
Masjidil Haram beda lagi dengan Nabawi. Meskipun lebih kecil dibandingkan dengan Nabawi, ke-Agungannya terasa. Dan meskipun lebih kecil, jangan coba-coba mengatakan ataupun terbersit di hati bahwa Masjidil Ha

ram kecil, karena Insya Allah anda bisa tersesat setelah itu.
Pertama melihat Haram, leb

ih terkesima lagi, spt melihat bangunan kastil di atas bukit batu. Sekelilingnya bangunan hotel dan bukit batu yg di atasnya didirikan bangunan ru

mah masyarakat.
Pengalaman yg paling berkesan adalah saat pertama melihat Ka'bah. Masya Allah, akhirnya aku sampai juga di hadapan Ka'bah ini. Merinding dan meneteskan air mata melihatnya. Foto Ka'ba

h ini aku ambil saat hujan lebat di Makkah. Ratusan orang tetap thawaf meskipun hujan lebat disertai petir. Dilantai sekeliling Ka'bah sdh dibanjiri air.
Foto Ka'bah yg kedua ini aku ambil setelah shalat subuh. Di foto ini sedang padatnya ummat melaksanakan thawaf. Dan sebelum meninggalkan Makkah, aku sempat berfoto di dekat Ka'bah, sebelum shalat Ashar. Kebetulan orang yg duduk untuk shalat belum rame.
Alhamdulillah aku bisa menyentuh dinding Ka'bah dua kali. Dinding Ka'bah hangat dan harum. Kain penutup Ka'bah atau yg disebut Kiswah ternyata tidak berwarna hitam polos. Kal

au dilihat dari jauh sptnya hanya hitam polos, tapi sebenarnya pada kain yg hitam itu terdapat tulisan-tulisan Allah dan Syahadat. Benang-benang kuning yg membentuk ukiran2 khaligrafi di Kiswah terbuat dari benang emas. Pancuran di atas nya juga terbuat dari emas. Sedangkan pintu Ka'bah terbuat dari emas murni dengan berat 286 kg.
Masjidil Haram punya lebih banyak pintu dibandingkan dengan Nabawi. Dan tidak se modern Nabawi. Supaya tdk tersesat, setiap masuk harus diingat-ingat tadinya masuk dari pintu berapa, kecuali memang sdh hafal arah setiap pintu.
Hajar Aswad ga dapat menciumnya, lagian memang tidak berusaha untuk menciumnya. Sebab kata tem

an, sunat pun tidak. Dan untuk kesana rame, berdesak-desakan dengan orang2 luar yg berbadan besar. Justru dosa yg timbul jika kita perempuan ikut berdesak-desakan dengan laki2 hanya untuk mencium hal yg tidak sunat. Namun yg masih membuatku penasaran adalah shalat di Hijr Ismail. Padahal sdh 3 kali sampai dengan mudahnya tanpa berdesak-desakan di depan pintu Hijr Ismail, ternyata di tutup, ga boleh masuk. Shalat di Hijr Ismail sama dengan shalat di dalam Ka'bah. Semoga suatu saat nanti punya kesempatan untuk menunaikannya. Amin Ya Allah..