Ketika aku membeli sabun colek, temanku Hesty berkomentar kalau caraku mencuci masih klasik. Yah...terserah kl menurut org aku masih kuno dalam hal mencuci, tapi itulah kebiasaan yg aku warisi dari orang tuaku. Sehingga aku orang yg berpandangan bahwa mencuci dengan mesin cuci itu tidak bersih. Untuk bagian krah baju, ujung tangan, bagian bawah baju atau ujung kaki celana serta bagian ketiak, butuh treatment lebih dari bagian lainnya. Dan itu tidak bisa didapatkan hanya dengan di gulung-gulung di mesin cuci.
Bicara mengenai cara-cara yg masih kuno, aku jadi ingat banyak hal yg diajarkan dan ditanamkan oleh orang tuaku kepada kami anak-anaknya sedari kecil dulu. Sejak dulu sampai sekarang, kami terbiasa makan bersama dengan cara di hidang. Dulu sebelum ada meja makan, kami makan bersama dengan duduk di lantai mengelilingi makanan yang di hidang di atas seprah makan. Jam makan juga sdh terjadwal, baik siang maupun untuk makan malamnya. Siang jam setengah 12, sebelum masuk waktu dzuhur dan mkn malam lebih awal yaitu jam setengah 6, sebelum masuk waktu maghrib.
Ketika sdh jadwal makan, kami anak2 perempuan di panggil untuk menghidangkan makanan. Kalau kebetulan sedang bermain di luar, berarti kami harus segera meninggalkan permainan itu. Tata cara penghidangan dan penyusunan letak makananpun jadi perhatian. Di mana letak nasi, lauk, piring, gelas, cuci tangan dan air. Bahkan sebelum menghidang, nasi yang sdh masak pun harus di salin dari periuk atau dandang ke cambung (mangkok besar) nasi. Cara menyalin nasi pun harus benar, nasi tidak boleh berbingkah-bingkah atau bergumpal-gumpal.
Saat makan, orang tua laki-laki dulu yang memulai mengambil nasi. Cara mengambil nasi untuk disalin ke piring pun tidak sembarangan, harus ke arah dalam, kalau tidak nasi akan berserakan ke luar.
Semua kebiasaan itu aku rasakan seperti sebuah kekangan. Karena saat itu teman-temanku tidak ada yg makan bersama, mereka makan sendiri-sendiri kapanpun mereka mau. Sehingga aku iri dengan teman-temanku yang tetap bebas bermain setidaknya hingga jadwal bermain habis yaitu saat maghrib masuk.
Untuk kebiasaan shalat dan aktivitas rohani pun spt itu, beliau berdua mendidik kami dengan keras dan dengan cara kuno.
Namun sekarang, hal itu benar-benar aku syukuri. Jika bukan karena didikan dan disiplin yang keras spt itu, aku tidak akan memahami tata krama atau norma-norma yang sekarang sdh sulit mencarinya. Sekaranglah manfaat itu aku rasakan. Dan pendidikan di rumah itulah yg paling berperan dalam membentuk karakterku.
Hingga pada waktu aku di Makkah, sebelum berangkat wukuf, aku sempatkan dan khususkan meng-sms kakak perempuanku dan mengatakan bahwa betapa bersyukurnya aku, dan seharusnya dia juga merasakan hal itu, bahwa telah dilahirkan dari orang tua kita yang sekarang ini. Betapa terasanya manfaat didikan dan disiplin yang beliau berdua ajarkan, ketika aku berada di tanah suci ini.
Banyak lagi hal lain yang mungkin orang akan berkata, "klasik/kuno sekali cara yang kamu lakukan". Dan hal baik meskipun kuno itu adalah harta yang akan aku wariskan pada generasi berikutnya, Insya Allah.