0

Asa

Posted by Desi on 1:26 PM
Sedih karena belum bisa membantu orang tua dalam hal financial. Sebagai anak sudah seusia ini  masih saja bergantung pada orang tua padahal beliau berdua tidak lagi punya penghasilan. Sedih karena belum bisa membahagiakan beliau berdua. Kadang masih sering menunjukkan kesedihan pada beliau berdua. Padahal itu semua hanya akan menambah beban pikiran beliau berdua. Sedih karena belum bisa mewujudkan keinginan beliau berdua. Padahal ketika dulu kita punya keinginan, beliau memenuhinya. Sedih belum bisa berbakti kepada beliau berdua, padahal tidak tau umur ini akan sampai kapan.

Ya Allah, mohon bahagiakan kedua orang tua hamba di dunia dan akhirat. Aamiin Ya Allah.

0

Rambut Dibelah 7

Posted by Desi on 3:11 PM
Kemaren waktu nyisir rambut, aku menemukan sehelai rambutku yang bercabang tiga. Coba kutarik dan lihat dengan seksama. Ternyata ada satu cabang yg bakal bercabang lagi, tapi masih kecil, hampir tidak keliatan. Berarti rambut itu bercabang 4. Aku tarik setiap cabangnya satu-satu. Cabang yang sudah terlepas begitu halus.

Tiba-tiba terbayang shirathal mustaqim, yang lebarnya seukuran rambut dibelah tujuh, begitu halus dan tipis. Bagaimanalah caranya berjalan di atas jempatan yang sehalus itu tanpa terjatuh. Sedang berjalan di bandul yang seluas kaki saja masih tidak seimbang. 

Apakah aku bisa melewati jembatan itu tanpa terjatuh ke lembah api yang menyala-nyala di bawahnya? Hanya kepada Allah kita minta pertolongan.

3

I Fell in Love

Posted by Desi on 8:42 AM
Aku telah jatuh cinta pada saat pertama melihatnya. Meskipun aku belum pernah bertemu langsung dengannya, belum pernah menyentuhnya, belum pernah memeluknya, belum pernah mendengar suaranya dan belum pernah menyapanya. Aku hanya melihatnya dari foto dan memang hanya akan bisa melihatnya lewat foto. Tapi saat pertama melihat wajahnya itu, aku telah jatuh cinta. Wajahnya yang indah, rambutnya yg ikal, dan semua yang ada pada dirinya telah menawan hatiku. Tak bosan2 melihat wajahnya meskipun hanya lewat foto.

Ingin memeluk dan mendekapnya, ingin mendengar suaranya yg merdu, ingin mendapatkan perhatian darinya, ingin memilikinya. Tapi sepertinya itu tidak akan pernah terjadi, karena dia tidak akan pernah dikenalkan kepadaku, aku tidak akan pernah bertemu dengannya. Orang tuanya tentu tidak akan membiarkan aku mengenalnya.

Aku tidak tau apakah perasaan ini hanya sesaat, entah karena wajahnya mengingatkanku pada wajah yg pernah aku sayangi, atau karena dia dibentuk dari pemilik sperma yang pernah aku sayangi. Tapi jika seandainya dia diserahkan padaku, aku akan menyayanginya dan memperlakukannya seperti dia berasal dari rahimku sendiri. Love you little cute and pretty baby, even thought we've never known and maybe will never know each other. Semoga Allah selalu menjaga dan membimbingmu. Semoga engkau menjadi seorang bidadari yang akan menghiasi dunia dan surganya Allah kelak. Aamiin...

2

Pemberontakanku

Posted by Desi on 2:05 PM
Dulu waktu aku mulai bekerja di institusi ini, aku masih seorang karyawan kontrak yang berlaku baik, idealis dan patuh pada aturan. Walaupun satu setengah tahun sebelumnya aku pernah punya pengalaman di industri, tapi karena aku yg dasar orang nya teratur, sistematis dan nurut, tetap saja aku masih menjadi seorang yang idealis dan teratur. Aku bebas dari kontaminasi ketidakdisiplinan orang-orang di industri tersebut. Mungkin salah satu penyebabnya juga karena didikan keluargaku.

Namun belum genap 2 tahun bekerja di institusi ini, belum genap habis masa kontrakku, aku dipaksa untuk menduduki sebuah posisi yang mengharuskanku untuk menjadi seorang contoh, seorang yg wise, seorang bertugas untuk mengkoordinir orang lain. Orang-orang yang aku koordinir itu tidak hanya orang yang lebih kecil usianya dariku, tapi orang yang lebih senior dariku juga harus aku kelola dengan baik. Berarti sejak itulah hingga akhir tahun lalu, aku harus menjadi seseorang yg mengarahkan orang lain untuk ikut aturan yg telah ditetapkan oleh atasan yg lebih tinggi lagi.

Banyak hal yang aku alami selama memegang posisi tersebut. Aku tidak sempat menikmati bagaimana menjadi seorang pegawai yang undisiplin, sebab aku harus bisa jadi role model. Posisi itu sangat tidak enak, karena atas dan bawah menekan sehingga kalau aku bilang, posisi itu merenggut kebebasanku. Kalimat tersebut harusnya tidak aku ucapkan, tapi ini mungkin suara hatiku yang paling jahat. Selama itu pula aku melihat dan mendapatkan perlakuan (tepatnya menghadapi) berbagai sikap atau perlakuan positif dan negatif, ada yang suka dan ada yg tidak suka, bentuk persetujuan dan protes. Dan banyak dari semua hal itu yg aku tahan sendiri, menyimpannya sendiri, menanggungnya sendiri, dan menyelesaikannya sendiri agar kondisi dan situasi tetap tenang.

Sekarang aku tidak lagi di posisi itu dan mungkin kenakalanku serta bentuk protesku akan keluar sekarang. Disaat aku tidak lagi harus menjadi seorang role model, aku mengeluarkan semua rasa ingin bebasku yang telah terikat lama itu. Aku spt sedang menunjukkan pemberontakanku dan spt membuat orang lain juga bisa merasakan apa yg aku rasakan pada posisi itu dulunya. Betapa tidak inginnya aku menduduki posisi itu lagi. Namun aku juga sadar, jika aku melakukan hal yg dilakukan org lain dahulunya kepadaku yg aku tidak suka, maka aku sama buruknya dengan mereka. Namun pada saat protes dan kesalku memuncak, saat sabarku kalah oleh nafsuku, akhirnya ikatan itu terlepas juga, dan jadilah aku spt burung yg lepas dari sangkarnya.

Mungkin salah satu pemicu kenapa aku berani melepas ikatan ini adalah karena aku telah merasakan bahwa tidak ada gunanya lagi aku terlalu patuh, toh yg ada akhirnya begitu juga. Perubahannya tidak akan signifikan juga. Inilah yg mungkin juga dirasakan dan yg ada dalam pikiran teman2 yg lain. Yang penting saat ini hanyalah bagaimana memberikan yg terbaik untuk mahasiswa, sedang untuk yg lain tidak peduli lagi. Penilaian pimpinan itu sdh tidak penting lagi.

Kalau aku pikir2, hal ini merupakan sebuah kemunduran dan aku menyadarinya. Namun aku tidak bermaksud untuk menghancurkan intitusi ini, ini hanya bentuk protes, rasa kesal, ketidakpuasan, pemberontakan, dan kenakalanku yg tersembunyi selama ini. Entah sampai kapan bentuk pemberontakan ini akan bertahan, kita lihat saja. Suatu saat aku akan lelah karena proses pendewasaan diriku masih terus berlangsung. Hati dan pikiranku sering berdialog, dan ujung-ujungnya pembicaraan antara hati dan pikiran itu akan bertanya pada Allah ketika perdebatan mereka tidak mendapatkan titik temu, itulah kontrolku dalam bertindak selama ini. Aku bersyukur karena itu tanda Allah masih membimbingku. Wallahu'alam

3

Merindukan Blog Update Seseorang

Posted by Desi on 2:53 PM
Tiba-tiba saja aku merindukan seorang teman yang sudah lama tidak terdengar kabarnya. Dulu dia aktif sekali di dunia maya ini, aktif posting dan blog walking. Bahkan pengisi komentar paling aktif di postinganku dulunya adalah dia. Namun sekarang blog nya tidak aktif lagi, komentarnya juga tidak pernah ada lagi. Ketika dia jarang posting, aku pernah mesej dia untuk posting lagi. Akhirnya dia kirim smile dan ngasih kabar kalau dia sudah posting lagi. Walaupun postingannya rada-rada berat, panjang dan berfilsafat ria, tapi tetap menyenangkan ketika membacanya, karena menambah pengetahuan dan mengajak kita berpikir.

Tapi sekarang blog nya sdh tidak aktif lagi, aku tidak tau juga mau mesej kemana, entah dia masih aktif di dunia maya. Tapi aku yakin bagi teman-teman yg mengenalnya akan tau siapa yg aku maksud dalam postingan ini. Dan aku juga yakin kalau dia baca postingan ini, dia akan tau kalau dirinya yg aku maksud :).

2

Treatment Berbeda

Posted by Desi on 2:25 PM
Ternyata orang dari daerah dan lingkungan yang berbeda membutuhkan treatment yang berbeda. Itulah yang aku alami saat ini dalam menghadapi mahasiswa dan anak2 binaanku yang baru. Mahasiswaku yang kuliah di PCR, mereka sudah terbiasa dengan kehidupan yang lebih modern, dimana dalam kehidupan modern semuanya lebih individual, tingkat kecuekan tinggi, telinga, muka dan hati sudah pada tebal, sehingga apapun perkataan dan sikap orang bagi mereka cuek aja, selama tidak menyinggung dan mengganggu secara langsung.

Sementara mahasiswa binaanku yang ikut training memasak ini, yang semuanya berasal dari daerah, tidak terlalu dekat dengan kehidupan modern (bukan berarti primitif atau kuno), mereka terbiasa dengan suasana di daerahnya yang mungkin kekeluargaan masih sangat kental. Sehingga tingkat kecuekan tidak sama dengan yang tinggal di kota. Apapun sikap dan perkataan orang lain akan sangat mengganggu hati dan perasaan, terlalu dipikirkan, akhirnya memutuskan pulang dan tidak lanjut training, sayang banget kan...

Ternyata ketika menghadapi mereka dengan lingkungan yang berbeda ini, perlakuan terhadap mereka juga berbeda. Ketika berhadapan dengan mahasiswaku di kampus ini, berlaku keras sedikit demi mendisiplinkan mereka tidak terlalu masalah, toh mereka juga sudah terbiasa dengan hal itu. Sedangkan ketika berhadapan dengan anak2 training memasak ini, aku tidak bisa keras dengan mereka. Kita harus memperlakukan mereka seperti memperlakukan anak kecil yang begitu sensitif. Mereka ibarat butiran air yang mudah pecah, mereka rapuh, kalau tidak hati-hati justru akan membuat kondisi jadi tidak lebih baik. Harus lebih banyak sabar.

Alhamdulillah, dapat bekal lagi untuk menghadapi hal yang lebih besar lagi.

0

Nikmat Tuhan yang Mana Lagi...

Posted by Desi on 9:41 AM
Betapa pelitnya aku ini, karena begitu sedikit rasa syukur yang ku ucapkan dari mulutku. Sedangkan cinta, sayang dan karunia Allah begitu tak berhingga padaku. Oh ci-e, nikmat Tuhan mu yang mana lagi yang kamu dustakan.

Kemaren ketika aku melunasi mesin jahit untuk training menjahit yang akan diadakan bulan Mei nanti, aku beli habbatusauda yg kebetulan si Bapak penjual mesin jahit juga menjual obat2 herba. Tapi ketika aku mengeluarkan uang, Bapak penjual itu berkata, "saya kasih ajalah untuk ibu obat ini dan juga untuk ibu yang satu lagi, yang waktu itu aku berdua dg kak Uq kesana. Tidak hanya itu, "gini aja" kata Si Bapak, "saya kasih ibu berdua sepaket". Aku tidak tau isi sepaketnya apa, rupanya 1 botol habbat, 1 botol virgin olive oil, 1 botol madu hutan murni, dan 1 botol madu hitam yaitu madu yang telah dicampur dengan bubuk habbat. Semuanya itu gratis untuk kami berdua masing-masing dapat 1 paket. Dan ditambah dengan doa dari Si Bapak, "semoga menjadi berkah untuk ibu berdua".

Bapak itu menjelaskan bahwa obat yang mereka jual ini sebenarnya bukan untuk dijual tapi dikonsumsi sendiri oleh Bapak itu sekeluarga beserta pegawai2nya. Jadi untuk stok aja baginya. Namun ternyata ketika ada konsumennya atau teman2 tetangga tokonya yang datang dan mereka ingin membelinya, akhirnya Bapak itu menjual tapi dengan harga yang sangat murah. Dan kemaren waktu kami datang katanya karena kami tidak minta kuitansi kosong, Bapak itu menghadiahi kami obat2 tersebut dan semoga jadi berkah. Memang di awal Bapak itu pernah bilang bahwa beliau tidak terima permintaan kuitansi kosong, sebab ada beberapa konsumen yang meminta hal itu kepadanya. Kami juga sdh menegaskan bahwa ini projectnya jujur, jadi untuk apa pakai kuitansi kosong, Bapak itu senang. Semoga usaha Bapak tersebut makin berkembang dan sukses.

Ya Allah, nikmat Mu yang mana lagi yg kami dustakan. Alhamdulillah, sejak mengurus training memasak dan menjahit ini, tiap pergi keluar, ada saja nikmat Allah untuk kami. Kalau datang ke SMK 3, selalu disuguhi bakeri dan makan siang beraneka menu hasil buatan anak2 didik disana. Sampai-sampai kami merasa sungkan kalau kesana, karena selalu disuguhi hasil karya anak2 SMK. Ditolakpun, tidak ada doa untuk menolak rejeki. Semoga Allah memberikan berkah untuk bapak2 dan ibu2 yang baik tersebut semuanya, amiin Ya Allah.

4

Jalan Kaki yang Menyenangkan

Posted by Desi on 9:15 AM
Telah sebulan ini aku pulang kuliah sendiri tanpa minta di antar oleh sepupuku. Karena hari sabtu kuliahnya selesai maghrib, alhasil nyampe di Rumbai juga sdh kemalaman, dan angkot dari simpang jalan sekolah ke umban sari (daerah kontrakanku) tidak ada lagi, maka aku putuskan untuk jalan. Meskipun kadang ada satu atau dua ojek, aku tidak prefer merekalah, karena tukang ojek di sini ugal-ugalan.

Meski capek tapi menyenangkan. Sudah lama aku tidak jalan kaki pulang kuliah. Dulu sejak SD hingga SMU, untuk pergi dan pulang sekolah dengan jalan kaki, karena jarak sekolah cuma 10 - 15 mnt. Waktu itu aku iri dengan teman2 yg naik kendaraan pergi dan pulang sekolah. Hingga dalam hati berkata kapan aku naik kendaraan pergi dan pulang sekolah. Aku juga ingin bisa naik angkot atau bus spt teman2ku, keliatan lebih mandiri dan berani.

Waktu kuliah S1 akhirnya aku bisa naik kendaraan ke kampus, naik bus atau angkot. Namun karena kampusku berlokasi di bukit dengan struktur tanah yg tidak rata, alhasil aku juga lebih banyak jalan ketika berada di kampus. Sebab antar gedung kuliah dan gedung fakultas letaknya jauhan. Dan pada saat pulang kuliah bus kampus kalau sudah sore juga tinggal satu dua, sehingga harus jalan ke gerbang berharap ada bus yang lewat dan mau berhenti. Biasanya kalau sdh sore bus nya sering penuh, setidaknya dapat tempat untuk menginjakkan kaki di lantai bus sudah syukur banget.

Waktu berada di tanah suci, para jamaah juga jalan kaki pergi dan pulang dari masjid. Rata-rata 8 km per hari. Itu baru jalan pergi dan pulang dari measjid. Kalau melaksanakan thawaf dan sa'i, akan banyak lagi langkah kaki. Jadi nya sehat, meskipun aku gemuk selama berada di sana, tapi karena banyak jalan, jadinya aliran darah tetap lancar :).

Pernah baca artikel, orang yang jalan kaki sejauh 19 km/minggu, bisa membakar lemak perut dalam jumlah banyak. Bagi yang jalan kaki sejauh 32 km/minggu, akan membakar kalori hingga perut bagian dalam dan lebih banyak kalori yg dibakar. Wah pasti perutnya jadi flat :). Jalan kaki menyehatkan dan akan terasa menyenangkan kalau cuaca tidak panas terik, setuju kan teman2 :)


2

Anak Binaanku yang Baru

Posted by Desi on 9:03 AM
Dua minggu ini aku mulai mengkoordinatori sebuah training berdua dengan kak Uq. Training yang kami koordinatori ini bukan training terkait keilmuan kami saat ini, training nya adalah training memasak. Peserta training ini direkrut dari anak2 putus sekolah di daerah2 Bengkalis. Mereka ada yang tamat kuliah, sedang kuliah, tamat SMA, tamat SMP, bahkan ternyata ada yang hanya tamat SD. Jumlah mereka yang ikut training memasak ini ada 17 orang, 1 orang diantaranya laki-laki.

Penampilan mereka sangat daerah sekali, maksudnya benar2 sederhana. Pakaian mereka sangat biasa. Malah banyak yang hanya datang dengan sandal jepit. Tas mereka juga banyak yg pakai tas dengan bahan dari plastik (bukan kantong asoy-red). Waktu kami bawa mereka survey tempat training di SMK 3 Pekanbaru, aku memperhatikan anak2 SMK tersebut memperhatikan mereka lekat2 dari atas sampai bawah. Dan aku juga bisa merasakan perasaan anak-anak binaanku yang baru ini, mereka merasa minder di antara siswa sekolah tersebut.

Akhirnya pulang dari survey tempat, kami ajak mereka makan steak, dan kami belikan tas, serta sepatu baru untuk mereka. Berharap setidaknya mereka tidak akan merasa minder saat mengikuti training nanti. Namun sayang waktu kami ajak makan steak, dan salahnya kami tidak bertanya dulu, ternyata banyak mereka yang tidak menyukai daging. Banyak mereka yang sejak kecil tidak dibiasakan makan daging.

Ketika melihat mereka, dan membandingkan dengan anak2ku yang ada di kampus ini, rasanya begitu terbalik. Mahasiswaku sudah terbiasa dengan fasilitas yang cukup yang mereka dapat dari orang tua mereka. Kuliah di tempat yang juga dilengkapi dengan berbagai fasilitas. Namun semangat untuk belajar mereka justru rendah karena sudah terbiasa dalam keadaan cukup sehingga jadi malas.

Sedangkan anak binaan ku di training memasak ini, mereka dari daerah yang aku tidak tau apakah mereka sebenarnya berasal dari keluarga yg berada atau tidak. Namun yang jelas mereka dari daerah dan menurutku fasilitas di sana tidak akan selengkap di kota. Mereka datang untuk bisa mendapatkan ilmu dan berharap setelah selesai training ini mereka bisa mandiri, buka usaha sendiri dan sukses sebagai seorang wirausahawan. Semoga saja, aamiin Yaa Rabb...

5

Home Alone, Again...Soon..

Posted by Desi on 8:58 AM
Untuk kedua kalinya, aku akan sendiri lagi di kontrakan. Teman kost sebentar lagi akan menikah, sediiih... Tak tau lagi apa namanya yg dirasakan oleh hati ini karena sdh bercampur aduk. Tak tau juga apakah harus menangis, tetap tersenyum dan tegar, cemberut, kesal, marah, berusaha ikhlas, sabar dan segala macam. Namun diantara semua campur aduk ini, hanya satu yg aku tau apa namanya yg kurasakan, yaitu lelah.

0

Salah Satu Kebahagiaanku

Posted by Desi on 4:32 PM
Terharu membaca note mahasiswaku ini.
=======================================

Ayah dan Ibu di Bilik Ilmu dan Bakat (untuk Guru dan Pengajar)

By : Ojiek Mohammed Owen


Selamat Hari Guru

Hingga saatnya kan tiba
aku kan mengerti

Betapa kesal, jika mengajar tidak didengar

Betapa sedih, jika menasihati tidak diindahkan

Betapa bahagia, jika melihat siswanya berjasa

Betapa bangganya, menyaksikan siswanya bertahta

Bapak Ibu Guru , anda dimana . ?

Anda-anda semua di hatiku

Bapak Ibu Guru perintis kecerdasan anak bangsa

Cerdas itu baik akal dan budi

Sudah berapa bapak ibu guru yang terlewatkan ?

Sudah berapa bapak ibu guru yang diabaikan?

Maafkan kami murid dan siswa yang pemalas dan arogan ini

Terkadang kami merasa lebih pintar, merasa lebih benar.

Terkadang hati kami kesal mendengar nasihat mu

Mungkin itu sebab ilmu yang kami dapat tak berkah

Maafkan kami ayah dan ibu disisi hati yang lain

Seolah hati kami berbilik-bilik, bilik ilmu di hati kami terukir ajaranmu

Kami percaya tak ada guru yang berniat buruk untuk siswanya

Capek dan lelah anda guruku jadi semangat kami
Mungkin hanya do'a yang kami haturkan

Berkahkanlah ilmu yang diajarkan bapak ibu guru kami
Berilah kesehatan kepada bapak ibu guru kami
Semoga Allah swt jadikan siswa-siswa anda pemimpin yang tenang

Terima Kasih Guru

*special for (Bapak ibu guru, dosen, mam , ustadz, pelatih sepak bola, pelatih badminton, pelatih musik dan tari yang telah menjadi bagian sumber intelegensi dan potensi)

251111 by Muhammad Fahrozi

0

Menyenangkan dan Tidak

Posted by Desi on 1:17 PM
Ketika mereka datang dan telah menjadi seseorang yang bisa memberi makna dan bermanfaat bagi lingkungannya, saat itu adalah bagian yang paling menyenangkan dari profesi ini.

Ketika mengoreksi lembar jawaban ujian mereka dan mereka tidak bisa menyelesaikan ujian itu dengan baik, maka saat itu adalah bagian yang paling tidak menyenangkan dari profesi ini.

0

Demam Korea

Posted by Desi on 7:53 AM
Beda masa beda idola. Itulah yang bisa aku simpulkan saat menonton tayangan tv kemaren sore. Saat aku sekolah dulu, trend nya group band-group band barat seperti Westlife, Backstreet Boys, Boyzone, dll. Lalu saat aku kuliah, trendnya film-film taiwan. Tapi anak muda masa itu tidak sampai meniru gaya-gaya artis taiwan.

Sekarang lagi trend korea, mulai dari film, drama, lagu, hingga artis korea. Dan dampaknya muncullah group2 yang meniru-niru group korea. Bahkan ada audisi entah apalah namanya yang menyerupai idol2 korea. Parahnya hingga dandanan pun spt artis2 korea. Dan dari semua itu yang aku lihat, kebanyakan hanya menjual tampang dan mengandalkan uang untuk tenar.

Di acara sore kemaren di salah satu stasiun tv yaitu perayaan ultah sebuah group musik yang terdiri dari cewe2 manis, MC nya ada 3 orang, 2 cowok dan 1 cewek. Satu cowok yg jadi MC adalah MC tenar, sedangkan cowok yg satu lagi entah siapa aku tidak tau. Tapi memang tampangnya manis spt aktor2 korea, dan aku berkesimpulan bahwa si MC yang cowok tersebut adalah sebagai pemanis acara sehingga orang2 rame datang melihat. Sebab yang aktif ngomong tentu saja si MC kondang, sedangkan dia diam saja.

Lalu bagaimana dengan aku saat ini? Sepertinya sudah bukan masanya lagi bagiku untuk mengidolakan hal2 spt itu. Tapi untuk menonton drama korea bukan hal yg baru lagi bagiku. Karena sejak akhir masa perkuliahan dulu drama korea sudah ditayangkan di tv, dan aku menyukainya hingga sekarang. Dan untuk beberapa drama musikal, aku mengoleksi lagu2nya yang memang bagus menurutku, bagus dari segi melodi dan genre musicnya. Apalagi aku menyukai musik tanpa pandang bulu darimana asalnya dan jenisnya apa. Selagi enak di dengar, aku akan mengoleksinya.

Entah sampai kapan negara ini akan terlena dengan mengidolakan hal2 spt ini. Sangat bertolak belakang sekali dengan kisah Pak Habibie yang aku baca. Kebetulan aku baru saja menamatkan baca buku Habibie dan Ainun. Orientasi pemuda masa itu sangat berbeda dengan sekarang, apalagi jika merujuk langsung pada kepribadian dan pencapaian Pak Habibie. Semoga negara ini bisa kembali mencapai kejayaannya spt masa 17 th yg lalu, bahkan lebih hendaknya. Wallahu'alam.

2

Miss You Friend

Posted by Desi on 4:23 PM
Tiba-tiba ada rasa sedih, saat aku membuka blog favoritku, tranquil heart. Sebelumnya sang pemilik blog menyatakan bahwa dia akan berhenti sebentar untuk menulis dan tidak akan meng-update blognya, bukan karena ada sesuatu, tapi karena malas saja. Tapi saat aku mencoba buka blognya hanya sekedar ingin baca-baca tulisannya lagi tiba-tiba aku tidak bisa membuka halaman blognya. Ada permintaan harus ada undangan dulu untuk membaca blognya.

Padahal blog itulah yg jadi inspirasiku untuk menulis dan membuat blog ini. Tulisan-tulisannya memotivasiku dalam berbagai keadaan dan selalu mengingatkanku pada Sang Pencipta. Tapi sekarang untuk membaca-baca tulisannya lagi, meskipun bukan yg baru, pun tidak bisa. Sedih, serasa ada yang hilang. Semoga dirimu cepat kembali. Miss you Wanda...

0

Be Cool and Be Elegant

Posted by Desi on 1:14 PM
Semakin bertambah umur seharusnya semakin dewasa seseorang. Semakin luas pergaulan dan lingkungan sekitar, seharusnya juga membuat semakin dewasa seseorang. Dewasa bukan hanya penampakan luar, tapi juga dewasa dalam pola pikir dan memahami sesuatu, dewasa dalam watak dan karakter.

Dalam lingkungan dan pergaulan yang tidak terlalu luas yang aku alami saat ini setidaknya merupakan pondasi bagiku untuk mempersiapkan diri menghadapi lingkungan yang lebih luas nantinya. Sehingga ketika saat itu tiba, aku sudah siap dan lebih tangguh. Saat ini saja aku sdh melihat ada persaingan-persaingan dan ketidaksukaan yang ditunjukkan. Walaupun bentuknya masih kecil tapi pergerakannya cukup cepat. Ketika hal ini terjadi, aku berusaha untuk belajar lebih tenang dan tidak terpancing emosi. Sebab jika dalam hal yang masih kecil saja aku tidak bisa mengendalikan diri, tandanya aku belum siap untuk masuk ke kawasan yang lebih luas. Karena tantangan di sana tentu lebih besar, lebih kuat dan lebih deras.

Namun cukup lucu menurutku apa yg terjadi saat ini. Aku masih tidak bisa mengerti kenapa ada orang yang tidak menyukai orang lain padahal orang tersebut tidak melakukan sesuatu yang mengganggu mereka. Kenapa hanya dengan tindakan atau pencapaian seseorang yang tidak menyinggung mereka sama sekali justru menimbulkan ketidaksukaan pada orang-orang tersebut. Sehingga mereka melakukan tindakan-tindakan yang berusaha untuk menjatuhkan. Tapi aku hanya bisa kembali pada filosofi bahwa dimana ada orang yang suka tentu banyak juga orang-orang yang tidak suka. Hidup itu akan selalu ada pasangannya atau lawannya, bahkan hingga di akhirat kelak.

Ketika orang yang tidak suka itu menunjukkan secara agresif ketidaksukaan mereka, maka jalan terbaik yg kita lakukan adalah untuk tetap tenang dan tampil dengan anggun. Bawaan tenang dan anggun hanya akan tercapai ketika kedewasaan sudah kita miliki. Yah itu pemikiranku saja, mungkin teman-teman semua belum tentu berpikiran spt itu dan bukan berarti juga aku merasa sudah cukup matang dalam hal kedewasaan berpikir. Pendewasaan adalah proses yg harus terus berlanjut bahkan hingga akhir hayat.

Ketika dua hal ini ditonton oleh orang lain, yaitu tindakan menyerang dan bertahan seperti ini terjadi, maka si penonton akan bisa menilai dan menghasilkan suatu opini sendiri tentang orang-orang yg terlibat dalam lingkaran ini. Pada akhirnya justru si agresif tanpa dia sadari akan mempermalukan dirinya sendiri di hadapan orang lain. Apalagi jika dia adalah seorang public figure, berarti dia menunjukkan kalau dia adalah orang dengan kualitas kepribadian yang rendah. Jika dia tidak segera menyadari dan mengubah pola pikir dan tindakannya, maka sampai kapanpun image jelek akan melekat pada dirinya dan dia hanya akan menjadi tontonan yang lucu dan menarik bagi orang lain. Dan parahnya lagi dia akan menganggap bahwa dia disenangi orang banyak dan merasa begitu tinggi serta penting. Padahal tidak sama sekali, orang hanya mempermainkannya tanpa dia sadari. Sebaliknya bagi pihak yang tetap tenang dan anggun, maka dia akan mendapatkan simpati dan penghargaan yang baik.

Bayangan akhir spt inilah yang menurutku lucu ketika seseorang berusaha menjatuhkan orang lain hanya karena rasa iri dan ingin mendapatkan pencapaian yg sama dengan org lain. Pada akhirnya semoga saja dia merasa lelah sendiri dan menyadarinya atau justru tidak akan pernah sadar karena dia tidak memilih untuk menjadi dewasa. Yah berarti dia akan menjadi aktor yang sangat menghibur bagi orang lain sampai kapanpun. Wallahu'alam.

0

Masa Bersantai

Posted by Desi on 2:14 PM
Sudah 3 minggu ini, sejak berakhirnya uas januari lalu, aku benar2 menyantaikan diri sesantai santainya. Rencana untuk proposal tesis belum aku angsur sedikit pun. Modul yang harus dicetak deadlinenya awal Maret juga masih stuck. Malah buku yang aku sentuh adalah novel2 dan buku2 non keilmuanku yang tidak sempat aku baca saat musim kuliah berlangsung. Bahkan seminggu terakhir ini, setiap malamnya aku isi dengan nonton drama korea yang ditonton oleh anak sekolahan dan mahasiswa2ku. Dua hari yang lalu ketika mahasiswaku datang ke rumah, setelah diskusi ttg PA, kami malah heboh cerita ttg film dan tukaran film. Padahal 3 minggu lagi perkuliahan smt 3 sdh harus dimulai.

Menonton film korea yang konsumsi utamanya adalah remaja sangat menyenangkan meskipun umurku tidak remaja lagi. Melihat kisah cinta remaja spt di film2 tersebut benar2 menghibur, fresh and it so sweet...wish I were in that situation and felt that kind of love too. But its only in a film, not in a real world. Tapi sedikit berkhayal untuk menghibur diri sptnya masih bisa dimaafkan, hehehe...

Tapi sebenarnya efek dari libur ini membuatku sangat ingin jalan2 ke luar kota dan pengen banget kalau bisa keluar negeri. Namun berhubung terkendala dengan masalah keuangan, secara bulan ini baru bayar uang kuliah, tunda dulu deh keinginan itu. Setidaknya bersabar sampai tahun depan, selesaikan dulu kuliah ini, semoga bisa tamat awal tahun depan, aamiin. Saatnya nabung lagi untuk uang kuliah smt berikutnya sekaligus merupakan smt terakhir, semoga saja, aamiin..

Sebenarnya ada hal lain juga yg membuatku tidak ingin pergi jauh2, setidaknya masih berada di pulau ini dengan transportasi ke Padang yg tidak terlalu susah, yaitu aku merasa tidak bisa meninggalkan orang tuaku. Merasa tidak akan menikmati liburan ketika orang tua di rumah dan tidak merasakan kenikmatan yg aku dapati ditempat lain. Ingin bisa membawa beliau berdua kemanapun aku pergi dan dimanapun aku berada. Dan beliau berdua ikut merasakan kebahagiaan yang aku rasakan dan tidak pernah mengetahui kesedihan yang aku rasakan.

8

Ala Klasik

Posted by Desi on 9:37 AM
Ketika aku membeli sabun colek, temanku Hesty berkomentar kalau caraku mencuci masih klasik. Yah...terserah kl menurut org aku masih kuno dalam hal mencuci, tapi itulah kebiasaan yg aku warisi dari orang tuaku. Sehingga aku orang yg berpandangan bahwa mencuci dengan mesin cuci itu tidak bersih. Untuk bagian krah baju, ujung tangan, bagian bawah baju atau ujung kaki celana serta bagian ketiak, butuh treatment lebih dari bagian lainnya. Dan itu tidak bisa didapatkan hanya dengan di gulung-gulung di mesin cuci.

Bicara mengenai cara-cara yg masih kuno, aku jadi ingat banyak hal yg diajarkan dan ditanamkan oleh orang tuaku kepada kami anak-anaknya sedari kecil dulu. Sejak dulu sampai sekarang, kami terbiasa makan bersama dengan cara di hidang. Dulu sebelum ada meja makan, kami makan bersama dengan duduk di lantai mengelilingi makanan yang di hidang di atas seprah makan. Jam makan juga sdh terjadwal, baik siang maupun untuk makan malamnya. Siang jam setengah 12, sebelum masuk waktu dzuhur dan mkn malam lebih awal yaitu jam setengah 6, sebelum masuk waktu maghrib.

Ketika sdh jadwal makan, kami anak2 perempuan di panggil untuk menghidangkan makanan. Kalau kebetulan sedang bermain di luar, berarti kami harus segera meninggalkan permainan itu. Tata cara penghidangan dan penyusunan letak makananpun jadi perhatian. Di mana letak nasi, lauk, piring, gelas, cuci tangan dan air. Bahkan sebelum menghidang, nasi yang sdh masak pun harus di salin dari periuk atau dandang ke cambung (mangkok besar) nasi. Cara menyalin nasi pun harus benar, nasi tidak boleh berbingkah-bingkah atau bergumpal-gumpal.

Saat makan, orang tua laki-laki dulu yang memulai mengambil nasi. Cara mengambil nasi untuk disalin ke piring pun tidak sembarangan, harus ke arah dalam, kalau tidak nasi akan berserakan ke luar.

Semua kebiasaan itu aku rasakan seperti sebuah kekangan. Karena saat itu teman-temanku tidak ada yg makan bersama, mereka makan sendiri-sendiri kapanpun mereka mau. Sehingga aku iri dengan teman-temanku yang tetap bebas bermain setidaknya hingga jadwal bermain habis yaitu saat maghrib masuk.

Untuk kebiasaan shalat dan aktivitas rohani pun spt itu, beliau berdua mendidik kami dengan keras dan dengan cara kuno.

Namun sekarang, hal itu benar-benar aku syukuri. Jika bukan karena didikan dan disiplin yang keras spt itu, aku tidak akan memahami tata krama atau norma-norma yang sekarang sdh sulit mencarinya. Sekaranglah manfaat itu aku rasakan. Dan pendidikan di rumah itulah yg paling berperan dalam membentuk karakterku.

Hingga pada waktu aku di Makkah, sebelum berangkat wukuf, aku sempatkan dan khususkan meng-sms kakak perempuanku dan mengatakan bahwa betapa bersyukurnya aku, dan seharusnya dia juga merasakan hal itu, bahwa telah dilahirkan dari orang tua kita yang sekarang ini. Betapa terasanya manfaat didikan dan disiplin yang beliau berdua ajarkan, ketika aku berada di tanah suci ini.

Banyak lagi hal lain yang mungkin orang akan berkata, "klasik/kuno sekali cara yang kamu lakukan". Dan hal baik meskipun kuno itu adalah harta yang akan aku wariskan pada generasi berikutnya, Insya Allah.

2

Cara Allah Mengajari

Posted by Desi on 9:34 AM
Jika apa yang kita lakukan telah benar dari awal, berarti kita sdh menguasai dan memahami ilmunya. Tapi jika kita belum menguasai dan memahami suatu ilmu, maka kita akan melewati tahap kesalahan lebih dulu, dan dari kesalahan itulah kita belajar, memahami dan menguasai ilmunya. Mungkin begitulah cara Allah mendidik kita. Wallahualam...

3

Terlalu Kejamkah Saya?

Posted by Desi on 3:20 PM
Pagi tadi jadwal saya mengajar kelas pertama dimulai jam 07.00. Di kelas saya telah membuat aturan dengan mahasiswa bahwa tolerir keterlambatan hanya 10 mnt dari jam 7, jika datang terlambat atau lewat dari jam 7.10, maka tidak boleh masuk.

Semester ini, kelas yang saya ajar setiap hari rabu pagi adalah mahasiswa smt 1. Sejak awal mengajar mereka, ada beberapa anak yang mengalami kejadian tidak boleh masuk di kelas saya karena terlambat. Mahasiswa yang paling sering adalah satu orang anak perempuan. Pertama kali dia datang terlambat, dia terpaksa duduk di luar memperhatikan saya mengajar. Lalu beberapa minggu berikutnya, dia lagi-lagi terlambat. Saat itu dia memelas ke saya untuk masuk, dengan alasan rumahnya jauh. Lalu saya katakan, kalau rumah jauh harusnya berangkat lebih pagi. Padahal ada anak lain yg rumahnya ternyata lebih jauh dari rumah si anak ini, tapi dia bisa datang tepat waktu karena berangkat lebih pagi. Dengan tampang memelas, akhirnya saya katakan bahwa dia boleh masuk asalkan mendapatkan ijin dari teman-temannya, bukan dari saya, dan tetap tidak boleh tanda tangan presensi. Di kampus ini kehadiran sangat berpengaruh untuk syarat bisa mengikuti ujian akhir semester. Akhirnya teman-temannyalah yang mengijinkan untuk masuk, bukan saya.

Lalu minggu besok, lagi-lagi dia terlambat dan lagi-lagi saya marah pagi itu karena jengkel. Dia tidak juga menyadari kesalahannya. Karena hari itu ada kuiz, akhirnya saya ijinkan dia masuk dengan syarat tdk bisa tanda tangan presensi.

Tadi pagi, seorang mahasiswi yang lain terlambat 1 menit. Saya bilang saya tetap berlakukan aturan tidak boleh masuk. Lalu dia mencoba membujuk saya untuk mengijinkan dia masuk, setidaknya seperti temannya yg dulu yang pernah terlambat tapi tetap bisa masuk yaitu dengan cara tidak tanda tangan presensi. Lalu dia juga membuat alasan bahwa ini masih dalam suasana perayaan imlek (kebetulan dia merayakan imlek). Bagi saya itu bukan alasan, sebab ijin untuk imlek sdh diberikan kemaren. Dia juga beralasan bahwa dia baru kali ini terlambat, sebelumnya selalu dtg tepat waktu. Memang mahasiswi ini belum pernah terlambat sebelumnya. Lalu saya tanya apa alasan dia terlambat kali ini. Dia menjawab karena telat bangun. Di kampus ini, telat banggun tidak bisa ditolerir sebagai alasan keterlambatan.

Saat mahasiswi ini masih berusaha membujuk saya, ternyata ada satu mahasiswi lagi yg baru dtg. Dia juga minta diijinkan masuk meskipun tidak tanda tangan presensi, bagi mereka tdk masalah, krn kl hrs pulang lagi rasanya sia-sia. Saya katakan bahwa saya tdk pernah menyuruh mereka untuk pulang.

Akhirnya saya katakan bahwa kalau mereka tetap ingin masuk, minta ijin dulu pada teman2nya, saya serahkan keputusan pada anggota kelas, spt kejadian mhswi yg terlambat sebelumnya. Bagi saya sendiri, tetap memberlakukan aturan yaitu tidak bisa masuk. Lalu mereka melakukan voting, dan saya tidak memperhatikannya. Saya tetap saja menulis di papan dan saya pun tidak berusaha mendengarkan proses voting mereka.

Setelah mereka mendapatkan hasil voting, ketua kelas melaporkan pada saya bahwa ternyata sebagian besar anggota kelas tidak mengijinkan masuk. Akhirnya dengan terpaksa mereka harus keluar kelas.

Setelah itu saya terus berpikir, terlalu kejamkah saya? Apakah saya sdh berlaku tidak adil pada mereka?

2

Allah Selalu Ada Untukku

Posted by Desi on 8:19 AM
Dear Teman,

Jika engkau merasa tidak sanggup menanggung beban yg engkau pikul. Ketika engkau merasa dunia begitu sempit dan begitu kejam kpd mu. Engkau merasa masalahmulah yg paling berat dan disaat itu engkau merasa tdk ada orang yang bisa membantumu, tdk ada org yg peduli padamu, tdk ada satupun orang yg bisa dijadikan sebagai tempat mengadu karena menurutmu mereka tdk akan mengerti akan masalahmu. Maka jgn hal itu meredupkan cahaya dimatamu, jgn sampai hal itu melemahkan tubuhmu, dan jangan engkau biarkan hal itu mematikan harapanmu. Engkau tidak sendiri, engkau tdk pernah ditinggalkan, hanya pikiranmulah yg membuatmu merasa sendiri dan karena pikiranmu sdh begitu, maka engkau merasa itulah kenyataannya sehingga spt itulah yg akan terjadi dan terlihat dimatamu.

Allah selalu ada untukmu teman. Allah tidak pernah meninggalkanmu barang sedetikpun. Allah selalu dekat denganmu, bahkan lebih dekat dari inderamu. Allah tidak pernah dzhalim pada umatNya, hanya umatNya yg mendzhalimi diri mereka sendiri.

Cobalah disaat sendirimu, engkau berbicara dengan Allah. Adukan semua yg engkau rasakan pada Allah. Menangislah jika memang ingin menangis, jgn engkau tahan sedikitpun, karena engkau sedang berbicara dengan Allah. Mengadulah spt engkau seorang anak kecil yg sedang mengadu kepada orang tuanya. Tapi ingat, disaat itu engkau harus yakin bahwa Allah mendengarkanmu, karena memang itulah kenyataannya. Bayangkan Allah ada dihadapanmu. Setelah semuanya engkau keluarkan, setelah engkau merasa airmatamu sdh kering, rasakanlah, renungkanlah dan resapilah apa yg engkau rasakan setelah itu. Semoga hatimu lebih ringan.

Lalu lakukanlah aktivitasmu spt biasa dan lihatlah sekelilingimu, perhatikan setiap kemudahan dan nikmat yg engkau dapati walau sekecil atau sesederhana apapun. Atas setiap kemudahan itu ingatlah Allah. Engkau akan dapati bahwa Allah sayang padamu, Allah tidak pernah melupakanmu dan meninggalkanmu, atau bahkan mendzhalimimu. Pikirkanlah serta renungkanlah dengan seksama bahwa ternyata Allah sedang menjawab doamu, permintaanmu, percakapanmu tadi, apa yang engkau adukan tadi dalam tangismu.

Apapun yg terjadi, selalu yakin dan bisikkan dalam hatimu "Allah sayang padaku dan selalu ada untukku, sehingga hanya pada Nya lah sepantasnya aku mengadu dan menggantungkan harapan, bukan pada makhluk, sehingga aku tidak perlu bersedih dan tidak ada yg harus aku sedihkan".

Maaf jika kata-kataku ini tidak berkenan dihatimu, aku tdk bermaksud mengguruimu, aku hanya membagi apa yg aku rasakan, pikirkan, dan alami, dan semoga ini bisa jadi pengingat bagi diriku dalam setiap kondisiku.

Copyright © 2009 Edelweiss All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.