api dari pipa gas pertamina yang meledak beberapa waktu lalu memperlihatkan bentuk lafal Allah. Hal ini diamati dari foto yg diambil oleh salah seorang pekerja PU yang tergabung dalam Tim Nasional Penanggulangan Bencana Lapindo. Menurut juru bicara Timnas, foto ini asli tanpa ada rekayasa. Untuk yang ingin liat foto dan beritanya, silahkan klik disini. Masalah rekayasa atau tidak, hanya Allah dan si pembuat foto yang tau, Wallahualam....

0

Jodoh

Posted by Desi on 8:24 AM
Ehm...ehm...sebelumnya agak ragu untuk ngepost blog ini, soalnya belum cukup ilmu :). Tapi gpp, untuk mancing comment dari teman2 yang baca.

Akhir-akhir ini ci banyak dapat pelajaran berharga mengenai jodoh. Jodoh setiap orang itu sudah ada dalam ketetapan Allah. Jodoh, maut, rezeki, semuanya ada dalam ketetapan Allah. Manusia boleh berusaha untuk mencari siapa orang yang dianggap cocok untuk menjadi pasangan hidup, tapi keputusan tetap dalam genggaman Allah.
Pelajaran pertama ci ambil dari pengalaman ci sendiri. Awalnya memang berat menerima kenyataan bahwa orang yang kita harapkan untuk menjadi pasangan hidup, belum tentu akan menjadi jodoh kita. Tapi dengan banyak membaca, mendengar dan menerima nasehat-nasehat dari banyak orang, berdoa dan mohon bantuan Allah, InsyaAllah semuanya akan bisa dihadapi. Lalu belajar dari pengalaman-pengalaman orang, teman dan cerita-cerita baik di TV maupun dunia nyata.
Dua hari belakangan ini, ada dua kisah yang lumayan bagus tuk dijadikan bahan pelajaran. Kisah ini bukan dongengan, tapi terjadi pada teman ci sendiri.
Yang pertama, ttg seorang teman, yang sudah menjalin hubungan dengan seorang pria dan mereka telah berencana untuk melanjutkan hubungan tersebut ke jenjang pernikahan. Saat si wanita mendapat pekerjaan yang jauh dari kampung halaman, dan si pria juga mendapat pekerjaan di t4 yang berbeda, akhirnya hubungan mereka dilanjutkan secara jarak jauh. Kondisi ini berlangsung selama 3 tahun. Si wanita terus berusaha mencari pekerjaan baru yang bisa mendekatkannya dengan calon suami. Setelah tiga tahun saling berjauhan, akhirnya mereka menetapkan tanggal pernikahan, meskipun si wanita belum juga menemukan pekerjaan yang bisa mendekatkannya dengan calon suami. Tapi mereka menjalaninya ini dengan benar sesuai dengan aturan Allah, mereka menyerahkan semua urusannya pada Allah, yang jelas mereka sudah punya niat baik untuk menjalankan sunnah Rasul. Segala sesuatu yang dimulai dengan niat yang baik dan dijalankan dengan baik pula. Insya Allah akan mendapat redha Allah. Akhirnya, tiga minggu menjelang hari pernikahan, si wanita mendapat pekerjaan disebuah perusahaan BUMN besar di Indonesia yang lokasinya ternyata di kota yang sama dengan t4 calon suaminya. Alhamdulillah dan Subhanallah, apa yg diharapkan dimudahkan jalannya oleh Allah. Mereka akan melangsungkan pernikahan akhir tahun ini. Semoga pernikahan mereka lancar dan memperoleh keluarga yang Sakinah, Mawaddah, wa Rahmah.
Sedangkan kisah kedua juga dialami oleh teman dekat ci. Dia juga telah menjalin hubungan dengan seorang pria yg sudah matang dari segi usia. Mereka berada di kota yg sama dan bekerja di instansi yang sama. Mereka juga telah berniat untuk menikah, namun sampai saat ini rencana itu belum juga terlaksana karena ada beberapa hal. Teman ci mensyaratkan pada calonnya beberapa hal yang cukup mengagetkan. Dia mensyaratkan calon suaminya untuk memiliki beberapa materi dulu sebelum menikah, sehingga setelah menikah nanti mereka bisa mandiri, tidak perlu minta bantuan orang tua lagi. Persyaratan yg diajukannya ini membuat orang akan berpikir klo dia tipe cewek materialistis. Setelah ci tanya, ternyata dia bersikap seperti itu karena ada trauma dalam keluarga, yaitu kakak kandungnya diperlakukan tidak adil oleh suaminya. Adil disini bukan berarti poligami, tapi kebutuhannya jadi prioritas no sekian2, setelah mertua dan ipar2nya. Teman ci ini takut hal yg sama terjadi padanya. Dan kebetulan calonnya ini ternyata juga sangat mengutamakan keluarganya dia (ortu, kakak adik nya) dibanding orang lain. Entahlah apa yg direncanakan Allah untuk mereka. Mudah2-an mereka dimudahkan jalannya oleh Allah.
Dari dua kejadian tersebut dapat disimpulkan, bahwa sedekat apapun kita dengan calon suami dan sematang apapun rencana kita persiapkan, tapi jika dia bukan jodoh kita, tetap saja tidak akan jadi suami. Dan walau sejauh apapun jarak memisahkan dan siapapun yg akan merintangi, klo memang jodoh, tidak akan kemana dan tidak akan ada yg bisa melawan kehendak Allah.
Wallahualam wa astaghfirullahal'adzhim....

0

Pelangi

Posted by Desi on 7:42 AM
Sabtu sore kemaren, ada pelangi di langit pekanbaru, sebelumnya hujan mengguyur dan setelah reda matahari masih sempat menampakkan sinarnya sore itu. Subhanallah karena tidak hanya satu pelangi tapi ada dua pelangi waktu itu dan cukup lama ada di langit, kira-kira setengah jam. Baru ci sadari klo ternyata sejak ci ada di Pekanbaru, ini kali pertama ci liat pelangi di Pekanbaru. Indah sekali dan mengingatkan pada sebuah mimpi. Kira-kira satu setengah tahun yang lalu, ci pernah bermimpi melihat awan gelap hitam dan bergulung-gulung di langit sebelah selatan. Suasananya waktu itu benar2 agak menakutkan, apalagi ditambah dengan hujan badai dan isu tsunami di kota Padang (hehe...mungkin mimpi ini pengaruh ketakutan tsunami, maklum lagi heboh tsunami di Padang waktu itu). Namun beberapa saat kemudian, awan gelap itu hilang dan kondisi langit berubah menjadi sangat cerah. Bukan itu saja, di langit muncul pelangi yang berwarna warni, tidak hanya satu atau dua pelangi, tapi seluruh langit ditutupi oleh pelangi. Mimpi yang aneh, tapi sangat menakjubkan :).
Saat melihat pelangi ini, ci bertambah yakin bahwa setelah gelap itu ada terang, setelah kesulitan itu ada kemudahan, setelah kesedihan ada kebahagiaan, disetiap keburukan ada kebaikan, dan setiap kejadian itu ada hikmahnya. Kita sebagai manusia harus bisa belajar dari hukum alam tersebut. Dan Allah sudah punya skenario untuk semua ciptaanNya. Jadi jangan bersedih, jalani saja hidup ini sesuai dengan kehendak Allah :) (duh..ci seperti orang yg dah tegar aja, bagaimana ka...?)

0

Berjuta Terima Kasih

Posted by Desi on 9:30 AM
Milad kali ini benar2 membahagiakan karena ternyata banyak teman yang masih ingat sama hari lahir ci. Dan lebih banyak doa untuk ci dibandingkan dengan tahun lalu, bahagianya....:)
Kita tidak tau dari mulut siapa doa itu akan dikabulkan, jadi banyak2lah minta doa sama orang lain :)
Terima kasih teman2 atas semua doa nya...:). Moga Allah memberikan kebaikan dan keberkahan tuk teman2 semua. Amiin...

1

My Great Day

Posted by Desi on 7:41 AM
Hari ini genap seperempat abad umur-ku. Ternyata ici dah tua yah...:)
Berarti usia ci dah kurang 25 tahun dari yang dijatahkan Allah.
Ada satu pelajaran besar yang ci dapat selama setahun ini yang menjadikan hari ini begitu berkesan dibandingkan milad tahun2 sebelumnya. Hari ini ci benar2 merasakan besarnya arti persahabatan dibandingkan hal lainnya. Dalam kesusahan, kesedihan dan kebahagiaan yang ci lalui, selalu ada sahabat2 terbaik yang selalu menemani, sebagai tempat berbagi dan bertukar pikiran. Mereka mengajari ci untuk tegar dan memandang kehidupan dari sisi lain yang selama ini belum pernah ci lakukan. Mereka memberikan pengalaman2 berharga yang mudah2an ci bisa belajar darinya. Mereka mengajari ci bahwa hidup ini tidak semata-mata mengenai cinta dan ambisi. Tapi redha Allah lah yang paling utama. Dan untuk memperoleh redha Allah itu menurut ci tidak mudah. Butuh Kesadaran dan usaha. Karena tidak semua hal dalam hidup ini akan kita lalui dengan mulus.
Tapi Syukur pada Allah, berkat teman2 terbaik ci, Alhamdulillah dan InsyaAllah, ci bisa membangkitkan semangat lagi. Hidup terasa lebih berarti berkat kalian.
I know that i'm not alone, coz I have you all friends as my brother and my sisters. Thanks to Rika, Pepi, Desi, Nisa, Cici, Sari and Hera, You are always there, when I need support. I love you all...
And I dedicate this story for you all girls. I got it from Mba Lukie (a friend of mine at PCR), when she had to move to Balikpapan. Hope you like it :) even some of you red this b4..:D

SAHABAT WANITA

Pada suatu hari, seorang wanita muda yang baru saja menikah mengunjungi
ibunya di Bukit Timah. Mereka duduk di sebuah sofa dan menikmati segelas
air teh dingin.

Ketika mereka sedang berbincang-bincang mengenai kehidupan,
pernikahan, tanggung jawab dalam hidup serta kewajiban,
sang ibu dengan perlahan menaruh sebongkah es batu ke dalam gelasnya dan
menatap wajah anak perempuannya.

"Jangan lupakan sahabat-sahabat wanitamu" nasihatnya,
sambil mengaduk-ngaduk daun teh di bawah gelasnya.
"Mereka akan menjadi orang yang penting bagimu ketika usiamu makin tua.
Tidak peduli seberapa dalam kau mencintai suamimu, seberapa banyak
anak-anak yang kau miliki, kau masih tetap harus memiliki sahabat wanita.
Ingatlah untuk berjalan-jalan bersama mereka,
melakukan hal bersama-sama dengan mereka.
Dan ingat bahwa mereka bukan hanya sekedar sahabat wanitamu,
tetapi mereka akan menjadi saudara, anak dan yang lainnya.
Kau akan membutuhkan sosok wanita yang lain. Wanita selalu begitu."

"Sungguh nasihat yang aneh," pikir si wanita muda.
"Bukankah aku baru saja menikah?
Bukankah aku baru saja bergabung dalam dunia pasangan-pasangan muda?
Sekarang saya adalah seorang istri, orang dewasa, bukan anak perempuan
kecil yang memerlukan teman main perempuan lainnya! Tentu saja keluarga
yang akan kami bina dapat membuat hidup saya lebih berarti."

Tetapi, ia mendengarkan nasihat ibunya;
ia terus berhubungan dengan sahabat-sahabat wanitanya
dan bertemu dengan semakin banyak sahabat setiap tahun.
Ketika tahun demi tahun berlalu, ia mulai merasakan
betapa benar nasihat yang diberikan ibunya.
Ketika waktu dan keadaan mengubah keberadaan
mereka sebagai wanita dengan segala misterinya,
sahabat-sahabat wanitanya tetap berada dalam kehidupannya.
Setelah hidup selama 50 tahun dalam dunia ini,
inilah fakta-fakta yang saya dapatkan dari
memiliki sahabat wanita:

Sahabat wanita membawakan kau kari ayam dan
menggosok kamar mandimu ketika kau membutuhkan pertolongan.
Sahabat wanita akan menjaga anak-anak dan rahasiamu.
Sahabat wanita akan memberikan nasihat ketika kau membutuhkannya.
Kadang-kadang kau menerimanya, kadang-kadang tidak.

Sahabat wanita tidak selalu mengatakan apa yang kau lakukan benar, tetapi
mereka biasanya bersikap jujur.
Sahabat wanita akan terus mengasihimu, meskipun ada perbedaan pendapat.

Sahabat wanita akan tertawa bersama-sama denganmu,
dan lelucon kosong sama sekali tidak diperlukan
hanya untuk sebuah tawa.

Sahabat wanita akan menarikmu dari kesulitan.
Sahabat wanita akan menolongmu keluar dari hubungan-hubungan yang buruk.
Sahabat wanita menolongmu mencarikan rumah tinggal yang baru, membantu
mengepak barang dan pindah.

Sahabat wanita akan membuat sebuah pesta untuk anak-anakmu
ketika mereka menikah atau memiliki anak,
manapun yang lebih dulu terjadi.

Sahabat wanita akan selalu berada di sampingmu, dalam suka maupun duka.
Sahabat wanita akan menempuh badai, topan, panas, dan kegelapan untuk
mengeluarkan kau dari keputusasaan.

Sahabat wanita akan mendengarkan ketika kau
kehilangan pekerjaan atau seorang kawan.
Sahabat wanita akan mendengarkan ketika
anak-anakmu mengecewekanmu.

Sahabat wanita akan mendengarkan ketika
keadaan orang tua kita semakin memburuk.

Sahabat wanita akan menangis bersamamu ketika
orang yang dikasihimu meninggal.

Sahabat wanita menghiburmu ketika kau
dikecewakan oleh banyak pria di dalam kehidupanmu.

Sahabat wanita membantumu untuk bangkit kembali
ketika pria kau cintai pergi meninggalkanmu.

Sahabat wanita senang ketika mereka melihatmu bahagia,
dan bersedia mencari dan melemparkan apa yang tidak membuatmu bahagia.

Waktu berlalu.
Kehidupan berjalan.
Jarak memisahkan.
Anak-anak beranjak dewasa.
Cinta hilang dan pergi.
Hati yang hancur.
Karir berakhir.
Pekerjaan berganti.
Orang tua meninggal.
Rekan-rekan melupakan kebaikan.
Pria tidak menelpon ketika mereka berkata mereka akan melakukan sesuatu
(misalnya saat berpindah ke lain hati).

TETAPI, sahabat-sahabat wanita akan terus mendampinginmu,
meskipun waktu dan jarak yang terpaut sangat jauh.

Seorang sahabat wanita tidak akan lebih jauh
dari orang-orang yang membutuhkan.
Ketika kau harus berjalan melewati lembah sendirian,
sahabat wanitamu akan terus berjalan bersamamu di atas puncak lembah,
menyusuri jarak bersamamu, menghiburmu, mendoakanmu, menarikmu, dan
menanti dengan tangan terbuka di ujung lembah ketika perjalanan berakhir.

Terkadang, mereka pun harus melanggar
peraturan untuk dapat berjalan bersamamu. Atau bahkan menopangmu.

Anak, saudara, ibu, ipar perempuan, ibu mertua, bibi, keponakan, sepupu
perempuan, keluarga jauh, dan para sahabat perempuan saya telah membuat
kehidupan saya lebih berarti! Dunia tidak akan sama tanpa kehadiran
mereka, dan begitu juga saya.

Ketika kita memulai petualangan kita sebagai wanita dewasa,
kita tidak tahu tentang kesukacitaan atau kedukaan yang akan
terjadi di depan.
Atau seberapa jauh saya dan mereka akan saling membutuhkan.
Tetapi saya tahu, saya masih tetap membutuhkan mereka setiap hari.

0

Pulang.....

Posted by Desi on 9:16 AM
Akhirnya hari ini datang juga...Rencananya hari ini mau pulang kampung...:) Jadi segala aktivitas yang dilakukan hari ini, dikerjakan dengan penuh semangat. Inginnya senja cepat menjelang karena itu tandanya travel segera datang menjemput...:)

Copyright © 2009 Edelweiss All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.