0

Kusambut Panggilan Mu

Posted by Desi on 7:51 AM
Alhamdulillah aku jamaah termuda di kloterku dan yang tertua berumur 90 th. Waktu baru kenalan dengan teman-teman satu rombongan atau pun satu kloter, pertanyaan pertama mereka adalah "sdh menikah? Pergi dg siapa?". Walaupun sdh bosan mendengar pertanyaan itu, tapi tetap harus kujawab. Lalu ada ibu-ibu yg satu kamar denganku di Makkah bertanya, kenapa pergi haji duluan? Aku maklum dengan pertanyaannya, krn pertanyaan berikutnya adalah "kenapa tdk menikah dulu?". Spontan aja kujawab "karena haji sdh diniatkan sejak awal".

Sejak masih kuliah dulu, aku sdh bertekat kl nanti bekerja, uangnya akan aku tabung untuk pergi haji. Alhamdulillah, sejak bisa mengumpulkan uang dari keringat sendiri, aku sdh menyisihkan dan meniatkan gajiku untuk pergi haji. Namun dalam perjalanannya, banyak godaan untuk menggunakan uang yg telah terkumpul itu untuk hal lain. Sempat waktu pacaran kepikiran untuk menggunakan uang itu sebagai biaya nikah. Alhamdulillah sampai sekarang blm jadi nikah :). Kl sdh nikah, mungkin aku tdk jadi pergi haji. Ternyata niat pertamalah yg didulukan oleh Allah.

Jauh hari sebelum berangkat, malah jauh sebelum aku mendaftar haji, keinginan untuk ke tanah suci sdh sangat kuat kurasakan. Hingga akhirnya bulan Januari 2008 orang tuaku menguatkan tekadku untuk mempersiapkan segala keperluan untuk mendaftar. Padahal waktu itu uangku blm cukup untuk mendapatkan porsi, dg talangan dari orang tua akhirnya no porsi itu kudapatkan. Alhamdulillah sebelum berangkat talangan dari ortu sdh bisa aku lunasi :). Menurut perkiraan harusnya jatah berangkatku di th 2011, tapi Allah yg berkehendak, seruan itu memang untukku di tahun ini, akhirnya aku bisa menginjakkan kaki di tanah suci Oktober lalu. Banyak orang yg kaget, kok bisa cuma menunggu 2 th, sedangkan kebanyakan orang harus menunggu minimal 3 th. Bahkan untuk yg mendaftar sekarang hrs nunggu 8 th. Aku hanya bisa menjawab, Alhamdulillah.. rejekiku dan Allah berkehendak agar aku menjawab panggilan itu.

Alhamdulillah, Labbaika Allahumma Hajja.. Akhirnya niat itu aku lafazkan dengan air mata haru. Dan menjaga pantangan ihram merupakan perjuangan besar. Hingga sekarang masih terbayang suasana di Arafah, ujian yg langsung diperlihatkan Allah saat wukuf, antrian menunggu bus di Muzdalifah dan sesaknya perkemahan di Mina. Semuanya itu membutuhkan kesabaran dan keikhlasan tingkat tinggi. Kl ustad2 sering menasehati jamaahnya untuk membawa 10 karung kesabaran ke tanah suci. Kalau menurutku 10 karung saja tdk cukup, mintalah sama Allah untuk memberikan kesabaran dan keikhlasan seluas langit dan bumi.

Allah benar-benar memperlihatkan "siapa kita" sewaktu di tanah suci. Dan Allah juga menunjukkan bahwa Allah lah Sang Penguasa, Dia lah yg Maha Besar dan hanya Allah yg berhak untuk sombong, bukan manusia. Segala ucapan kita, baik hanya di hati ataupun pikiran, apalagi yg diucapkan dan diwujudkan dg tindakan, akan langsung dapat balasannya. Dan permintaan sekecil apapun akan dikabulkan. Di tanah suci, kita benar2 merasakan betapa kerdil dan tdk berdayanya diri ini.

Seruan dan panggilan Allah untuk berhaji itu sebenarnya sdh ada pada setiap orang, tinggal kita menunggu izin Allah, serta kemauan dari diri sendiri untuk mau menjawab panggilan itu. Berdasarkan cerita-cerita pak ustad, banyak orang yg sdh diseru, dipanggil dan diizinkan oleh Allah, tapi mereka enggan menjawab panggilan itu. Mereka sadar tapi mereka enggan. Wallahu'alam bishawab..

0 Comments

Copyright © 2009 Edelweiss All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.